Potensi Smartz+ untuk Mengendalikan Hama Penggerek Buah Kakao

Inovasi Teknologi Produk Inovasi

INOVASI PERKEBUNAN – Intensifikasi penggunaan pestisida sintetis mengakibatkan berbagai dampak serius, di antaranya keseimbangan ekosistem lahan pertanian terganggu karena musuh alami hama terbunuh. Keadaan ini sewaktu-waktu dapat mengakibatkan ledakan serangan hama, sehingga petani terpaksa menggunakan pestisida dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari rekomendasi yang diberikan.

Dalam jangka panjang peningkatan konsentrasi pestisida menyebabkan resistensi hama dan gangguan kesehatan petani maupun konsumen. Untuk mengatasi permasalahan tersebut petani sudah saatnya menggunakan pengendali hama yang lebih aman bagi kehidupan, salah satunya menggunakan pestisida nabati.

Smartz+ (Gambar 1.) adalah salah satu pestisida nabati produk Puslitbang Perkebunan, Badan Litbang Kementerian Pertanian berbasis minyak cengkeh dan seraiwangi. Pestisida ini telah diteliti terbukti efektif dipergunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dari golongan Hemiptera seperti Nilaparvata lugens, Helopeltis sp, dan Aphis sp.

Pemanfaatan Smartz+ selain mampu mengendalikan hama juga mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman karena bahan aktif yang disemprotkan ke pertanaman akan terdegradasi dan berubah menjadi pupuk organik. Aplikasi pestisida nabati Smartz+ pada tanaman padi terbukti mampu meningkatkan produksi gabah hingga 1 ton per ha.

Gambar 1. Smartz+ efektif mengendalikan hama pencucuk penghisap tanaman.

Smartz+ juga mampu mengendalikan hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella). Hama ini mulai meletakkan telur pada buah kakao muda dengan panjang sekitar 8 cm. Buah yang terserang akhirnya menunjukkan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluarnya larva.

Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil sehingga biji tidak dapat dipanen dan dimanfaatkan sama sekali (Gambar 2.).

Gambar 2. Buah kakao terserang C. cramerella.

Hasil penelitian pemanfaatan Smartz+ pada tanaman kakao di Sopeng, Sulawesi Selatan membuktikan bahwa pestisida nabati Smartz+ pada konsentrasi 7,5 dan 10% yang diaplikasikan setiap minggu sekali berturut-turut mampu menekan serangan PBK hingga 70 dan 97% (Gambar 3).

Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan insektisida pembanding yaitu Lamda Sihalotrin 25 gr/l yang mampu menekan serangan PBK hingga sekitar 50%. Pengujian ini membuktikan bahwa pestisida nabati Smartz+ dapat mensubstitusi penggunaan insektisida Lamda Sihalotrin 25 g/l yang selama ini dipergunakan secara luas oleh petani setempat.

Gambar 3. Grafik tingkat serangan PBK pada aplikasi pestisida Smartz+.

Keefektifan insektisida Lamda Sihalotrin 25 g/l yang rendah diduga karena C. Cremerella telah resisten terhadap insektisida tersebut. Apabila insektisida akan terus digunakan maka petani harus mengaplikasikan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Perilaku ini menyebabkan paparan bahan kimia ke tubuh petani semakin meningkat sehingga menurunkan kesehatan.

Peran penting pemerintah dalam mengawasi peredaran dan pemakaian insektisida sudah saatnya ditingkatkan. Pemanfaatan pestisida nabati diharapkan menjadi solusi atas permasalahan yang ada khususnya pada petani kakao di Indonesia dalam menghadapi serangan PBK. (Wiratno-Peneliti Puslitbang Perkebunan).

Sumber : Infotek Perkebunan Volume 4, Nomor 12, Desember 2012

img class=”image-style-left alignleft” title=”Smartz1″ src=”../wp-content/uploads/2013/03/Gb1-Wir.jpg” alt=”” width=”60″ height=”80″ //sup

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *