Potensi Pengembangan Lahan Rawa Untuk Tanaman Perkebunan

Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Upaya pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mencapai lumbung pangan dunia 2045 memerlukan langkah terstruktur dan sistematis, mengingat kebutuhan pasar domestik dan dunia semakin tinggi terhadap pangan. Pencapaian produksi pangan melalui pemanfaatan lahan dihadapkan pada berkurangnya luas lahan akibat alih fungsi lahan. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan terobosan untuk memanfaatkan lahan sub optimal terutama lahan rawa. Hal ini sangat beralasan karena diprediksi beberapa dekade ke depan, dunia termasuk Indonesia dihadapkan adanya Indikasi krisis pangan dan energi. Sampai saat ini luas  daratan di Indonesia 191 juta hektar dan luas lahan pertanian 32,4 juta hektar atau 17% dari total area. Dari luasan tersebut masih sangat dimungkinkan untuk pengembangan komoditas pertanian terutama tanaman perkebunan, pangan dan hortikultura.

Indonesia memiliki lahan rawa  yang sangat luas yaitu sekitar 34 juta hektar lahan rawa pasang surut dan lahan rawa lebak. Potensi ini sangat besar dan baru dimanfaatkan 56% untuk pangan dan energi. Perlu teknologi khusus untuk mengoptimalkan pemanfatannya. Jika salah dalam penanganan, berdampak pada merusak tata kelola lahan. Regulasi yang ada juga belum terimplementasikan dengan baik. Pemanfaatan lahan rawa masih berfokus pada tanaman pangan (Program SERASI). Tanaman perkebunan belum menjadi fokus padahal beberapa tanaman perkebunan juga potensial dikembangkan di lahan rawa. Oleh karena itu perlu pengembangan kebijakan yang efektif dan sinergis mendukung pengembangan komoditas tanaman perkebunan di lahan rawa dimasa mendatang.

Selain itu, pengelolaan dan pemanfaatan lahan rawa diperlukan pendekatan teknis dan non teknis yang komprehensip dalam rangka merealisasikan program Kementerian Pertanian yaitu Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI). Upaya untuk menggali pemikiran dan konsep program SERASI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Potensi Pengembangan Lahan Rawa untuk Tanaman Perkebunan”, Senin 21 Oktober 2019 di Puslitbangbun.

FGD menghadirkan narasumber yang sangat berkompeten di bidang pengelolaan lahan rawa, diantaranya adalah: Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (Status dan Tata Kelola Pengembangan Lahan Rawa),  Direktur Tanaman Tahunan Dan Penyegar Dirjenbun (Kebijakan Pengembangan Perkebunan di Lahan Rawa), Dinas Perkebunan Sumsel (Lesson Learn Pengembangan Rawa), Direktur Perluasan Perlindungan Lahan Ditjen PSP dan pakar gambut Prof. Dr. Supiandi Sabiham M.Agr. (Kebijakan Pengelolaan Lahan Rawa).

Kepala Puslitbangbun Ir. Syafaruddin, Ph.D memberikan arahan dan membuka kegiatan FGD yang dihadiri pejabat struktural, Kepala Balittri, Balittro, Balittas dan Balit Palma dan kelompok peneliti Puslitbangbun. Dalam arahanya, Kapus menyatakan mendukung penuh program SERASI yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pertanian terutama di provinsi Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan seluas 500 ribu hektar. Syafaruddin berharap, program SERASI dilanjutkan dimasa mendatang tidak hanya untuk pengembangan komoditas tanaman pangan, namun juga tanaman perkebunan. Puslitbangbun telah menghasilkan berbagai varietas unggul baru (VUB) tanaman perkebunan dengan dukungan teknologi budidaya yang handal. Pada akhir arahanya, Kapus berharap hasil FGD akan menghasilkan policy brief terutama dalam pengembangan tanaman perkebunan dilahan rawa melalui sistem integrasi dengan tanaman pangan. Hal tersebut sangat penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah petani, tegas Syafaruddin.

FGD bertujuan  untuk mendapatkan masukan dari berbagai stakeholder baik pemerintah dan swasta terhadap rekomendasi kebijakan yang akan dihasilkan yang meliputi; (1) penyediaan teknologi spesifik lahan rawa, (2) perlunya zonasi komoditas tanaman perkebunan di lahan rawa berdasarkan pertimbangan sosial ekonomi dan tipologi lahan, (3) pembangunan atau penguatan infrastruktur pendukung, (4) sistem pengendalian AMDAL, (5) serta kebijakan pemerintah tentang pedoman program SERASI yang perlu mengakomodir komoditas perkebunan baik jangka pendek, menengah dan panjang. (Sae)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *