Potensi Kopi Arabika di Pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan

Artikel Kopi Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Latimojong adalah nama gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Gunung Latimojong dengan ketinggian mencapai > 3.400 m dpl menjadi terkenal ketika pesawat terbang Aviastar ditemukan sudah menjadi puing di salah satu lokasi. Namun, di balik kisah kelam tersebut, Gunung Latimojong menyimpan potensi sosial ekonomi yang tinggi, yaitu kopi Arabika.

Bupati Luwu, Ir. H. Andi Mudzakkar, MH,  bercita-cita suatu saat wilayah pegunungan tersebut berubah menjadi kawasan agrowisata yang mendatangkan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakatnya. Salah satu potensi  yang sedang sedang dikembangkan saat ini adalah kopi Arabika di Desa Boneposi, Ulusalu, Tibussang, dan Lambanan.

Akhir-akhir ini mulai dikenal produk kopi unik dari daerah tersebut yang diberi nama ”kopi Bisang”, meskipun belum ada penjelasan ilmiah mengenai hewan sejenis musang yang disebut Bisang tersebut.

Wilayah pegunungan Latimojong yang berada pada ketinggian > 1.000 m dpl dengan curah hujan rata-rata > 2.000 mm per tahun dinilai cocok untuk budidaya kopi Arabika. Hanya saja, budidaya kopi Arabika oleh petani di empat desa tersebut pada umumnya masih belum menerapkan teknologi anjuran sehingga produktivitas dan mutu hasilnya belum optimal.

Varietas kopi Arabika yang disukai petani saat ini diduga berasal dari galur Catimor dengan ciri-ciri perawakannya pendek (katai), dompolan buah rapat, dan relatif cepat berbuah. Meskipun demikian, masih terdapat populasi varietas Typica yang sudah dikembangkan sejak masa kolonial Belanda dengan kondisi yang umumnya dibiarkan tidak terawat.

Bagi petani kopi, masalah utama yang dihadapi dalam produksi kopi adalah serangan hama dan penyakit. Hama penggerek buah kopi (PBKo), intensitas serangannya mulai meresahkan. Akibat serangan hama tersebut biji kopi yang dipanen banyak yang rusak berlubang hingga membusuk sehingga menurunkan mutu hasil dan harganya rendah.

Petani sangat mengharapkan inovasi teknologi pengendalian hama dan penyakit kopi yang efektif dan murah agar dapat menekan kehilangan hasil secara maksimal. Penggunaan pestisida kimia dikhawatirkan akan menimbulkan resistensi hama dan penyakit, meninggalkan residu kimia berbahaya pada produk, serta mencemari tanah dan air.

Peran institusi Badan litbang Pertanian sangat diperlukan dalam penyediaan teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi yang ramah lingkungan.

Gambar. Contoh varietas kopi Arabika yang dikembangkan di pegunungan Latimojong.

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (BALITTRI)

Info terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *