Potensi Bakteri Pektinolitik dan Lignolitik dalam Proses Retting Kenaf

Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Kenaf (Habiscus cannabinus L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peluang besar untuk menghasilkan devisa. Serat tanaman ini dapat dipergunakan untuk bahan baku pulp dan kertas, geotekstil, doortrim, fibre, drain, karpet, hardboard, dan berbagai perangkat rumah tangga seperti daun pintu, kusen, jendela, particle board, handicraft, dan karung goni.

Disamping multiguna, kenaf juga termasuk komoditas ramah lingkungan karena mudah terdegradasi dan selama pertumbuhannya dapat menangkap karbondioksida (CO2) di udara sehingga dapat mengurangi pencemaran udara.

Keunggulan komoditas kenaf adalah berumur pendek (4-5 bulan), mampu beradaptasi di berbagai lingkungan tumbuh marginal seperti lahan banjir, podsolik merah kuning, gambut dan tadah hujan. Serat tanaman kenaf dapat dimanfaatkan setelah melalui proses retting yang benar.

Proses retting secara biologi menghasilkan serat dengan kualitas yang lebih bagus daripada serat hasil retting secara mekanis dan kimiawi. Selain itu, serat hasil retting biologi dilaporkan lebih seragam dan lebih mengkilap. Selama ini, proses retting kenaf masih banyak menemui kendala.

Proses retting yang biasa dilakukan petani dirasa kurang efektif dan efisien, karena membutuhkan waktu terlalu lama, memerlukan lahan berair yang cukup luas, serta sisa air retting dianggap mengganggu lingkungan. Petani retting, biasanya melakukan retting kenaf dengan cara merendam tanaman kenaf di tempat-tempat yang biasa tergenang air hujan, sehingga proses retting kenaf sangat bergantung pada alam. Hal ini yang membuat produksi serat kenaf khususnya di Indonesia masih sangat terbatas.

Mengingat kondisi cuaca sangat tidak menentu, sehingga terkadang kenaf yang telah ditanam akan terbuang sia-sia jika musim kering berkepanjangan. Keterbatasan lahan untuk perendaman kenaf, serta bau busuk yang ditimbulkan selama proses retting dirasa sangat mengganggu.

Retting kenaf yang dilakukan secara tradisional oleh para petani merupakan retting biologi yang memanfaatkan bakteri. Proses retting biologi ini berjalan secara alami tanpa kendali sehingga serat yang dihasilkan juga tidak seragam kualitasnya. Untuk itu, proses retting biologi yang terkendali memberikan harapan untuk memperoleh serat dengan kualitas yang lebih seragam.

Dalam produksi serat kenaf, jenis retting, durasi retting dan spesies bakteri yang digunakan dalam proses retting sangat berpengaruh terhadap kualitas serat seperti kekuatan dan kehalusan seratnya.

Untuk itu, perlu kiranya dicari suatu metode penyeratan yang lebih efisien, tidak memerlukan tempat perendaman yang luas, menghasilkan mutu serat yang seragam dan berkualitas, serta murah, sehingga dapat bersaing dengan plastik. Waktu retting yang optimal akan menghasilkan serat yang baik, karena bakteri yang ada hanya menghancurkan lignin dan pektin sebagai bahan-bahan pengikat serat pada selulosa, sehingga akan membantu membebaskan serat dari batang.

Proses retting kenaf secara biologi biasa memanfaatkan mikroorganisme. Bakteri-bakteri yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi pektin (bakteri pektinolitik) antara lain Achromobacter sp, Aeromonas sp, Arthrobacter sp, Agrobacterium sp, Enterobacter, Bacillus sp, Clostridium sp, Erwinia sp, Flavobacterium sp, Pseudomonas sp. dan Xanthomonas sp., sedangkan bakteri pendegradasi lignin (bakteri lignolitik) untuk saat ini masih sulit ditemukan karena komponen lignin merupakan komponen yang susah didegradasi secara sempurna oleh bakteri kecuali jamur lapuk putih. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk memanfaatkan bakteri lignolitik seperti Micrococcus sp. dan Bacillus sp.

Hasil penelitian di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, menunjukkan bahwa air rendaman kenaf sangat kaya akan bakteri-bakteri yang berpotensi mempercepat proses retting kenaf. Pemberian bakteri indigenous air rendaman kenaf terbukti dapat mempersingkat waktu retting dari 30-40 hari menjadi hanya 9-14 hari. Bakteri yang berhasil diisolasi merupakan bakteri indigenous yang sangat berpotensi di dalam proses retting kenaf karena memiliki multipotensi sebagai selulolitik, pektinolitik dan lignolitik. Isolat bakteri ini nantinya, diharapkan dapat membantu melepaskan serat yang terikat dalam selulosa dengan menghancurkan pektin yang mengikatnya. Bakteri indigenous digunakan dengan harapan lebih mudah untuk beradaptasi terhadap lingkungan karena memang berasal dari lingkungan yang sama, sehingga akan dapat bekerja dengan optimal dan menghasilkan serat yang baik dan maksimal.

Dalam perkembangannya, tidak menutup kemungkinan aplikasi bakteri indigenous ini nanti menggunakan suatu teknologi menjadi bentuk biakan kering yang siap disemprotkan pada batang kenaf (retting kering). Proses retting nantinya bersifat dew retting, sehingga hanya memerlukan sedikit air, menghemat tempat, meminimalkan polusi yang dapat mengganggu lingkungan sekitar dan mudah diaplikasikan oleh petani. Lebih lanjut, pemanfaatan enzim yang di produksi oleh bakteri tersebut dapat diisolasi dan selanjutnya dikemas menjadi produk yang siap diaplikasikan pada batang kenaf, sehingga proses retting akan berjalan lebih terkendali dan tidak menimbulkan bau, karena tidak melibatkan bakteri pembusuk. Akhirnya, proses retting kenaf bukan lagi menjadi suatu masalah yang besar dan kebutuhan akan serat alami dapat dipenuhi dari dalam negeri. (Farida Rahayu/Peneliti Balittas).

Info terkait klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *