Potensi Bakteri Endofit dalam Meningkatkan Mutu Benih Jahe Putih Besar

Artikel Jahe Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Pengembangan tanaman jahe putih besar (JPB) sering kali terkendala ketersediaan benih bermutu yang tidak kontinu. Hal ini disebabkan oleh penyakit layu bakteri akibat serangan Ralstonia solanacearum. Tak main-main, nilai kerugian akibat layu bakteri ini secara nasional mencapai Rp75 miliar per tahunnya (Sitepu, 1991; Supriadi, 2000).

Pestisida nabati atau agens hayati dapat digunakan untuk mengatasinya. Misalnya saja Bacillus pp dan Pseudomonas fluorescens yang menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik di skala laboratorium. Selain itu, ada teknologi pemanfaatan mikroba endofit yang dapat meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan tanaman.

Untuk melihat pengaruhnya, benih JPB direndam selama 8 jam. Perlakuan yang digunakan dalam rendaman adalah Bacillus substilis (A), Bacillus cereus (B), Burkholderia anthina (C), A+B, A+C, B+C, A+B+C, streptomysin (bakterisida), air, dan tanpa rendam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih rimpang selama 8 jam dengan bakteri endofit secara konsorsium bisa mengaktivasi enzim-enzim pemicu hormon pertumbuhan dan mempercepat pertumbuhan tunas.

Meski demikian, produksi hormon ini bervariasi serta dipengaruhi faktor lingkungan, tingkat pertumbuhan, ketersediaan asam amino, sumber N lainnya, dan jenis bakteri yang digunakan. Diduga, B. subtilis memiliki IAA yang lebih rendah dibandingkan bakteri endofit lain sehingga fitohormon yang dihasilkannya juga rendah.

Perendaman benih jahe menggunakan B. substilis baik secara tunggal maupun konsorsium dengan B. cereus atau B. anthina tidak mampu mempercepat inisiasi tunas. Perendaman benih dengan B. substilis dan B. anthina pun tidak dapat meningkatkan vigor benih JPB, berbeda dengan konsorsium bakteri lainnya.

Sementara itu, perendaman benih JPB dengan bakteri endofit yang berbeda menunjukkan hasil yang bervariasi terhadap viabilitas benih. Bakteri B. cereus dapat merangsang pertumbuhan akar, tapi tidak bisa memincu pertumbuhan tunas. Aplikasi B. anthina secara tunggal dapat meningkatkan jumlah tunas, tapi jika digabung dengan B. cereus, kemampuannya menurun.

Penggunaan streptomisin menghambat pertumbuhan tunas sejak awal. Hal ini ditandai dengan daun yang memutih, sehingga fotosintesis tidak optimal.

Presentase terjadinya penyakit layu akibat R. solanacearum sendiri bervariasi antara 38-80%. Kejadian terendah sebesar 38% didapatkan dari perlakuan rendaman B. cereus dan B. substilis. Adapun angka tertinggi diperoleh pada perlakuan benih JPB tanpa rendaman bakteri endofit yang mencapai 80%.

Diduga, efektivitas penekanan penyakit layu bakteri pada jahe berkaitan dengan strain bakteri. Strain berbeda memiliki peran yang berbeda pula pada tahapan pertumbuhan jahe. Konsorsium bakteri endofit (B. cereus dan B. substilis) dapat mengatasi kelemahan satu sama lain dibandingkan jika diaplikasikan secara tunggal. Oleh karena itu, konsorsium ini dianggap prospektif dalam mengendalikan serangan penyakit layu bakteri (Bur/TIm Web).

Sumber : InfoTekbun20-Mutu Benih Jahe Putih Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *