Pola Tanam Konservasi untuk Reklamasi NAD

Inovasi Teknologi

Kajian dan karakterisasi ekosistem yang meliputi jenis tanah, elevasi, dan agroklimat perlu dilakukan untuk menentukan komoditas yang sesuai berdasar zona agro-ekologi setempat dan diminati masyarakat setempat. Kajian dan verifikasi dilakukan dengan metoda Rapid Rural Appraisal (RRA). Dari hasil analisis RRA tersebut akan dilanjutkan kegiatan ke dua dan ketiga dengan memperhatikan kondisi agro ekologi dan sistem perekonomian masyarakat setempat.

Pola Tanam Konservasi Berbasis Tanaman Atsiri Dan Obat Untuk Reklamasi Dan Konservasi Lahan Pasca Tsunami Serta Pemberdayaan Masyarakat Nangro Aceh Darussalam (NAD

Pendahuluan

Bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Di Nangro Aceh Darussalam dan Sumatera Utara telah memporakporandakan tatanan sosial, perekonomian, sumberdaya lahan dan sumberdaya manusia dari pola tatanan kehidupan dan pertanian dalam arti luas. Dilaporkan bahwa luas areal perkebunan yang terkena dampak gempa bumi dan gelombang Tsunami sebesar 98.442 ha atau sekitar 20% dari areal perkebunan yang ada sebelumnya.

Adanya perubahan struktur fisik dan kimia akibat timbunan material yang terbawa oleh gelombang Tsunami pada lahan-lahan pertanian, perkebunan, dan kehutanan telah berdampak buruk terhadap sistem pertanian yang ada khususnya bidang perkebunan yang diikuti oleh berhentinya pola perekonomian masyarakat akibat hilangnya mata pencaharian sebagian besar masyarakat petani Aceh.

Dalam upaya memperbaiki dan memulihkan kondisi lahan yang sesuai untuk pertanian perlu dilakukan analisis agroekosistem dan sosial ekonomi yang dengan upaya reklamasi lahan yang rusak dan konservasinya pada daerah bekas bencana yang umumnya berada di daerah pesisir baik lahan terbuka maupun di bawah tegakan tanaman perkebunan dengan inovasi teknologi yang sudah ada. Penerapan dan pengkajian teknologi budidaya perkebunan akan dilakukan khususnya dalam budidaya tanaman nilam yang merupakan komoditas atsiri unggulan nasional yang berasal dari daerah NAD. Dengan dikembangkan sistem plasma yang melibatkan petani setempat diharapkan akan mempercepat proses alih teknologi sekaligus membangkitkan kembali perekonomian masyarakat Aceh pada umumnya dan petani nilam pada khususnya.

Kerjasama yang baik dan sinergis antara Pemerintah Pusat dan Daerah, antara Peneliti, Penyuluh, Petani, dan Pengusaha yang saling mengisi merupakan dasar utama keberhasilan upaya reklamasi dan konservasi lahan perkebunan akibat gelombang Tsunami serta pemberdayaan perekonomian masyarakat Pesisir NAD.

Rangkaian kegiatan penelitian pengembangan mempunyai tujuan :

Jangka Pendek:

  1. Reklamasi lahan pantai pesisir NAD yang mengalami penurunan kualitas fisik dan kimia akibat dampak bencana gelombang Tsunami.
  2. Memotivasi masyarakat pantai pesisir yang mengalami bencana gelombang Tsunami untuk kembali mendayagunakan lahan pantai melalui aplikasi teknologi farming system berbasis Nilam sebagai komoditas asli dan andalan NAD di masa lalu dan komoditas pangan dan perkebunan lainnya dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

 

Pemanfaatan lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan untuk meningkatkan pendapatan petani

Jangka Panjang :

  1. Meningkatkan kualitas sumberdaya lahan pesisir NAD.
  2. Menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir NAD pada khususnya dan NAD pada umumnya melalui pengembangan agribisnis berbasis tanaman perkebunan.
  3. Meningkatkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)

 

Sasaran :

  1. Meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha di daerah / lahan yang kurang produktif (pantai) dan di bawah tegakan tanaman perkebunan yang ada
  2. Terciptanya model farming system di lahan pesisir pantai NAD dalam skala agribisnis.
  3. Terciptanya iklim agribisnis berbasis perkebunan di lahan pesisir pantai NAD.

Upaya yang harus dilakukan dalam pemulihan kondisi lahan yang sesuai untuk pertanian pada lokasi pesisir pantai NAD eks lokasi Bencana Gelombang Tsunami baik yang terbuka maupun di bawah tegakan tanaman perkebunan dengan luas area penanaman untuk lahan binaan (inti) seluas 25 Ha dan Plasma (tidak dibatasi) mencakup kegiatan: (a) Analisis dan kajian kesesuaian agroekosistem, (b) Pola tanam konservasi berbasis nilam pada lahan pantai yang berpasir, dan (c) Pola tanam Tanaman Atsiri dan Obat (TAO) di bawah tegakan Kelapa/Kelapa sawit/Karet.

 

Analisis dan Kajian Agroekosistem

Kajian dan karakterisasi ekosistem yang meliputi jenis tanah, elevasi, dan agroklimat perlu dilakukan untuk menentukan komoditas yang sesuai berdasar zona agro-ekologi setempat dan diminati masyarakat setempat. Kajian dan verifikasi dilakukan dengan metoda Rapid Rural Appraisal (RRA). Dari hasil analisis RRA tersebut akan dilanjutkan kegiatan ke dua dan ketiga dengan memperhatikan kondisi agro ekologi dan sistem perekonomian masyarakat setempat.

Pola Tanam Konservasi Berbasis Nilam pada Lahan Pantai yang Berpasir

Kegiatan ini melibatkan langsung petani dalam kelompok yang beranggotakan 10 orang. Tiap kelompok tani mengelola 5 ha lahan yang diberlakukan sebagai inti, sedangkan plasma di sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Luas inti (binaan) adalah 25 ha (setara dengan luasnya 15 ha tanaman nilam monokultur) yang melibatkan 5 kelompok tani.

  • Pengadaan 1 unit penyulingan minyak nilam berkapasitas 100 kg bahan baku.
  • Reklamasi lahan dan penanaman tanaman penahan angin potensial (kelapa, cemara pantai, jarak/kenaf, dan rumput gajah).
  • Integrasi kegiatan peternakan sapi (diperlukan 1 ekor sapi per hektar atau 3 ekor domba per hektar).

Pola tanam atsiri dan atsiri di bawah tegakan tanaman perkebunan yang tidak terkena langsung tsunami kajian pola tanam tanaman atsiri dan obat di bawah tegakan pada lahan yang tidak terkena langsung tsunami dilakukan dengan melibatkan petani setempat dalam kelompok yang beranggotakan 10 orang. Tiap kelompok tani mengelola 5 ha yang diberlakukan sebagai inti, sedangkan plasma di sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Luas inti (binaan) adalah 25 ha (setara dengan luasnya 15 ha tanaman nilam monokultur) yang melibatkan 5 kelompok tani.

Selain tanaman atsiri dan obat, pada pola tanam ini dimasukkan beberapa jenis tanaman pangan dan hortikultura seperti kacang tanah, jagung, dan cabai merah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *