Petani Karet Sulit Remajakan Kebun

Artikel Karet Berita Media

Petani karet di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mengeluh tak mampu meremajakan kebun karena tak punya biaya. Akibatnya, hasil karet mereka rendah dan kesejahteraan sulit meningkat. Saat ini, sekitar 19.000 hektar lahan karet di Kabupaten Musi Banyuasin berusia tua.

Para petani karet yang kesulitan memperbaharui kebun adalah petani karet kecil dengan luas kebun antara 1-2 hektar. Usia pohon karet mereka umumnya lebih dari 25 tahun dan hasil produksi terus menurun setiap tahunnya.

 

Pasangaan petani karet dari Dusun IV Desa Pandan Dulang, Kecamatan L awang Wetan, Kabupaten Musi Banyuasin, Herman (55) dan Rokiyah (52) mengatakan, usia pohon karet di lahan seluas satu hektar miliknya telah lebih dari 30 tahun.

“Jumlah getah karet yang dihasilkan kebunnya sangat rendah, yaitu maksimal delapan kilogram karet basah sehari. Kalau pohon karet masih baik kondisinya, seharusnya bisa menghasilkan sampai dua kali lipatnya,” tuturnya, Kamis (7/4/2011).

Pohon karet mulai menghasilkan getah pada usia tujuh tahun. Pada usia 25 tahun, pohon karet perlu diganti dengan bibit-bibit baru agar hasilnya tetap tinggi. Peremejaan kebun karet membutuhkan biaya tinggi, yaitu sekitar Rp 20-25 juta per hektar. Biaya ini meliputi penanaman bibit hingga perawatan selama tujuh tahun hingga kebun karet menghasilkan.

Hal yang sama diutarakan petani karet Desa Bandar Jaya, Kecam atan Batanghari Leko, Musi Banyuasin, Wati (40). Hingga saat ini, Wati belum bisa meremajakan kebun karetnya seluas sekitar satu hektar yang juga telah berusia lebih dari 25 tahun.

Karena hasil kebunnya sendiri sangat minim, Wati mencari penghasilan utama menjadi petani penyadap di kebun milik petani besar di desanya dengan sistem bagi hasil.

“Dari menyadap di kebun orang, sebulan saya dapat sekitar Rp 2 juta tiga bulan terakhir ini. Sebelumnya, dapatnya tak lebih dari Rp 1 juta sebulan,” ucapnya.

Baik Wati maupun Herman dan Rokiyah mengaku tak punya uang untuk meremajakan kebunnya. Mereka kesulitan mencari pinjaman dari bank karena tidak mempunyai jaminan yang memadai.

Sebagian besar petani karet di Musi Banyuasin yang jumlah totalnya mencapai 98 ribu kep ala keluarga itu juga belum tergabung dalam kelompok tani maupun koperasi yang dapat memudahkan memperoleh tambahan modal bertani.

Selama ini, mereka juga belum pernah memperoleh bantuan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kebun karet. Rendahnya getah yang dihasilkan oleh pohon karet tua membuat petani karet skala kecil kesulitan meningkatkan kesejahteraan.

“Meskipun harga karet saat ini tinggi, hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum bisa untuk menabung,” tutur Rokiyah.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Banyuasin, Rusli mengatakan, untuk membantu peremajaan kebun karet rakyat, pemerintah daerah sebenarnya telah mengadakan program satu juta batang bibit karet sejak tahun 2009.

Selain itu, terdapat pula program nasional pinjaman bunga ringan khusus revitalisasi kebun karet dengan jumlah pinjaman Rp 23 juta untuk tiap hektar kebun karet. Namun, kata Rusli, banyak petani belum dapat mengakses bantuan pinjaman ringan yang disediakan bank ini.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *