Peran Strategis Atase Pertanian dalam Mendongkrak Ekspor Komoditas Perkebunan

Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Ekspor produk berbasis komoditas perkebunan merupakan penyumbang devisa negara terbesr. Optimalisasi ekspor perlu diupayakan melalui beberapa langkah, antara lain dengan mengekspor produk jadi yang berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi, serta memenuhi ketentuan pasar global; menjaga kontinuitas produksi bahan baku baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mencari target pasar baru, dan mencari solusi terhadap non-tariff barrier. ATANI yang bertugas di beberapa negara tujuan ekspor diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan volume dan nilai ekspor serta mencari peluang substitusi komoditas impor.

Kegiatan “Singkronisasi Program dan Evaluasi Kinerja Atase Pertanian”, telah dilakukan oleh Biro Kerjasama Luar Negeri (KLN), Sekretariat Jenderal Kementan pada tanggal 6-8 Februari 2019 di Hotel Bintang Bali Resort, Kuta, Bali. Hadir pada acara tersebut ATANI Brussels, ATANI Tokyo, ATANI Washington DC, dan ATANI Roma, para pejabat di Kementerian dan Lembaga, Balitbangtan, Puslitbang Perkebunan yang diwakili oleh Kabid KSPHP Ir. Jelfina C. Alouw, M.Sc., Ph.D., Pemda Propinsi Bali dan para pelaku usaha serta Asosiasi beberapa komoditas strategis.

Kepala Biro KLN Dr. Ade Candradijaya, dalam sambutannya menyampaikan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah dalam rangka evaluasi terhadap kinerja ATANI serta upaya meningkatkan kerja sama di bidang pertanian, promosi dan investasi komoditas pertanian unggulan Indonesia serta analisis kebijakan pertanian di Negara-negara penugasan ATASE Pertanian dan wilayah observasinya.

Program dan capaian kinerja serta hambatan ekspor dan saran penyelesaian masalah dipaparkan oleh masing-masing ATANI. Para evaluator yang terdiri atas Direktur PPH Peternakan, Direktur PPH Hortikultura, dan Direktur PPH Tanaman Pangan, menyampaikan pentingnya pemenuhan kebutuhan lokal disamping peningkatan ekspor, dan strategi substitusi komoditas impor serta perlunya mengetahui strategi yang dipakai oleh negara-negara lain dalam menempatkan mereka pada posisi unggul dalam perdagangan di pasar global.

Hasil paparan dan diskusi mengemukakan tentang sawit yang merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan, namun hambatan ekspor semakin besar akibat isu lingkungan, sosial dan kesehatan. Sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) belum banyak memberikan pengaruh positif yang besar bagi penyelesaian hambatan terutama di negara-negara Eropa tujuan ekspor. Strategi yang tepat perlu dilakukan antara lain dengan melirik pasar potensial di Asia. Disamping itu dipandang perlu dilakukannya sosialisasi penerapan ISPO di Indonesia dan menyetarakan ISPO dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

Komoditas perkebunan lainnya yang dibahas antara lain kopi. Permintaan kopi cenderung naik bukan hanya di pasar lokal Indonesia, tapi juga di pasar dunia. Produk kopi dari Indonesia disukai oleh konsumen luar negeri karena rasanya yang spesial. Namun kopi dan komoditas lain yang diekspor, sering mengalami  hambatan antara lain masalah kontaminasi senyawa berbahaya bagi kesehatan, kurangnya informasi tentang asal-usul materi dan informasi standard lain yang dipersyaratkan serta packaging.  Eropa dan negara-negara maju lain sangat menjunjung tinggi”food safety” atau keamanan pangan. Oleh sebab itu batasan suatu senyawa yang dikandung di dalam produk,  informasi lengkap bahan penyusun dan packaging perlu diperhatikan oleh para eksportir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *