Peran Serta Puslitbangbun Dalam Konsensus Rancangan KKNI Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Dalam upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit Indonesia, maka perlu peningkatan kemampuan SDM di bidang Kelapa Sawit salah satunya melalui penyusunan konsensus rancangan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) Balitbangtan, Kementan, ikut berperan aktif dalam kegiatan Konsensus yang diadakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan di Hotel Grand Zuri BSD-City tanggal 12-13 Agustus 2019 tersebut. Pertemuan ini dihadiri oleh instansi pemerintah, akademisi, praktisi, asosiasi/organisasi profesi dan dunia usaha/dunia industri bidang perkebunan kelapa sawit. Dari Puslitbangbun dihadiri oleh Kepala Pusllitbangbun Ir. Syafaruddin, Ph.D., Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma)  Dr. Ismail Maskromo dan peneliti Puslitbangbun Dr Sri Suhesti. Tujuan penyusunan KKNI ini untuk menentukan level jabatan pada bidang perkebunan kelapa sawit berkelanjutan berdasarkan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri untuk mendapat pengakuan dari pemangku kepentingan. Mekanisme penyusunan ini berdasarkan kesepakatan peserta serta proses validasi melibatkan pemangku kepentingan terkait.

Acara dibuka oleh Kepala Badan PPSDMP, Prof Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. yang dalam arahannya menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara produsen sawit terbesar di dunia. Ini disebabkan karena keunggulan kompetitif dimana sawit adalah komoditas tropis. Tetapi jika ditelaah lebih lanjut maka produktivitas sawit kita relatif masih rendah. Perkebunan sawit kita terdiri dari 45% perkebunan rakyat dengan tingkat produktivitas CPO 2-3 t/ha dan 55% perkebunan sawit yang dikelola oleh swasta dengan tingkat produktivitas CPO 7-8 t/ha sehingga rerata nasional CPO 5 ton/ha. Ini masih dibawah Malaysia yang mempunyai produktivitas CPO 10 t/ha. Dalam upaya meningkatkan produktivitas menjadi 10 t/ha serta untuk mempertahankan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia maka pengungkit utama yang perlu kita perbaiki adalah sumber daya manusia yang bergerak di bidang sawit sebagai para pelaku bisnis dari hulu ke hilir dan tidak hanya mengandalkan sebagai negara tropis. Terkait dengan sumberdaya manusia ini kita harus bisa menghasilkan para praktisi sawit yang kompeten, handal, profesional, berdaya saing tinggi dan mempunyai jiwa enterpreunership yang tinggi. Dengan SDM  yang handal maka infrastruktur dan inovasi teknologi yang ada maupun yang belum ada akan tercipta oleh para pelaku agribisnis yang handal tersebut.

Kementerian Pertanian dalam rangka mendukung rencana Presiden Indonesia akan fokus di lima tahun ke depan dengan pembangunan sumberdaya manusia. Ini harus ada kerjasama yang erat dari para pelaku dari hulu sampai hilir. Ini diperlukan alat bukti yaitu sertifikasi yang diperoleh dari hasil pendidikan, pelatihan dan magang yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang kompeten. Ini perlu kurikulum yang mampu membangun kompetensi para alumninya. Terkait dengan kurikulum ini kerangka kualifikasi nasional sangat diperlukan. Ini memerlukan kesepakatan konsensus dari para ilmuwan sawit, sehingga kurikulum yang disusun akan bisa mendorong terbentuknya sumberdaya manusia pertanian di bidang kelapa sawit yang mampu menghasilkan produk sawit dengan produktivitas tinggi dan mampu mengolah hasil kelapa sawit menjadi CPO dan produk turunannya serta mengekspor ke dunia luar. Oleh karena itu penyusunan KKNI ini merupakan jembatan antara kita dengan dunia usaha dan industri yang membutuhkan SDM yang handal dibidang managerial, teknis dan pemasaran produk ke luar negeri.

Pada kesempatan yang sama Kepala Puslitbangbun Ir. Syafaruddin, Ph.D., dalam sambutannya menyatakan bahwa panduan KKNI ini akan dijadikan acuan untuk kegiatan bimtek maupun pelatihan yang diadakan oleh Puslitbangbun khususnya Balitpalma, sehingga penyampaian materi kepada peserta bimtek atau stakeholder terkait kelapa sawit sudah sesuai dengan konsep pengajaran atau kurikulum tentang perkelapasawitan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Hal tersebut akan memberikan persamaan persepsi dan pola pikir dari para nara sumber, yang akhirnya akan memberikan kejelasan yang pasti dan dibutuhkan oleh stake holder, dunia industri dan usaha.

KKNI yang telah ditetapkan nantinya sebagai bahan dalam penyusunan kurikulum pendidikan dan pelatihan serta skema sertifikasi oleh Lembaga pendidikan dan pelatihan serta skema sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) kompetensi SDM sektor pertanian, sehingga menciptakan link and match  antara dunia pendidikan, pelatihan dan lembaga sertifikasi dengan dunia usaha dan dunia industri. Dengan Konsensus ini, diharapkan mendapat kesepakatan Rancangan KKNI Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan, yang selanjutnya akan diajukan kepada Menteri Pertanian untuk ditetapkan. Acara ditutup oleh Kepala Puslitbangbun mewakili Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.(/Hesti)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *