Perakitan Kapas Hibrida dan Varietas Tahan Hama

Artikel Kapas Inovasi Teknologi Produk Inovasi

INOVASI PERKEBUNAN – Kapas (Gossypium hirsutum) merupakan komoditas penghasil serat alam bahan baku industri tekstil yang mampu menyumbang 15% dari nilai ekspor non-migas Indonesia, tetapi produksi serat domestik untuk mendukung industri TPT kurang dari 1%. Akibatnya, volume impor serat kapas mencapai 450-480 ton per tahun yang setara dengan US$ 600-650 juta.

 

Kapas (Gossypium hirsutum) merupakan komoditas penghasil serat alam bahan baku industri tekstil yang mampu menyumbang 15% dari nilai ekspor non-migas Indonesia, tetapi produksi serat domestik untuk mendukung industri TPT kurang dari 1%. Akibatnya, volume impor serat kapas mencapai 450-480 ton per tahun yang setara dengan US$ 600-650 juta.

Pengembangan kapas dalam negeri menghadapi masalah utama antara lain rendahnya produksi nasional karena serangan hama penghisap wereng kapas, Amrasca biguttula dan komplek hama penggerek buah, serta kekeringan. Rekayasa varietas kapas unggul dengan memanfaatkan aksesi plasma nutfah yang ada belum mampu memberikan lonjakan produktivitas yang nyata. Varietas kapas dengan tingkat produktivitas tinggi, tahan hama, serta mutu serat tinggi selain berpotensi meningkatkan pendapatan petani juga dapat memacu kemajuan dibidang industri tekstil.

Oleh karena itu diperlukan rekayasa varietas kapas yang memiliki ketahanan terhadap hama penghisap A. biguttula melalui mekanisme ketahanan fisik yaitu kelebatan bulu pada daun dan batang, serta perakitan teknik pengendalian secara budidaya antara lain dengan diversifikasi vegetasi dan pengaturan tata-tanam. Selain peningkatan produktivitas melalui perakitan varietas tahan hama, juga melalui pengembangan kapas hibrida. Perakitan varietas kapas hibrida berbasis varietas Kapas Nasional Indonesia (KANESIA) diharapkan mampu memberikan alternatif pilihan varietas kapas unggul dalam rangka peningkatan produksi kapas nasional.

Pada TA 2009 penelitian difokuskan pada perakitan galur-galur kapas unggul tahan A. biguttula dan H. armigera, 5 galur harapan tahan komplek hama penggerek, dan genotipa F3 dan F5 terpilih tahan Amrasca, dan F3 untuk ketahanan terhadap kompleks hama penggerek galur-galur kapas tahan hama penggerek buah, mendapatkan tingkat ketahanan galur unggul terhadap penyakit utama, dan teknik pengendalian kompleks hama penggerek kapas, memperoleh genotipa kapas yang memiliki sifat mandul jantan untuk mendukung pengembangan varietas kapas hibrida Indonesia, dan Mengevaluasi toleransi galur-galur unggul tahan hama terhadap persaingan dengan kacang hijau, kedelai dan jagung, serta mengevaluasi input dan output pada budidaya varietas-varietas kapas tahan A. bIguttulla yang telah dilepas, serta persepsi pengguna terhadap varietas-varietas tersebut.

Adapun hasil penelitian tahun 2009 adalah telah diperoleh benih penjenis enam galur unggul kapas yaitu tiga galur hasil persilangan tahun 98 yaitu 98037, 98045/40/11, dan 98050/9/2/4, dan tiga galur hasil persilangan tahun 1999 yaitu 99022/1, 99002/2, dan 99023/5. Selain itu juga telah diperoleh beberapa galur unggul hasil persilangan dengan KI 645 tahun 2001. Dari kegiatan seleksi diperoleh enam galur yang menunjukkan produktivitas > 3 ton/ha yaitu 04010/4 ( 3.07 ton/ha), 04017/8 (3.09 ton/ha), 04007/2 (3.12 ton/ha), 04011/4 (3.13 ton/ha), 04011/3 (3.21 ton/ha), dan 04011/2 (3.55 ton/ha); selain itu juga telah diperoleh genotipa-gentipa hasil seleksi individu persilangan tahun 2003, 2004, dan 2006

Hasil Uji Ketahanan Galur-galur Harapan Kapas Potensial Terhadap Penyakit R. solani diperoleh 4 galur moderat (M), dan 14 galur rentan (R) tidak termasuk kontrol rentan, dengan kisaran luas serangan antara 24,17 -61,67%. Sedangkan hasil Uji Ketahanan Galur-galur Harapan Kapas Potensial Terhadap Penyakit S. rolfsii diperoleh 17 galur rentan (R) dan 1 galur sangat rentan (SR) tidak temasuk kontrol tahan dan rentan, dengan luas serangan berkisar antara 12,50 – 37,50%. Sistem tanam tumpangsari dapat meningkatkan populasi predator yang berperan dalam menekan populasi P. gossypiella. Teknik pengendalian dengan menggunakan parasitoid telur T. bactrae dapat menekan infestasi larva ke dalam buah sampai dengan masa puncak pembungaan dan menekan kerusakan buah, sehingga produksi kapas berbiji maksimal dapat dipertahankan. Selain itu pengendalian P. gossypiella pada kapas dapat dilakukan secara terpadu dengan pengelolaan habitat, penggunaan parasitoid telur dan penggunaan insektisida botani EBM, jika diperlukan.

Telah diperoleh 8 varietas yang memiliki sifat restorer untuk galur 06050/11(CTX 1 x Kanesia 7). Yaitu Var. 9443, var 9445, var 9446, CTX 2, CTX 4, CTX 5, CTX 6, dan CTX 7. Selain itu, telah diperoleh empat galur hibrida serat panjang P 08019, P 08029, P 08030 dan P 08031 dengan potensi produksi masing-masing adalah 2602, 2560, 2572, dan 2580 kg kapas berbiji per hektar, dan benih BC3 dari 36 persilangan BC3.

Galur kapas yang sesuai pada sistim tumpangsari dengan kacang hijau adalah galur 6 (98050/9/2/4), galur 5 (98045/40/11) dan 2 (990002/2) dengan hasil kapas masing-masing 1940,2 kg/ha, 1535,0 kg/ha, dan 1528,5 kg/ha; dan hasil kacang hijau masing-masing 276,39 kg/ha, 316,90 kg/ha, dan 272,57 kg/ha. Galur kapas yang sesuai pada sistim tumpangsari dengan jagung adalah galur 6 (98050/9/2/4) dan 4 (98037) dengan hasil kapas masing-masing 648,15 kg/ha dan 559,26 kg/ha dan hasil jagung masing-masing 1697,0 kg/ha dan 2048,1 kg/ha. Pengembangan galur no. 5 (98045/40/11) kemudian disusul galur no. 4 (98037) dan galur no. 3 (99023/5) memberikan keuntungan yang cukup signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *