Penyakit Busuk Leher Akar Sclerotium rolfsii pada Tanaman Iles-Iles dan Pengendaliannya

Artikel Obat Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) atau porang sempat dianggap sebagai makanan ular yang tumbuh liar di hutan dan diabaikan keberadaannya. Namun, siapa sangka jika potensi ekonominya cukup tinggi, bahkan sampai diminati pasar ekspor seperti Tiongkok, Australia, dan Jepang.

Di Jepang, tepung umbi iles-iles dimanfaatkan sebagai bahan baku konyaku dan shirataki, serta pengganti agar-agar dan gelatin. Selain itu, tanaman ini juga dapat digunakan sebagai pengganti beras karena kaya karbohidrat kompleks dan serat, juga tidak mengandung kolesterol.

Melihat nilai ekonominya yang tinggi, tak heran kalau iles-iles mulai banyak dibudidayakan oleh petani. Sayangnya, dalam proses budidaya, ada beberapa kendala yang sering muncul, di antaranya berupa serangan hama dan penyakit tanaman.

Salah satu penyakit utama yang sering menyerang iles-iles adalah busuk leher akar akibat jamur Sclerotium rolfsii. Jamur ini merupakan cendawan tular tanah yang dapat menginfeksi lebih dari 500 jenis tanaman dan sekitar 100 famili, terutama di daerah beriklim hangat dan punya kelembapan tinggi.

Pada iles-iles, R. rolfsii bisa menyerang pada setiap fase pertumbuhan tanaman, namun lebih sering dijumpai sebelum pemanenan. Gejala serangan ditandai dengan busuk pada pangkal leher akar yang menjalar sampai tangkai daun. Tangkai daun akhirnya rebah, membusuk, tanaman pun layu dan mati. Jamur ini juga menyebabkan umbi membusuk sehingga menurunkan produksi, kualitas, dan kuantitas.

Di lapang, R. rolfsii dapat dikenali dari munculnya miselium putih pada tanaman. Pada serangan lanjut, terdapat sklerotia yang merupakan gumpalan-gumpalan hifa berwarna putih, lalu berubah warna menjadi cokelat berbentuk bulat-lonjong dengan ukuran 2-3 mm.

Untuk mengendalikannya, ada beberapa teknik yang bisa digunakan seperti budidaya, biologi, dan kimia. Pengendalian melalui teknik budidaya dilakukan dengan menggunakan bahan tanam bebas penyakit, menghilangkan tanaman yang terinfeksi, dan meningkatkan drainase.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan mulsa jerami padi atau limbah organik lain, aplikasi pestisida nabati ke tanah, dan mengurangi frekuensi penyiangan untuk menghindari cidera pada tanaman. Selain itu, perlakuan benih dengan Carboxin dapat menurunkan tingkat kejadian penyakit sebesar 10-30%.

Pengendalian biologi menggunakan Trichoderma sp, Bacillus subtilis, B. cereus, dan T. asperellum juga memiliki efektivitas serupa dengan perlakuan Carboxin. Sementara itu, pengendalian kimia dapat dilakukan dengan membasahi tanah menggunakan kaptan 0,2%. (Bur/Tim Web)

Sumber : InfoTekbun20-Penyakit Tanaman Iles-Iles dan Pengendaliannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *