Penggerek Pucuk Tebu : Hama Penting Tanaman Tebu

Artikel Tebu Berita Perkebunan

Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman yang saat ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena tanaman tebu digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula. Kebutuhan gula di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun dan belum mampu dipenuhi hingga saat ini. Salah satu kendala dalam budidaya tebu adalah adanya serangan berbagai jenis hama disepanjang pertumbuhan tanaman.

Luas areal tanaman tebu di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 436.500 ha dengan produksi gula nasional sebesar 2.668.427 ton, sedangkan total serangan penggerek pucuk tebu di Propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur yang dilaporkan mencapai 111.982,08 ha dan kerugian hasil diperkirakan mencapai Rp.163.531.890,-.

Kerugian yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir dapat mencapai 75%.  Lebih dari 100 jenis hama yang menyerang tebu. Sebagian besar hama tersebut berasal dari jenis serangga. Jenis serangga yang menyerang tebu diantaranya adalah hama penggerek tebu.

Hama penggerek merupakan hama yang paling merugikan pada tanaman Graminae di seluruh dunia. Hanya tebu di Australia dan Fiji yang bebas dari serangan penggerek yang ganas. Penggerek termasuk dalam ordo Lepidoptera, yang terdiri dari ngengat (sayap berwarna kusam) dan kupu-kupu (sayap berwarna warni dan cerah).

Penggerek dari jenis Lepidoptera biasanya menimbulkan kerusakan paling besar dibandingkan dengan penggerek dari jenis Coleoptera. Bagian tanaman yang diserang, ngengat penggerek dibedakan atas penggerek pucuk, penggerek batang, penggerek tunas, dan penggerek akar. Penggerek tunas kadang juga menjadi penggerek batang jika menyerang tanaman tua.

Jenis penggerek tebu yang sering merusak dan menimbulkan kerugian yang cukup besar salah satunya adalah penggerek pucuk tebu (Scirpophaga excerptalis). Hama ini dapat ditemui di beberapa negara di Asia Tengah hingga Tenggara, Papua Nugini, dan Indonesia.

Di Indonesia hama ini dilaporkan pernah menyerang di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Hama ini merupakan hama penting pada tanaman tebu. Selain menyerang tanaman tebu dapat pula ditemukan menyerang pada beberapa tanaman lain diantaranya adalah mangga, rumput liar, padi, sorgum, dan gandum.

Pada tanaman tebu serangan S. excerptalis mampu menyebabkan penurunan hasil panen  tanaman tebu sampai dengan 51%. Serangannya juga mampu menurunkan bobot tebu dan panjang tebu berturut-turut sebesar 30,08% dan 24,39%.

Serangan S. excerptalis merupakan penggerek yang paling utama penyebab mati puser dibandingkan penggerek lainnya. Serangan penggerek menyebabkan mati puser pada tanaman muda dan tua. Tanda serangan hama penggerek ini terlihat dari aktivitas ulat pada helaian daun karena serangannya lebih banyak menyerang pada bagian daun dibandingkan dengan bagian batang.

Ulat yang berwarna putih kekuningan membuat lubang gerekan melintang, menyebabkan beberapa lubang pada helaian daun,  membuat lorong gerek di ibu tulang daun dan lubang keluar ngengat dengan lorong gerek lurus ke atas.

Tanaman yang terserang akan  menunjukan  bentuk yang tidak teratur dan terlihat menguning  pada beberapa bagian daun yang terserang. Ulat lama kelamaan akan menyerang pada titik tumbuh dan melanjutkan membuat terowongan pada batang utama pada tanaman tebu yang terserang tersebut.

Ciri ngengat penggerek ini memiliki warna sayap depan dan belakang berwarna putih. Ngengat betina memiliki cirri spesifik terdapat spot warna merah pada bagian ujung perutnya.

Gambar 1. Gejala serangan S. excerptalis pada pucuk tebu: (A), ulat S. excerptalis (B), S. excerptalis yang bersembunyi pada pada pucuk tebu (C), gerekan lurus dari pucuk ke titik tumbuh akibat serangan S. excerptalis (D).

Warna merah ini tidak dapat ditemui pada jenis Scirpophaga lainnya. Ngengat betina S. excerptalis meletakan telurnya secara berkelompok pada bagian bawah daun. Telur diselimuti dengan rambut-rambut berwarna coklat kekuningan yang berasal dari bagian anal dari tubuh induknya (Heri Prabowo dan Supriyadi/Balittas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *