Pengendalian Hama Aspidiotus destructor secara hayati pada Tanaman Kelapa di Kabupaten Ende, NTT.

Artikel Kelapa Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Tanaman kelapa di Kabupaten Ende, mulai tahun 1997/1998 dilaporkan terserang hama kutu perisai Aspidiotus destructor. Hama ini seperti terlihat pada gambar 1, berwarna kuning dan mempunyai perisai. Perisai terbentuk setelah larva mulai menetap pada suatu tempat. Proses pembentukan perisai berlangsung singkat sekitar 12 jam.

Awalnya perisai masih berupa benang sutra kemudian akan membentuk perisai yang kompak akibat pergerakan larva. Kemampuan reproduksi dan keunikan proses parthenogenesis yang dimiliki menyebabkan hama ini dapat berkembang dengan cepat di lapangan.

Serangan hama A. destructor ditunjukkan pada gambar 2 di atas. Hama ini mengisap cairan daun sehingga daun berbercak kuning dan toksin yang dikeluarkan hama menyebabkan jaringan daun di sekelilingnya akan mati. Daun yang diserang terutama bagian bawah daun, tetapi tangkai daun, mayang, dan buah muda dapat juga diserangnya. Pada serangan berat, permukaan daun tertutupi oleh kutu sehingga dapat menyebabkan daun memendek, menjadi kering dan kemudian rontok sehingga kelapa tidak berproduksi. Apabila seluruh daun terserang maka mahkota daun akan habis dan tanaman tidak akan menghasilkan buah.

Serangan hama ini dapat mengakibatkan kerusakan tanaman kelapa yang cukup berat, bahkan sebagian dapat mencapai 100 %. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman kelapa 64.45 % karena serangan hama ini. Terdapat hubungan antara kerusakan tanaman dengan penurunan produksi kelapa. Kerusakan tanaman sekitar 60 % saja dapat menimbulkan penurunan produksi kelapa sekitar 80 %.

Pengendalian hayati hama A. destructor di Kabupaten Ende ini telah dilakukan dengan cara mengintroduksi musuh alaminya yaitu kumbang Chilocorus politus (Mulsant.) pada tahun 2002. Serangga ini dikoleksi dari daerah serangan hama A. destructor di Yogyakarta. Setelah aplikasi selama dua tahun, pengendalian hayati tersebut dinyatakan berhasil dengan luas serangan hama menurun dan tingkat serangan ringan.

Pengendalian menggunakan musuh alami merupakan salah satu usaha pengendalian yang ramah lingkungan. Selain itu dapat menjaga populasi hama tetap berada di bawah ambang kendali sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Sampai tahun 2012 dan 2013 populasi hama A. destructor masih dapat ditemukan di Kabupaten Ende termasuk musuh alaminya yaitu kumbang C. politus (Mulsant.) tetapi populasi hama tidak menimbulkan serangan yang merugikan tanaman kelapa.

Kumbang C. politus (Mulsant.) termasuk dalam famili Coccinellidae yang sering disebut kumbang buas, dengan corak warna kuning merah dan berdiameter tubuh 4 mm, larvanya berwarna agak kehitaman. Siklus hidup kumbang C. politus (Mulsant.) selama 6-7 minggu (dari telur sampai bertelur kembali) dan dapat memangsa 8.400-10.900 ekor hama A. destructor selama siklus hidup setiap kumbang C. politus (Mulsant.).

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Palma (Indonesian Palmae Research Institute)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *