Pengendalian Erosi dan Penyakit Lincat pada Tembakau Temanggung

Artikel Tembakau Inovasi Teknologi

Lahan-lahan tembakau temanggung mempunyai kemiringan 15-60%, dengan tekstur tanah lempung, lempung berdebu dan lempung berpasir. Lahan-lahan tersebut berlokasi di daerah dengan iklim B, curah hujan 2.200-3.100 mm/tahun, dengan distribusi jumlah bulan basah 8-9 bulan dan jumlah bulan kering 2-3 bulan.

Komponen paket teknologi pengendalian erosi dan penyakit lincat terdiri atas rumput setaria, tanaman flemingia, rorak, varietas tahan penyakit lincat (Kemloko 2 dan Kemloko 3), serta mikrobia antagonis Aspergillus cereus dan Bacillus cereus.

Rumput setaria ditanam pada bibir teras/tampingan atau guludan; tanaman flemingia ditanam pada bidang vertikal tampingan teras, serta rorak sebagai penjerap tanah yang tererosi dibuat di dasar saluran teras. Pengolahan tanah untuk tanam tembakau dilakukan secara minimal (yaitu dengan cara langsung meninggikan guludan yang sudah ada dan pembersihan gulma) tanpa pencangkulan dalam di seluruh lahan (yang biasanya dilakukan petani sebelum membuat guludan).

Pada bidang olah, ditanami varietas Kemloko 2 dan 3 yang tahan terhadap penyakit lincat (yang disebabkan Pada bidang olah, ditanami varietas Kemloko 2 dan 3 yang tahan terhadap penyakit lincat (yang disebabkan kompleks patogen Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, dan Melodogyne spp). Sebelum tanam, lubang tanam disemprot dengan mikrobia antagonis Aspergillus cereus dan Bacillus cereus.

Teknologi pengendalian erosi dan penyakit lincat dapat menurunkan tingkat erosi sebesar 66%, menekan kematian tanaman sebesar 44%, serta meningkatkan hasil dan mutu tembakau masing masing sebesar 31% dan 8%.

Paket ini telah diuji di lahan petani seluas 30 ha, dan mendapat respon yang positif dari petani kooperator.

 

Teknologi Peningkatan Mutu Tembakau

Cerutu Besuki

Paket teknologi untuk meningkatkan mutu tembakau pembalut (dekblad) dan pembungkus (omblad) dari tembakau cerutu besuki sesuai untuk diterapkan di Jember Selatan, yaitu pada lahan sawah dengan ketinggian tempat 90-300 m d.p.l. Lahan-lahan tersebut berjenis tanah Regosol (Entisol) dan Latosol, dengan tanah bertekstur lempung, lempung berdebu dan lempung liat berdebu. Daerah-daerah tersebut bertipe iklim C, curah hujan rata-rata sebesar 2.366 mm/tahun, dengan sebaran jumlah bulan basah 6-7 bulan dan bulan kering sebanyak 4-5 bulan.

Teknologi untuk meningkatkan mutu tembakau cerutu besuki merupakan rakitan komponen pemupukan, pengairan dan cara panen. Paket teknologi dari dosis pemupukan sebanyak 150 kg N/ha yang dikombinasikan dengan pemberian air melalui metode irigasi curah sebanyak 0.66 l/tanaman, serta panen awal dilakukan pada saat tembakau berumur 47 hari setelah tanam.

Penerapan rakitan teknologi pemupukan, pengairan dan umur panen yang tepat telah menghasilkan krosok tembakau cerutu sebanyak 1.943 kg/ha. Dari hasil tersebut diperoleh mutu tembakau pembalut dan pembungkus sebesar 91%. Teknologi petani konvensional hanya mampu menghasilkan mutu tembakau pembalut dan pembungkus sebesar 30-35%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *