Balitbangtan Siap Mendukung Agrowisata Kota Solok, Sumbar

Artikel Kakao Artikel Kemiri Sunan Artikel Kopi Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kota Solok, Sumatera Barat dalam rangka mendukung Agrowisata Kota Solok. Kerjasama tersebut telah dituangkan dalam nota kesepahaman di antara kedua belah pihak. Sebagai bagian dari tindak lanjut kerjasama tersebut, pada tanggal 20/9/2017 di kota Solok telah dilakukan Focus Group Discussion tentang “Pengembangan Nagari Mandiri Pangan Dalam Rangka Mendukung Agrowisata Sesuai Potensi Unggulan Kawasan di Kota Solok”.  Pertemuan tersebut dihadiri oleh Walikota dan Wakil Walikota Solok, Kepala OPD lingkup kota Solok, ninik mamak, dan bundo kanduang. Dari Balitbangtan hadir Sekretaris Balitbangtan, Kapuslitbanghorti, Kepala Balai Lingkup Balitbangtan beserta para peneliti.

Wakil Walikota Solok, Reinier Dt Intan Batuah, ST., MM. membukan FGD dan  memaparkan Rencana Pengembangan Wilayah Payo Sebagai Kawasan Agrowisata di Kota Solok. “Pertemuan ini, di samping sarana untuk menyamakan persepsi dalam merencanakan pembangunan kawasan nagari mandiri pangan dalam rangka mendukung agrowisata di kota Solok, juga untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan tidur yang cukup banyak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat” kata Reiner dalam sambutannya.

Selanjutnya Walikota Solok tersebut mengatakan bahwa salah satu kawasan dataran tinggi  dengan keindahan alam yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan Agrowisata adalah Dusun Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah. Payo mempunyai potensi untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.

Dewasa ini telah dikembangkan oleh Pemkot Solok beberapa komoditas pertanian sesuai dengan kondisi agroklimaat Payo, yaitu tanaman perkebunan (kopi, kakao, kemiri, cengkeh, dan kayu manis), tanaman hortikultura (bawang merah, pisang, manggis, dan tanaman hias); tanaman rempah-rempah (kunyit, jahe dan gardamunggu); serta tanaman pangan (padi dan jagung). Disadari bahwa penerapan inovasi teknologi belum optimal, sehingga produktivitasnya masih rendah.  Komoditas yang telah ada tersebut masih belum sebanding dengan luas daerah sehingga harus dikelola dengan baik untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat

Sementara itu, Sekretaris Balitbangtan Dr. Prama Yufdy berharap bahwa dalam kegiatan ini perlu dilihat sumberdaya genetik khas daerah Payo yang dapat dikembangkan dalam agrowisata. Prama Yufdy juga berharap kegiatan ini  bermanfaat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  “Hal yang lebih penting lagi adalah kejelasan pasar dengan harga yang pantas dan menguntungkan”, lanjutnya.

Balitbangtan pada kesempatan FGD tersebut memaparkan tentang “Dukungan Inovasi Teknologi Balitbangtan dalam Membangun Model Taman Sains Agribisnis Pertanian Mendukung Agrowisata Kota Solok Provinsi Sumatera Barat” yang disampaikan oleh Kepala Puslitbanghorti, Dr. Hardiyanto, M,Sc.    Disampaikan oleh Hardiyanto bahwa dalam kerjasama pengembangan agrowisata Payo ini, maka akan dikaji gambaran kondisi awal lokasi pengembangan (potensi biofisik, sosial, ekonomi, dan kendala/permasalahan).  Di samping itu adalah menyusun grand design penerapan dan pengawalan inovasi teknologi Balitbangtan mendukung pengembangan agrowisata.  Dukungan inovasi teknologi Balitbangtan di antaranya adalah menyediakan benih bermutu, varietas unggul (tanaman), bibit unggul (peternakan); menyediakan inovasi teknologi perbenihan, produksi, dan pascapanen; membuat demoplot; pendampingan, dan pelatihan dan atau magang.

Walikota Solok H. Zul Elfian, SH., M.Si yang hadir di penghujung acara, menyampaikan apresiasi  dan berharap bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik dan sukses. “Payo merupakan salah satu nagari dari 32 nagari yang ditetapkan melalui SK Gubernur Gubernur Sumatera Barat No. 521/206/DP-2017 sebagai nagari mandiri pangan” tandasnya.  Oleh karena itu, sejalan dengan program tersebut telah dilakukan beberapa koordinasi khususnya tentang percepatan pengembangan kawasan mandiri pangan dalam rangka mendukung agrowisata, lanjut Zul Elfian.  Walikota Solok juga berharap bahwa keterlibatan Balitbangtan dalam mendukung agrowisata di Payo ini, mampu mencapai sasaran yang diinginkan yaitu terwujudnya perkembangan agrowisata yang didukung oleh masyarakat, dan terwujudnya pengetahuan, wawasan, sikap, dan keterampilan masyarakat, serta menguntungkan secara ekonomi.

FGD yang dilakukan ini merupakan diskusi awal dan akan dimantapkan pada pertemuan pertemuan berikutnya. Rumusan sementara dari FGD ini di antaranya adalah : (1). Balitbangtan akan memberikan dukungan inovasi bebagai komoditas pertanian yang dapat dikembangkan di kawasan Payo (varietas unggul tanaman dan peternakan), inovasi teknologi perbenihan, dan pendampingan berupa demplot, penyediaan narasumber dalam berbagai pelatihan dalam upaya meningkatkan kapasitas petugas maupun petani; (2) Kegiatan ini dikoordinir oleh Puslitbanghorti dan akan dikawal oleh BPTP Sumatera Barat; (3). Untuk mendukung kegiatan perlu ditumbuhkan kelembagaan masyarakat; (4). Output tahun 2017 adalah a) Data dan informasi kondisi awal lokasi pengembangan agrowisata Payo (biofisik, sosial, ekonomi, kendala, dan permasalahan), b) Grand desain penerapan pengawalan inovasi teknologi Balitbangtan mendukung agrowisata kota Solok; (5). Target akhir adalah Model Taman Sains Agribisnis Pertanian Mendukung Agrowisata Nagari Payo; (6). Konsep yang akan dikembangkan adalah pertanian terintegrasi dengan melihat sumberdaya genetik yang khas dari daerah Payo, potensi pasar, dan kemauan masyarakat; (7). Swasta harus dilibatkan agar kegiatan dapat lebih mudah diarahkan kepada pengembangan industri; (8). Tim dari daerah perlu segera dibentuk sehingga kegiatan bisa terkoordinasi dengan baik; (9). Aktifitas yang dilaksanakan memperhatikan kelestarian lingkungan. Berdasarkan karakteristik lahan berbukit disarankan model pertanian konservasi dengan kebun inti dan plasma dengan komoditas yang sesuai. Program ini harus dilihat sebagai suatu sistem tidak merupakan spot spot, termasuk  melihat kesiapan masyarakat Payo sendiri. Selain itu, konsep integratif diterjemahkan dalam kegiatan-kegiatan nyata di lapangan; (10).  Pemda kota Solok siap dan mempunyai komitmen yang kuat untuk melaksanakan dan mendukung program ini sehingga menjadi contoh kabupaten kota yang lain; (11). Pertemuan ini harus ditindak lanjuti dengan pertemuan selanjutnya secara terintegrasi antar semua sektor terkait untuk memantapkan program dan rencana aksi kegiatan. (\Iwa Mara Trisawa)

Foto: Walikota Solok memberikan sambutan.

 

Foto: Wakil Walikota Solok memaparkan makalah.

 

Foto: Dari kiri ke kanan: Sekretaris Balitbangtan, Wakil Walikota Solok, Kepala Puslitbanghorti, dan Kepala BPTP Sumbar.

 

Foto: Kepala Puslitbanghorti memaparkan makalah.

 

Peserta FGD sedang menyimak pemaparan nara sumber

Berita Terkait : Solok Siapkan Diri untuk Menjadi Kota Percontohan Agrowisata di Sumatera Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *