Pengembangan Bioindustri Di Balitbangtan Untuk Mendukung SIPP

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Staf dan Tenaga Ahli Menteri Kementerian Pertanian sebanyak 9 orang,  telah melakukan kunjungan kerja dari tanggal 23-24 Januari 2014 ke Kebun Percobaan (KP) di Pakuwon, Sukabumi dan KP Manoko di Lembang, Bandung.  Kunjungan tersebut dihadiri oleh peserta dari berbagai unit kerja lingkup Balitbangtan.  Kepala Balitbangtan, Dr. Haryono, juga hadir saat kunjungan di KP. Manoko.  Kunjungan kerja tersebut terkait dengan pengembangan bioindustri mendukung program Kementerian Pertanian tentang Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP).

KP. Pakuwon merupakan salah satu KP. dari Balai Penelitian Tanaman Industri Penyegar (Balittri), Puslitbang Perkebunan. Sebelum menuju KP. Pakuwon, peserta kunjungan kerja berkesempatan melihat proses pengolahan biji kakao menjadi coklat dan beberapa inovasi teknologi di Balittri. Peserta mencoba mencicipi cokelat dan terkesan dengan inovasi yang dihasilkan. Sementara saat berada di KP. Pakuwon, peserta ditunjukkan  tentang pengembangan bahan bakar nabati (BBN), khususnya kemiri sunan.

Tidak hanya melihat tanaman sumber BBN langsung di lapangan, peserta juga melihat dan mendapat penjelasan dari Kepala Puslitbang Perkebunan, Dr. Muhammad Syakir dan peneliti Balittri, Ir. Dibyo Pranowo tentang proses pengolahannya.  Informasi ini sangat berharga bagi peserta kunjungan kerja, khususnya staf dan tenaga ahli menteri, bagaimana Balitbangtan berkiprah dalam mengembangkan BBN sebagai sumber energi baru dan terbarukan untuk substitusi bahan bakar minyak yang cadangannya terus menurun.

Selepas kunjungan kerja di KP. Pakuwon, seluruh peserta langsung melanjutkan perjalanan menuju Lembang, Bandung.  Pagi esoknya, Kepala Balitbangtan dan seluruh peserta berjalan kaki mulai dari penginapan ke KP. Manoko, yaitu salah satu KP dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Puslitbang Perkebunan.  Di KP. Manoko, peserta ditunjukkan sistem integrasi serai wangi dan ternak sapi sebagai simpul agribisnis dengan pola zero waste. Dalam sistem ini, tanaman serai wangi diproses/disuling sebagai sumber minyak atsiri (minyak serai wangi) menggunakan tangki penyulingan kapasitas 800-1000 kg. Minyak serai wangi memiliki harga yang cukup tinggi,  saat ini mencapai Rp. 140.000,- per liter. Dari produksi daun serai wangi segar 46 ton/ha/tahun dan dengan rendemen minyak 1,02%, akan dihasilkan minyak sekitar 472 kg/ha/tahun.

Tanaman serai wangi dipanen pada umur 6 bulan setelah tanam dengan cara memangkas/memotong daun setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah.  Panen berikutnya setiap 3 bulan sekali bergantung kondisi tanaman, curah hujan dan kesuburan tanah.  Lama periode pertumbuhan tanaman dalam produksi dapat mencapai 5-6 tahun.  Dengan demikian prospek agribisnis dari tanaman serai wangi cukup menguntungkan.  Minyak serai wangi sendiri dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti industri parfum pestisida nabati, dan bioaditif.

Limbah daun serai wangi hasil proses penyulingan, memiliki manfaat lain yaitu sebagai pakan ternak sehingga menjadi sumber hijauan ternak.  Saat kunjungan, terlihat sapi yang ada di KP. Manoko (saat ini ada 75 ekor) lahap menyantap limbah daun serai wangi tersebut.  Sapi yang diberi pakan limbah serai wangi, menghasilkan kotoran yang tidak terlalu bau.  Kotoran yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber biogas dan pupuk.  Sistem atau model ini seutuhnya terlihat dan dikembangkan di KP. Manoko.

Acara diakhiri dengan diskusi di dalam ruangan. Pada kesempatan tersebut Kepala Balitbangtan menyampaikan bagaimana peran Balitbangtan dalam bioindustri berkelanjutan untuk mendukung program SIPP.   Disampaikan bahwa bentuk diseminasi yang dilakukan ini tidak hanya melalui penyuluhan tetapi juga melalui model-model, oleh karena itu dirancang diseminasi multi channel.  Dari kegiatan ini diharapkan memberikan fedback untuk tahun-tahun berikutnya dan ditangkap oleh pengusaha yang memiliki lahan sebagai business oriented.  Balitbangtan siap dengan inovasi teknologinya.  Menurut Kepala Balitbangtan, pertanian ke depan adalah bioscience, teknologi dan inovasi merespon dinamika hilir yang ditunjang oleh aplikasi IT, sampai diseminasi.

Prof. Dr. Pantjar Simatupang, Staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Pembangunan Pertanian, Kementerian Pertanian, menyampaikan konsep sistem pertanian bioindustri berkelanjutan. Menurutnya apa yang ditunjukkan dalam kunjungan kerja tersebut, merupakan representatif yang merupakan pilar dan interrelasi dalam sistem pertanian-bioindustri, yang didalamnya terdapat mekanisme ekologi, tanaman, hewan, lahan, sumber energi, dll.  Namun demikian, sistem yang sudah dibuat tersebut dapat dikembangkan atau disempurnakan lagi sehingga akan menjadi percontohan sistem pertanian-bioindustri.  “Tidak hanya di lingkup Kementerian Pertanian, tetapi percontohan ini dapat juga dibangun di tingkat petani” imbuh Prof. Pantjar Simatupang.  Senada dengan hal tersebut, Kepala Balitbangtan juga menyampaikan bahwa ke depan masyarakat tani yang lebih luas dapat melakukannya dan menerapkan pertanian mandiri energi.

Berita Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *