Bioetanol dari Sagu

Artikel BBN Inovasi BBN Inovasi Sagu Inovasi Teknologi Produk Inovasi

INOVASI TEKNOLOGI PERKEBUNAN – Bioetanol dapat dibuat dari tanaman yang mengandung komponen pati. Salah satu jenis tanaman perkebunan yang potensial untuk pembuatan bioetanol, berdasarkan hasil penelitian adalah sagu. Sagu memiliki kandungan pati cukup tinggi dibandingkan palma lain. Bioetanol dihasilkan melalui proses fermentasi. Fermentasi etanol dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis mikroorganisme dan substrat.

Saccharomyces sp. sering dipakai pada fermentasi etanol, karena dapat menghasilkan etanol yang tinggi toleran terhadap kadar etanol yang tinggi, mampu hidup pada suhu tinggi hingga 47oC, stabil selama kondisi fermentasi dan dapat bertahan hidup pada pH rendah hingga pH 3 (Frazier dan Westhoff, 1978). Keuntungan menggunakan Saccharomyces cerevisiae var. ellipsoides adalah mempunyai waktu fermentasi lebih cepat, yaitu 20-30 jam. Khamir ini mampu menghasilkan rendemen alkohol tinggi dan merupa-kan strain khamir utama untuk pembuatan wine.

Bioetanol direkayasa dari biomassa (tanaman) melalui proses biologi (enzimatik dan fermentasi). Bahan baku bioeta-nol sebagai berikut:

  1. Bahan berpati, berupa singkong atau ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum, gandum, kentang, ganyong, garut, umbi dahlia dan lain-lain.
  2. Bahan bergula, berupa molases (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, nira batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, gewang, nira lontar dan lain-lain.
  3. Bahan berselulosa, berupa limbah logging, limbah perta-nian seperti jerami padi, ampas tebu, janggel (tongkol) jagung, onggok (limbah tapioka), batang pisang, serbuk gergaji (grajen) dan lain-lain.

Sirup glukosa hasil hidrolisis pati sagu dapat digunakan untuk produksi bioetanol menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Keuntungan menggunakan Saccharomyces cerevisiae var. ellipsoideus adalah waktu fermentasi yang lebih cepat. Saccharomyces cerevisiae var. ellipsoideus mampu meng-hasilkan biomassa dan etanol lebih banyak daripada Saccha-romyces cerevisiae.

Secara umum, produksi bioethanol ini mencakup 3 (tiga) rangkaian proses, yaitu persiapan bahan baku, fermentasi dan pemurnian. Fermentasi adalah suatu proses perubahan kimia pada substrat organik, baik karbohidrat, protein, lemak atau lainnya melalui kegiatan katalis biokimia yang dikenal sebagai enzim dan dihasilkan oleh jenis mikroba spesifik. Bioetanol diperoleh dari hasil fermentasi bahan yang mengandung gula. Tahap inti produksi bioetanol adalah fermentasi gula, baik yang berupa glukosa, sukrosa, maupun fruktosa oleh ragi (yeast) teru-tama Saccharomyces sp. atau bakteri Zymomonas mobilis. Pada proses ini gula akan dikonversi menjadi etanol dan gas karbondioksida.

Sebagai bahan baku bioetanol, pati sagu akan dihidrolisis untuk mendapatkan glukosa, kemudian dilakukan fermen-tasi untuk mendapatkan bioetanol. Hidrolisis pati sagu akan menghasilkan hidrolisat pati yang merupakan cairan kental dengan komponen utamanya glukosa. Hidrolisis pati men-jadi glukosa dapat dilakukan dengan bantuan asam atau enzim pada waktu, suhu dan pH tertentu.

Hasil hidrolisis pati selanjutnya difermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dipakai dalam fermentasi etanol adalah khamir. Khamir yang biasa digunakan untuk menghasilkan etanol adalah Saccharo-myces cerviseae. Saccharomyces cerviseae sering dipakai pada fermentasi etanol karena menghasilkan etanol yang tinggi, toleran terhadap kadar etanol yang tinggi, mampu hidup pada temperatur tinggi, tetap stabil selama kondisi fermentasi dan dapat bertahan hidup pada pH rendah. Diagram alir proses pembuatan bioetanol sagu disajikan pada Gambar 1 (Andi Nur Alam Syah/Peneliti BB Pascapanen).

Gambar 1. Diagram alir proses pembuatan bioetanol sagu

Sumber : Infotek Perkebunan Volume 4, Nomor 12, Desember 2012

1 thought on “Bioetanol dari Sagu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *