Pengelolaan Bahan Organik untuk Tebu

Artikel Tebu Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Aplikasi bahan organik ke dalam tanah dapat berupa pupuk, mulsa atau biochar. Sebagai pupuk, bahan organik diberikan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk hijau (biomassa tanaman Legum), kompos, pupuk kandang, atau pupuk hayati (mikrobia penambat N dan pelarut P). Bahan organik berupa serasah tanaman non Legum yang dihamparkan di permukaan tanah berfungsi sebagai mulsa untuk konservasi tanah dan air serta stabilisasi kelembaban tanah.

Pupuk Hijau

Dalam budidaya tebu, pemupukan hijau dengan tanaman Legum dapat dipraktekkan untuk memelihara keseimbangan sistem karena berfungsi: melindungi tanah dari erosi selama musim hujan, sebagai sumber hara terutama N dari fiksasi maupun dekomposisi biomassa, meningkatkan ketersediaan hara Ca, Mg, S dan P, memperbaiki agregat dan struktur tanah, mengendalikan nematoda terutama jika menggunakan Crotalaria spectabilis atau Crotalaria ochroleuca, dan dapat meningkatkan pendapatan jika pupuk hijau yang ditanam adalah kacang tanah, kacang hijau dan kedelai.

Tanaman pupuk hijau sebaiknya ditanam bersamaan tanam tebu dengan cara di tugal atau disebar di antara barisan tebu. Pada puncak fase vegetatif (mulai muncul kuncup bunga), tanaman pupuk hijau dipanen seluruh biomassanya dan dimasukkan ke dalam tanah atau dijadikan mulsa pada barisan tebu.Tanaman Legum juga dapat ditanam sebagai penutup tanah, disamping menyumbang hara, dapat mengurangi penguapan. Tanaman ini dapat ditanam setelah panen tebu untuk menutup lahan yang terbuka.

Pupuk Organik

Dalam industri gula tebu adalah penting untuk melakukan pemupukan organik. Dari pabrik gula dihasilkan limbah berupa blotong, bagasse dan abu ketel.

Sebelum diaplikasi ke dalam tanah, blotong dibiarkan beberapa waktu agar terjadi dekomposisi secara aerob, dimana dapat diperkaya dengan abu ketel, pupuk kandang atau bahan lainnya. Aplikasi hanya pada barisan tebu. Pemberian blotong dapat menyuplai hara sekitar 30-40 kg N, 120-150 kg P2O5 dan 100-120 kg K2O per hektar, dengan demikian dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Pupuk kandang dan kompos juga merupakan pupuk organik yang dapat digunakan untuk pengelolaan lahan tebu. Pupuk hayati berupa mikrobia penambat N dan pelarut P juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya tebu. Kombinasi pupuk hayati dan biomassa organik dapat bersinergi untuk memperbaiki hara tanah untuk mendukung pertumbuhan dan hasil tebu.

Pemberian pupuk organik pada tebu sangat penting terutama untuk peningkatan produktivitas tebu melalui perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Pemberian pupuk organik diharapkan sedikitnya 5 ton/ha terutama berupa kompos, pupuk kandang, atau pupuk hijau.

Pada saat ini, rendemen tanaman tebu sulit ditingkatkan, karena faktor potensi varietas maupun faktor lain. Strategi peningkatan produktivitas hablur perlu ditempuh melalui kombinasi pemupukan organik dan anorganik yang tepat. Disamping itu juga perbaikan teknologi budidaya, serta upaya menekan kehilangan/penurunan hasil karena hama penyakit dan tebang-muat-angkut-giling (pasca panen).

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Berita Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *