Pemerintah Harus Maksimalkan Produksi Kopi Petani

Artikel Kopi Berita Media

Medan Bisnis – Medan. Sebagai salah satu propinsi penghasil kopi dengan citarasa yang dikenal secara internasional, seharusnya Sumatera Utara (Sumut) dapat lebih memacu petaninya untuk bisa memaksimalkan produksinya. Maksimalisasi kopi tersebut bukan melalui perluasan lahan melainkan dari sisi produksi.

Ketua Komunitas Peduli Hutan Sumatera Utara (Sumut), Jimmy Panjaitan kepada MedanBisnis, Senin (1/9) di Medan mengatakan, dengan tingkat konsumsi kopi masyarakat Sumut yang cukup tinggi seharusnya bisa menjadi pendorong pemerintah lebih serius mendukung perkebunan kopi. Selama ini kata dia, pengembangan tanaman kopi petani hanya menggunakan metode tradisional mulai dari peralatan hingga perawatan dan penggunaan pupuk. Misalnya, pupuk yang dipakai petani selama ini kebanyakan pupuk kompos, sehingga produktivitas juga terbatas. Sebagai contoh kata dia, petani kopi di Humbang Hasundutan dan Dairi, di dua kabupaten tersebut banyak masyarakat yang menggantungkan pencaharianya dari bertanam kopi. “Jika hasil perkebunannya tidak masksimal wajar jika kehidupannya belum juga sejahtera. Jadi, harus ada sosialisasi kepada petani bagaimana bertani yang benar dan tepat sehingga hasil panen bisa menggembirakan,” katanya.

Tak jarang demi menambah produksi, beberapa petani melakukan penambahan luasan perkebunannya dengan membuka hutan. Padahal, dengan pola bertani yang dimilikinya belum tentu dapat membantunya memperbaiki keadaan. Di Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi misalnya, tak kurang dari 1.000 hektare lahan perkebunan awalnya adalah hutan lindung. Sementara di Humbang Hasundutan beberapa hektare lahan perkebunan kopi juga awalnya merupakan kawasan hutan hak. “Jika hal tersebut tetap dibiarkan terjadi, tidak tertutup kemungkinan laju perambahan hutan menjadi perkebunan kopi akan semakin luas dan mengakibatkan Sumut semakin banyak kehilangan hutannya.

Seharusnya pemerintah mampu memberdayakan petani dengan sosialisasi yang memberikan pencerahan bagi petani agar tidak terus menerus melakukan perluasan kopi dengan masuk ke wilayah hutan, yakni dengan maksimalisasi produksi, pengenalan teknologi, dan lain-lainnya,” katanya. Sebelumnya, Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Sumut, Herawaty mengatakan, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Sumut selain kelapa sawit, kakao, dan karet. Secara umum, luasan lahan perkebunan kopi arabika lebih besar daripada robusta karena produktivitasnya yang lebih tinggi. Untuk kopi arabika luasnya mencapai 58.118 hektare, sementara kopi robusta hanya 21.680 hektare. Produksi arabika bisa mencapai 46.000 ton per tahun, sedangkan robusta 8.400 ton per tahun.

Dari luasan tersebut, program intensifikasi kopi di Sumut dilakukan di 11 kecamatan di Simalungun dengan luas sekitar 1.000 hektare yang akan melibatkan 1.199 petani. Di Simalungun sendiri, terdapat 8.000 hektare tanaman kopi. Dalam program ini, petani diberikan bantuan-bantuan berupa peralatan, obat-obatan pemberantas hama, pembenah tanah organik, pupuk, benih, gunting pangkas, dan kebutuhan lainnya “Kita terus memberikan sosialisasi kepada petani kopi bagaimana pola pertanaman yang baik,” katanya. (dewantoro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *