Wakil Menteri Pertanian Berkenan Membuka Workshop “Pengembangan Bioenergi Nasional”

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Wakil Menteri Pertanian berkenan membuka Workshop Pengembangan Bioenergi Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Litbang Pertanian, melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Workshop dengan tema “Dengan Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Bioenergi Kita Gerakkan Pilar Ketahanan Energi Nasional” dilaksanakan di Hotel Borobudur, Jakarta tanggal 18 September 2013. Workshop dihadiri oleh Wakil Menteri ESDM Ir. Susilo Siswoutomo, peneliti, instansi pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan swasta dan asosiasi lain di bidang bioenergi.

Dalam sambutannya, Wamentan mengatakan bahwa kalau bioenergi mau dibumikan, dijalankan dengan baik, dan implementasinya bagus, maka titik pentingnya adalah bagaimana kita integrasikan dengan baik sektor terkait mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari penelitian terkait dengan potensi sumberdaya alam tanaman untuk energi sampai kepada pemasaran, penggunaan, pencampuran, produk akhir, dan pembeli.

Kementerian Pertanian bertugas menyediakan row material, setelah itu ada ESDM, Perindustri, dan perdagangan sampai the king actor yaitu Pertamina. Karena Pertamina yang memegang kunci pada akhirnya, bagaimana mendekatkan bioenergi pada konsumen akhir. Kementerian Keuangan juga ada keberpihakan untuk memberikan subsidi bagi pengembangan bioenergi, lanjut Wamentan.

Workshop ini bukan satu-satunya dan bukan yang paling awal, tapi akan ada seri diskusi berikut yang terkait dengan bioenergi. Rohnya, spiritnya “Bangkit Kembali” setelah ada paket kebijakan ekonomi antara lain mengurangi impor BBM berarti memperkuat bioenergi. Bagaimana biosolar yang sekarang rata-rata 2,5% menjadi 10%, imbuh Wamentan.

Untuk mendukung penggunaan bahan bakar nabati sebagai alternatif energi sudah banyak paket kebijakan. Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang menetapkan sasaran penggunaan bahan bakar nabati menjadi lebih dari 5 % terhadap konsumsi energi nasional pada tahun 2025. Kebijakan tersebut diikuti dengan Instruksi Presiden No. 1 tahun 2006, yang antara lain menginstruksikan kepada Menteri Pertanian untuk mendorong penyediaan tanaman termasuk fasilitasi penyediaan benih dan bibitnya, penyuluhan, dan mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan kegiatan pasca panen bahan tanaman, untuk mendukung penyediaan bahan bakar nabati, ujar Wamentan.

Kemudian ada Peraturan Menteri ESDM No. 32  tahun 2008 bahkan telah mengatur agar penyediaan bahan bakar cair dan fosil tertentu wajib memiliki kandungan bahan bakar nabati (BBN). Hal ini tentu harus diikuti dengan langkah-langkah strategis tertentu pula, termasuk dalam penyediaan bahan baku BBNnya yang menjadi salah satu tanggung jawab Kementerian Pertanian.

Meskipun kebijakan tersebut telah berjalan lebih dari 5 tahun, belum terlihat ada perubahan yang signifikan di lapangan.  Bio-fuel, baik bio-diesel maupun bio-etanol memang telah mulai digunakan oleh sebagian kalangan.  Tetapi perkembangan pemanfaatan biodiesel masih jauh dari yang diharapkan.  Dirasa perlu untuk menata kembali atau mengevaluasi, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar target penggunaan BBN sebagai alternatif BBM dapat segera direalisasikan, kata Wamentan.

Dalam perspektif pertanian, sedang mengarah kepada satu konsep “green economy” yang menjaga keseimbangan antara yang dieksploitasi sekarang dengan kelangsungan pembangunan. Bahkan sekarang ada istilah “Bio Economy” atau “Blue Economy”.

Blue economy antara lain setiap produk pertanian harus bisa diproses dan dimanfaatkan mempunyai nilai ekonomi. Kalau dulu menanam yang dikejar adalah produk pertanian, misalnya padi, maka padi yang dikejar. Tetapi sekarang sampai jerami dan limbahnya bisa bernilai ekonomi, imbuh Wamentan.

Banyak kekayaan sumber energi nabati, ada jarak pagar, kemiri sunan, nipah, sagu, tebu, singkong yang bisa menjadi energi. Tapi kita harus membuat tahapan prioritas. Kalau jarak pagar, kemiri sunan teruslah diteliti, sepanjang nanti perkembangannya menggembiran, sarana sudah tercukupi, bisa dieksekusi. Peneliti Badan Litbang diharapkan jangan berhenti, teruslah meneliti, tambah Wamentan.

Jarak pagar saat ini belum mencapai nilai keekonomian, produktivitasnya belum dapat ditingkatkan. Namun jika diuji terus secara genetis dapat ditingkatkan produktivitasnya, karena jarak pagar “friendly” dengan iklim tropis.

Prioritas sekarang yang siap secara infrastruktur dan secara produksi adalah kelapa sawit. Jadi mari kita fokus bagaimana dalam jangka pendek ini bisa mentransformasikan kebijakan kelapa sawit untuk sebagian dikembangkan ke biofuels. Untuk mencapai itu tentu dibutuhkan integrasi kegiatan, ujar Wamentan.

Kalau mau aman, ada perluasan kelapa sawit yang didesain khusus untuk penyediaan biosolar dari kelapa sawit. Dibutuhkan komitmen untuk bersama-sama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mewujudkan biosolar untuk mendukung ketahanan bioenergi nasional, harap Wamentan.

Semoga Allah Tuhan yang Maha Kuasa, selalu memberikan bimbingan dan petunjukNya kepada kita semua dalam memberikan pengabdian terbaik kepada nusa dan bangsa.  Selanjutnya dengan rahmat-Nya, dengan dengan membaca “bismillahir rohmanirrohim”, ijinkan saya membuka acara ini secara resmi. Demikian Wamentan mengakhiri sambutannya. (/Redaksi)

Berita terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *