Model Konsorsium Pengembangan Inovasi Pupuk Hayati

Aktifitas Puslitbangbun Terpopuler

BOGOR, PERKEBUNAN – Berawal dari pertemuan pada bulan April 2011 antara Kementerian Pertanian dan Komite Inovasi Nasional, telah dicapai kesepakatan  untuk mengembangkan Biofertilizer sebagai terobosan teknologi pertanian, dengan melibatkan LIPI dan IPB.

Adapun yang mendasari kesepakatan tersebut adalah : 1. Rusaknya lahan pertanian sebagai akibat penggunaan pupuk sintesis, sehingga diperlukan penggantinya dari bahan organik/ hayati, 2. Penelitian dan pengembangan pupuk hayati saat ini masih dilakukan sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi.

Maka dari itu, perlu dibentuk konsorsium untuk mempertemukan para peneliti dan industri agar dapat mencari inovasi baru dalam pupuk hayati dan memproduksinya dalam skala besar.

Untuk mendukung pelaksanaan konsorsium pupuk hayati, Badan Litbang Pertanian menyediakan dana yang dibagi ke dalam 2 kegiatan pokok : 1. Pengujian lapangan terhadap efektifitas pupuk hayati unggulan terhadap tanaman pangan utama (padi dan kedelai) serta hortikultura (cabai) yang melibatkan para peneliti dari Badan Litbang,  IPB, LIPI dan BPPT, 2. Pengembangan produk dan sistem produksi secara terpadu yang melibatkan peneliti lintas disiplin ilmu.

Sasaran yang ingin dicapai dengan terbentuknya konsorsium pupuk hayati adalah inovasi pupuk hayati yang super unggul, berfungsi efektif dan efisien, sampai kepada petani serta mutu yang terjamin sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Maka dari itu perlu dicanangkannya produksi dan penggunaan pupuk hayati dalam skala nasional. (redaksi/ tim website).

Kata kunci : pupuk hayati, konsorsium, Komite Inovasi Nasional, Badan Litbang Pertanian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *