Minyak Kelapa Sebagai Minyak Sehat dan Potensial sebagai Antivirus untuk Menekan Novel Coronavirus (nCoV) penyebab kematian

Artikel Kelapa Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Organisasi kesehatan dunia WHO menyatakan global emergency terhadap Novel Coronavirus (nCoV-2019) yang telah menyebar dari China dan menyebabkan kematian manusia. Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk pathogen tersebut. Ilmuan dari National Academy of Science & Technology-Philippines, Dr. Fabian M. Dayrit, RCh dan dari Spring Hill Neonatology, Inc. Florida, USA, Mary T. Newport, M.D., menyatakan bahwa Asam Laurat (C12) dan monolaurin sebagai derivatifnya telah diketahui bertahun-tahun memiliki kemampuan antivirus yang kuat.

Kedua ilmuan tersebut menyatakan bahwa Asam Laurat sebagai asam lemak rantai sedang terdapat dalam jumlah yang banyak, 50%, pada minyak kelapa. Setelah diserap oleh tubuh, asam laurat kemudian diubah menjadi monolaurin oleh enzyme yang dikandung oleh tubuh manusia itu sendiri. Selanjutnya dijelaskan bahwa Sodium lauryl sulfate atau yang dikenal juga sebagai sodium dodecyl sulfate yang dibuat dari asam laurat telah diketahui mengetahui sifat antivirus juga. Asam Capric (C10) dan monocaprin yang dikandung minyak kelapa juga telah terbukti dapat menghambat virus lain seperti HIV-1. Oleh sebab itu minyak kelapa berpotensi sebagai antivirus menekan nCoV yang sekarang ini menjadi perhatian dunia, kata Dayrit dan Mary menutup keterangannya.

Sebagian masyarakat Indonesia belum mengetahui bahwa selain potensial sebagai antivirus nCoV-2019, minyak kelapa dapat juga membuat ratio HDL-C (kolesterol baik) dan LDL-C (kolesterol jahat) pada taraf yang favorable pada tubuh. Minyak kelapa meningkatkan level HDL-C, kolesterol yang baik untuk kesehatan jantung, kata Dayrit dan Mary. Dayrit menyampaikan bahwa beberapa media hanya memberitakan bahwa minyak kelapa dapat meningkatkan level LDL-C, tetapi tidak memberitakan bahwa minyak kelapa dapat meningkatkan HDL-C yang baik bagi kesehatan, pada taraf yang lebih tinggi.

Dr. Jelfina Alouw, selaku peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), Badan Litbang Kementerian Pertanian, yang ditugaskan sebagai DirekturEeksekutif ICC (International Coconut Community), menyatakan bahwa masyarakat Indonesia telah mengkonsumsi kelapa dan produk turunannya selama bertahun tahun, sehingga diharapkan kebiasaan ini terus dilanjutkan sehingga kita berpeluang tahan terhadap virus yang mematikan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *