Metode Perkecambahan Bagal Mikro G1 Tebu

Artikel Tebu Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Indonesia sebagai salah satu negara produsen gula sampai dengan tahun 2010 mempunyai 61 Pabrik Gula (PG) berbahan baku tebu dengan total kapasitas 225.018 TCD, didukung areal seluas 418.259 ha dan 8 PG Rafinasi dengan total kapasitas produksi 3,2 juta ton GKR/Tahun.

Kementerian Pertanian memprogramkan swasembada gula pada tahun 2014. Program tersebut membutuhkan bibit yang cukup besar mencapai 8 milyar budset siap salur. Angka yang cukup fantastis tersebut sulit tepenuhi jika hanya menggunakan perbanyakan bibit secara konvensional.

Alternatif teknologi perbanyakan bibit tebu yang dapat digunakan adalah dengan kultur jaringan. Tahapan dalam pembibitan tebu secara kultur jaringan dikenal dengan istilah generasi, yaitu dimulai dari Generasi 0 (G0), Generasi 1 (G1), Generasi 2 (G2) dan Kebun Bibit Dasar (KBD) yang siap disalurkan ke petani sebagai bibit tebu produksi.

Pada proses aklimatisasi bibit G1, perkecambahan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena akan menentukan persen pertumbuhan bibit tebu di lapang di samping faktor karakter spesifik tiap varietas.

Perkecambahan bibit mikro dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menumbuhkan pertunasan bibit terlebih dahulu atau dengan cara menanam di lahan dengan cara pendederan. Menumbuhkan pertunasan dilakukan dengan cara mengkondisikan bibit tebu dalam suatu wadah dan dijaga kelembabannya sampai muncul tunas kira-kira 1 cm.

Perlakuan pendahuluan dilakukan perendaman dengan larutan ZA 3,6 g/L selama 30 menit. Lama perkecambahan maksimal 5 hari untuk mendapatkan kualitas bibit yang baik. Kemudian bibit yang sudah muncul tunas dilakukan sortasi untuk ditanam di lahan dengan jarak tanam rekomendasi pembibitan. Sedangkan perkecambahan dengan cara pendederan dilakukan penanaman langsung di lahan dengan kerapatan tinggi.

Lahan dibuat model bedengan dengan jarak tanam antar baris 10-20 cm dan jarak dalam baris rapat. Penyiraman dengan larutan ZA konsentrasi 3,6 g/L dilakukan pada 10 HST. Setelah umur 1,5 bulan, bibit dipindah tanam sesuai jarak tanam rekomendasi pembibitan.

Gambar. Perkecambahan dengan pendederan

Gambar. Perkecambahan dengan penumbuhan tunas

Perkecambahan yang telah dilakukan pada bagal mikro G1 varietas VMC 76-16 dengan ukuran diameter batang 1,5-2 cm yang dilakukan di tanah latosol merah menunjukkan persen perkecambahan bibit yang dideder 37,33% lebih besar dibandingkan perkecambahan dengan menumbuhkan pertunasannya terlebih dahulu (32,66%).

Hal ini menunjukkan bahwa perkecambahan varietas VMC 76-16 sesuai dengan menggunakan cara pendederan. Kelebihan perkecambahan dengan pendederan adalah memudahkan perawatan selama perkecambahan, dapat dilakukan di musim kemarau sehingga ketika musim penghujan tiba, kondisi bibit ditanam sudah besar sehingga pertumbuhannya lebih baik, dapat juga memudahkan prediksi kebutuhan lahan untuk tanam tanpa banyak melakukan penyulaman.

Sedangkan perkecambahan dengan pertumbuhan tunas terlebih dahulu rentan terjadi kerusakan selama proses perkecambahan. Kelembaban terlalu tinggi menyebabkan jamur dan dapat memicu proses fermentasi sehingga berakibat kerusakan bibit.

Selama tanam di lahan dengan kondisi pertunasan yang masih kecil sering terjadi kematian sehingga dibutuhkan proses penyulaman yang banyak. Di samping itu terjadi kompetisi yang tinggi dengan gulma dalam penggunaan nutrisi tanah sehingga pertumbuhannya sedikit terhambat (Ahmad Dhiaul Khuluq/Peneliti Balittas).

Link terkait klik disini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *