Meningkatkan Pendapatan Petani Kelapa Melalui Produk Turunan VCO

Artikel Kelapa Berita Perkebunan

NFO PERKEBUNAN – Bicara soal komoditas perkebunan yang strategis, kelapa tak boleh dilewatkan. Hampir seluruh bagian tumbuhan ini bisa dimanfaatkan secara langsung atau sebagai bahan baku industri. Mulai dari buah, daun, batang, sampai akarnya sekalipun. Tak heran kalau tanaman ini sering disebut sebagai pohon kehidupan atau tree of life.

Dari buahnya pun, hampir tak ada bagian yang terbuang sia-sia. Airnya dapat diminum atau diolah menjadi pupuk, kecap, dan nata de coco. Tempurungnya bisa dimanfaatkan sebagai briket, karbon aktif, dan pengawet makanan. Serabutnya dapat digunakan untuk jok mobil, bantal, dan media tanam. Sementara itu, dagingnya bisa dimasak atau diolah menjadi minyak kelapa dan minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO).

Yang disebut terakhir ini bahkan punya nilai ekonomi tinggi dan dapat mendongkrak pendapatan petani. Proses pengolahannya juga terbilang mudah. Pada dasarnya, ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan dalam memproduksi VCO:

1. Fermentasi
Santan mengandung mikro organisme yang dapat memisahkan emulsinya menjadi blondo, air, dan minyak. Pemisahan terjadi secara spontan saat ada fermentasi alami yang berlangsung selama 24 jam.

Prinsip ini banyak diterapkan oleh petani karena biaya prosesnya murah dan hanya memerlukan perlengkapan sederhana. Sayangnya, kualitas mikro organisme tidak bisa dikontrol 100% sehingga kualitas produk pun sulit dijaga, ketahanan produknya terbatas, dan tingkat kegagalan produksinya cukup tinggi.

2. Perbedaan Suhu
Prinsip ini juga digunakan dalam pembuatan minyak klentik. Sebenarnya ada dua teknik yang bisa dilakukan, yakni dengan menguapkan air atau membekukan minyak. Namun pada VCO, pemanasan dengan suhu 100oC biasanya dihindari karena dapat menurunkan kualitas dan membuat minyaknya mudah tengik.

Oleh karena itu, teknik pembekuan minyak di bawah suhu 18oC lebih banyak dipilih. Teknik ini membuat VCO memiliki cita rasa yang lezat dan tingkat keenceran yang baik. Kekurangannya, biasanya butuh proses lebih dari satu tahap karena kandungan air masih tinggi.

3. Mekanis
Prinsip mekanis menggunakan mesin dengan daya listrik yang cukup besar. Namun, proses produksi dapat berlangsung lebih cepat dan kualitas VCO terjaga karena fermentasi tidak sempat terjadi.

Urutan proses pembuatannya adalah: 1) pilih kelapa yang baik, 2) kupas kelapa dan cuci bersih, 3) parut, 4) peras, 5) diamkan selama 1/2 jam, 6) pisahkan skim dan krim, 7) mixer selama 15-20 menit, 8) diamkan selama 5-8 jam, 9) murnikan atau saring.

Menurut penelitian yang dilakukan Darmanis (2019), biaya untuk membuat VCO tergolong terjangkau. Dalam pelatihan pembuatan VCO secara konvensional, petani perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp1.977.000,- untuk menghasilkan 20 liter VCO.

Jumlah itu terdiri dari Rp462.000 biaya tetap (peralatan seperti baskom, mixer, selang, dsb) dan Rp1.515.000,- biaya tidak tetap (bahan baku, tenaga kerja, transportasi). Jika dijual seharga Rp170.000,- per liter, petani masih mendapat untung sebesar Rp1.423.000,- dari 20 liter VCO tersebut.

Produk dapat dipasarkan secara online atau offline lewat supermarket dan organisasi Perhimpunan Pengusaha Minyak Kelapa Indonesia. Yang jelas, pastikan mutu VCO terjamin agar konsumen tertarik untuk membelinya. (Nurul/Tim Web)

Sumber : InfoTekbun20-Produk Turunan VCO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *