Mengoptimalkan Pengelolaan Pala Tomandin Fakfak Secara Terpadu Melalui Sentuhan Teknologi

Artikel Pala Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Indonesia bersama dengan India dan Guatemala merupakan tiga negara penghasil dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar di dunia. Negara tujuan ekspor pala Indonesia antara lain Vietnam, Amerika Serikat, Belanda, Jerman dan Italia. Pala di Indonesia sebagian besar (± 99 %) dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Kabupaten Fakfak bersama dengan Kabupaten Kaimana adalah daerah penghasil pala utama di Provinsi Papua Barat. Di Kabupaten ini, pala belum dibudidayakan layaknya perkebunan, karena sebagian besar masih berupa hutan yang tersebar di beberapa distrik. Berbagai produk bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku kosmetik, obat-obatan dan makanan bisa dihasilkan dari pala, namun di Fakfak, belum banyak produk jadi yang dihasilkan dan penanganan pasca panennya masih tradisional menggunakan peralatan seadanya.

Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (BIMTEK) dengan tema “Inovasi Teknologi mendukung peningkatan produksi dan ekspor komoditas pala Fakfak era millennial” pada Jumat 8 Maret 2019, bertempat di Balai Pelatihan Kab. Fakfak. Kegiatan BIMTEK dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI, Dr. Michael Wattimena, Bupati Fakfak yang diwakili oleh Assisten II Perekonomian dan Administrasi Pembangunan, Charles Kambu, S.Sos, MSi, Kepala BBP2TP yang diwakili oleh Kabid KSPHP Puslitbangbun, Ir, Jelfina C. Alouw, MSc, PhD, Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP, Dandim, organisasi perangkat daerah (OPD) Kab. Fakfak dan UPT vertikal terkait, serta sekitar 200 petani pala di Kab. Fakfak.

Pada sambutan selamat datang, Jelfina menyampaikan bahwa Indonesia berada pada posisi pertama di dunia dari sisi luas areal pala, namun masih berada pada posisi kedua setelah Guatemala dari sisi produksi dan berada pada posisi ketiga setelah India dan Guatemala dari volume eksport. Indonesia masih punya potensi besar untuk menempati posisi pertama mengingat pala dari Indonesia sangat diminati pasar Internasional karena citarasanya yang khas. Saat ini pengetahuan mengenai teknik budidaya dan pola panen belum sesuai, yang berdampak pada menurunnya kualitas pala sehingga petani memiliki posisi tawar yang rendah. Penguatan kapasitas petugas lapang dan kelembagaan komoditi pala untuk mendukung program pengembangan pala kedepan diperlukan kata Jelfina.

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan sejumlah teknologi dan inovasi mulai dari aspek budidaya sampai penanganan pasca panen, untuk mendukung pengembangan pala di Fakfak. Sinergi diantara pemangku kepentingan perlu ditingkatkan dan Pala Tomandin Fakfak yang oleh penduduk dikenal sebagai Pala Papua (Myristica argentea Warb.) telah mendapatkan Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2016 kata Kambu dalam sambutannya mewakli Bupati Fakfak. Pala Tomadin Fakfak memiliki beberapa karakteristik fisik dan kimia yang berbeda dengan jenis pala lainnya antara lain buah yang lebih besar dan lonjong serta kandungan trimysristin yang lebih tinggi dari pala Banda dan cita rasa yang khas. Sertifikat IG pada areal pala Tomandin Fakfak seluas ± 16.000 ha diharapkan dapat meningkatkan permintaan pasar dan kesejahteraan petani.

Wattimena mengatakan bahwa BIMTEK ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kementan sebagai mitra Komisi IV DPR-RI untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya petani pala di Fakfak. Wattimena mengharapkan agar potensi alam, sumberdaya yang telah dimiliki oleh Kab. Fakfak dapat dimaksimalkan untuk peningkatan produksi dan mutu produk. Kontinuitas produksi dan aspek pendukung lain dibutuhkan untuk keberhasilan pengembangan pala. BIMTEK disambut antusias oleh semua peserta, yang sangat berharap agar pemerintah dapat mendukung pengembangan pala di Fakfak dari sisi teknologi, keamanan dan pemasaran. (JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *