Mengembalikan Kemandirian Industri Gula Nasional

Artikel Tebu Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Indonesia pernah menjadi Negara pengekspor gula terbesar kedua di dunia pada tahun 1929. Produksi gula pada era tersebut mencapai 3 juta ton yang dihasilkan oleh 179 pabrik gula dengan luas areal 200 ribu ha dengan produktivitas gula 15 ton/ha. Saat ini hanya terdapat sekitar 59 pabrik gula yang beroperasi dengan produksi hanya sekitar 2,6 juta ton, padahal kebutuhan gula mencapai 5,7 juta ton. Tidak mengherankan jika Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar.

Berbagai faktor telah diidentifikasi sebagai penyebab permasalahan industri gula nasional. Masalah pada sisi on farm, antara lain kurangnya ekstensifikasi serta kesulitan dalam mempertahankan lahan yang ada, penggunaan varietas asalan, belum optimalnya penerapan teknologi budidaya, sistem Tebang Muat Angkut yang belum memenuhi standard Manis Bersih Segar, keterbatasan infrasruktur bagi wilayah pengembangan di luar Jawa dan kelembagaan petani yang belum terbangun dengan baik. Pada sisi off farm, masalah meliputi tingkat efisiensi pabrik yang masih belum optimal, kinerja peralatan pabrik gula kurang memadai dan belum sepenuhnya otomisasi, rendahnya kemampuan design dan engineering industri gula nasional. Masalah lain antara lain belum diberlakukannya SNI wajib untuk standar gula Kristal putih (GKP).

Dalam rangka membangkitkan kembali kemandirian industri gula nasional, beberapa upaya telah dilakukan antara lain pada tahun 2017 Balitbangtan, Kementan telah berkontribusi untuk menjawab salah satu masalah on farm yakni dengan melepas empat varietas unggul baru tebu (AAS Agribun, AMS Agribun, ASA Agribun dan CMG Agribun) melalui kombinasi bioteknologi kultur in vitro dan mutagen fisik maupun kimiawi. AAS Agribun memiliki keunggulan produktivitas 70-207 ton/ha, Rendemen 9-10%, dan Hablur 7-23 ton/ha. [Baca: Si Manis dengan rendemen dan hablur gula yang wow !!]. Pada tahun 2010, pemerintah mencanangkan Program Revitalisasi Industri Gula Nasional (PRIGN), dengan visi “Mewujudkan Industri Gula Nasional yang Mandiri, Berdaya Saing dan Mampu Memenuhi Kebutuhan dalam Negeri dan Ekspor”.

Kemandirian menjadi positioning strategy Negara dan industri, yang dapat dilihat pada antara lain Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) atau local content yang harus memadai untuk memenangkan persaingan di era globalisasi. Menjawab tantangan tersebut, dialog nasional dan peluncuran buku dengan tema “Desain Standar Pabrik Gula Merah Putih: Urgensi dan perannya untuk meningkatkan TKDN menuju kemandirian Industri Gula Nasional”, telah dilaksanakan pada Selasa 20 Maret 2018 di Gedung II Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta. Diskusi diawali dengan penyampaian laporan oleh Direktur Pusat Teknologi Industri Permesinan, BPPT, Dr. Ir. Barman Tambunan, MSc., kemudian dilanjutkan dengan Opening speech oleh Kepala BPPT, Dr. Ir. Unggul Priyanto, MSc., Keynote speech oleh Deputi III Bidang koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Dr. Ir. Ridwan Djamaluddin, MSc.

Peluncuran buku “Rancang bangun dan rekayasa pabrik gula modern dan terpadu: Terobosan anak bangsa menuju kemandirian industri gula nasional”, oleh BPPT disaksikan oleh sejumlah peserta diskusi yang berasal dari pemerintah seperti Kementerian Perindustrian, Puslitbang Perkebunan, Balitbangtan, Kementan akademisi, PTPN XII, IX, X, pabrik gula se-indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu oleh Dr. Ir. Erzi Agson Gani, M.Eng. Para Pembicara dan topik yang disampaikan adalah: “Kebijakan penguatan struktur industri gula nasional” oleh Direktur Industri permesinan dan alat mesin pertanian, Kementerian Perindustrian. “Standar desain pabrik gula nasional” oleh Direktur Pusat Teknologi Industri permesinan-BPPT, Dr. Ir. Barman Tambunan, MSc., dan “Kebutuhan dukungan rancang bangun dan industri permesinan pabrik gula dalam negeri”, oleh Direktur PT Industri gula Glenmore, Ir. Yus Martin. Pabrik Gula Glenmore adalah industri gula modern dan terpadu di Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas giling 6.000 ton tebu per hari (TTH). Semua bagian tebu dimanfaatkan oleh Pabrik gula Glenmore menjadi produk bermanfaat, sehingga selain pabrik gula, mereka juga memiliki Pabrik pupuk organik berbahan baku blotong, pabrik pakan ternak berbahan baku pucuk tebu, dan pabrik bioethanol berbahan baku tetes tebu.

Semoga swasembada gula bisa menjadi kenyataan pada tahun 2019 nanti. Bersama kita bisa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *