Mengembalikan Kejayaan Cita Rasa Kopi Garut

Artikel Kopi Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Tahun 2018 merupakan tahun perbenihan komoditas perkebunan sebagaimana yang canangkan oleh Menteri Pertanian pada tahun 2017. Kegiatan tersebut difokuskan pada produksi benih unggulan nasional bernilai ekonomi tinggi. Dalam pelaksanaanya dimandatkan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian khususnya melalui APBN-P dengan memaksimalkan peran dari Puslitbang Perkebunan dengan UPT-nya (Balittri, Baliitro, Balittas dan Balit Palma) serta BBP2TP/ Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).

Hasil produksi tersebut didistribusikan pada tahun 2018 berdasarkan calon petani/calon lokasi (CP/CL) dengan melibatkan Direktorat Jenderal Perkebunan khususnya Direktorat Perbenihan. Benih dibagikan gratis kepada petani berdasarkan potensi dan pengembangan komoditas perkebunan kedepan, dengan harapan mampu meningkatkan produksi/produktivitas sekaligus pendapatan petani dalam jangka panjang dari benih unggul bersertifikat tersebut.

Tahun perbenihan sebagai langkah awal untuk mengembalikan kejayaan rempah nusantara terutama komoditas yang menjadi kebutuhan dunia dan bernilai ekonomi tinggi seperti tebu, kopi, karet, kelapa sawit kakao, lada dan yang lainnya. Berdasarkan hasil penelitian khususnya komoditas kopi mengalami persaingan ketat pada pasar dunia dan Indonesia masa masanya pernah menjadi urutan ke 3 dunia baik dari sisi kuantitas dan kualitas (cita rasa).

Namun seiring dengan perkembangan teknologi pertanian (budidaya, mekanisasi dan pasaca panen), kopi Indonesia menempati urutan 4 dunia setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penurunan permintaan tersebut akibat dari menurunan kualitas kopi terutama dari pengolahan dan penanganan pasca panen serta belum maksimalnya promosi. Penurunan tersebut juga dialami oleh komoditas-komoditas perkebunan yang lainnya.

Hal tersebut menjadi pekerjaan besar bagi Kementerian Pertanian dan harus segera mengambil langkah yang tepat dan cepat untuk mengembalikan kepercayaan dunia terhadap komoditas perkebunan Indonesia. Titik permasalahanya ada pada petani dan masih belum maksimalnya pengelolaan komoditas perkebunan terutama oleh Pemerintah Daerah. Permasalahan tersebut menyangkut aspek teknis (budidaya), non teknis (kelembagaan petani) dan pemasaran (penanganan pasca panen dan promosi).

Dalam upaya ikut serta menangani masalah tersebut, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan melalui Sub Bidang Kerjasama Penelitian (KSP) melakukan rintisan kerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat terutama untuk komoditas perkebunan. Rintisan kerjasama tersebut telah dilakukan pada tahun 2017, namun karena beberapa kendala teknis (peralihan kepala daerah dan struktur dinas), maka ditindaklanjuti pada tahun 2018 tepatnya pada tanggal 21 Februari.

Rintisan yang akan menjadi MoU tersebut diharapkan mampu memecahkan beberapa permasalahan dan upaya pengembangan komoditas perkebunan di Kabupaten Garut khususnya komoditas kopi (arabika dan robusta), karet, teh, tembakau dan akar wangi). Dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut, komoditas kopi dikembangkan di 26 kecamatan, namun pada kenyataanya masih mengalami beberapa kendala, seperti belum tepatnya cara memanen/memetik kopi, penjemuran, pemupukan, tidak adanya penyuluh perkebunan dan tenaga dibidang hama dan penyakit.

Pada rintisan tersebut Kasubid Kerjasama Dr. Saefudin mengatakan, bentuk kerjasama difokuskan pada komoditas unggulan/utama Kabupaten Garut terutama kopi yang sudah terkenal cita rasanya melaui bimbingan teknis (pendampingan), penelitian dan sharing berbagai informasi terutama terkait teknologi dibidang perkebunan (budidaya, mekanisasi dan pasca panen). Puslitbang Perkebunan akan memaksimalkan kerjasama tersebut sehingga dimasa mendatang akan mempu menjawab tantangan pasar dunia teruatam dari kualitas dan kuantitas produk-produk perkebunan.

Rintisan dan MoU yang akan dibangun tidak hanya mampu menyelesaikan masalah teknis namun akan mampu memberikan spirit bagi pemerintah daerah dan petani untuk menggeluti kembali komoditas perkebunan dengan maksimal sebagai bentuk memujudkan kejayaan rempah nusantara sdan meningkatkan kesejahteraan petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *