Mengapa Khat/Teh Arab Dilarang Dikembangkan

Artikel Obat Berita Perkebunan

WARTA PERKEBUNAN – Teh Arab (Catha edulis) sering disebut juga khat, kat, gat, hat, Arab teh, Afrika teh. Tanaman ini merupakan tanaman introduksi dari negar Afrika Timur, Arabia menyebar ke Yaman, Amerika Serikat dan Eropa. Ciri teh arab mudah dibedakan dengan tanaman teh pada umumnya, yaitu mempunyai daun dan ujung batang berwarna kemerahan, tepi daun bergerigi, bentuk agak membulat pada pangkalnya, ujung daun tumpul, dan tanpa memiliki peko/pucuk yang menggulung.

Metilon adalah zat sintetis produk turunan dari katinon alias zat psikoaktif yang secara alamiah banyak terkandung dalam tanaman khat/teh arab. Sedikit orang mengetahui bahwa pemerintah menetapkan zat katinon sebagai psikotropika.

Kemudian statusnya berubah menjadi narkotika golongan I pada UU No. 35 tahun 2009. Banyak ahli mengaitkan hubungan antara katinon yang terkandung dalam daun khat (teh arab) dengan zat penenang seperti amfetamin. Sehingga bahan yang terkandung dalam daun khat sering disebut sebagai amfetamin alami. Dengan adanya seinyawa yang bersifat sebagai amfetamin dan masuk narkotika golongan I, maka tanaman khat dilarang dikembangkan di Indonesia.

Khat masuk ke Indonesia, khususnya di daerah Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat melalui para wisatawan dari Timur Tengah pada tahun 2005. Sejak saat itu masyarakat di sekitar Puncak membudidayakan khat yang kerap dikonsumsi oleh wisatawan dari Timur Tengah.

Info terkait : Warta Puslitbangbun Vol. 21 No. 1, 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *