Mengais Gula di Lereng Gunung Tambora

Artikel Tebu Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Upaya pemenuhan kebutuhan gula, pemerintah membuka lebar-lebar kepada pihak swasta untuk mendirikan pabrik gula. PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) pada tahun 2016 membangun Pabrik Gula baru di Dompu, NTB dengan luas area tertanam (HGU dan mitra) seluas 5.299 ha. Saat itu areal yang terpanen hanya 1.477 ha dengan produksi tebu 62.353 ton dan menghasilkan hablur 3.325 ton. Rendemennya tergolong rendah hanya 5,3%. Produktivitas hablur tergolong rendah hanya 2,12 ton/ha, hablur nasional rata-rata 4,98 ton/ha. PT SMS mengandalkan lahan di lereng Gunung Tambora di Kabupaten Dompu dan kini mulai mengepakkan sayapnya di Kabupaten Bima. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan karena daerah ini adalah daerah baru untuk tanaman tebu. Petani belum paham tentang budidaya tebu yg benar, pemeliharaan belum optimal dan terkesan seadanya.

Selain itu sebagian besar lahan kering tadah hujan, kurang subur berjenis tanah regosol didominasi pasir dan liat. Kabupaten Dompu punya iklim yang tegas yaitu musim hujan dan musim kemarau. Hujan dimulai pada bulan November dan berakhir pada bulan Mei. Bulan Juni sampai Oktober adalah bulan kering. Saat musim hujan tebu ditanam karena dalam pertumbuhannya tebu perlu air yang cukup. Saat musim kemarau adalah untuk pembentukan gula, karena gula terbentuk optimal di lapang dalam kondisi kering. Tebang dilakukan dalam musim kemarau, kondisi lapangan tidak becek dan memudahkan transportasi.

Upaya PT SMS mengais gula di lereng Gunung Tamboro perlu diberi apresiasi karena memberikan ladang pekerjaan baru bagi penduduk sekelilingnya. Agar memberi manfaat yang optimal masih banyak upaya yang harus dilakukan agar sesuai namanya PT SMS, menjadikan sukses, mantap dan mensejahterakan masyarakat sekelilingnya. Berdasar informasi petani kekeringan yang jadi kekawatiran petani walau di beberapa daerah bisa di atasi dengan pompa. Karena tergantung dari air tadah hujan tentu waktu tanam tebu harus tepat waktu. Varietas yang ditanam harus sesuai kondisi kering selain dipilih tebu yang batangnya keras agar tidak dirusak hama kera dan babi. Keterbatasan tenaga kerja harus dibantu mekanisasi. Tenaga tebang juga masih mendatangkan dari luar daerah. Tentu harus ada perbaikan yang menyeluruh mulai dari on farm dan off farm. Pabrik Gula harus menggunakan mesin yang efisien. Jangan sampai karena pabrik yang tidak efisien dibebankan petani.

Langkah awal yang harus dilakukan sebelum langkah-langkah yang lain dilakukan adalah uji adaptasi varietas komersial yang sesuai dengan kondisi daerah kering. Uji adaptasi varietas ini sangat penting dan perlu dilakukan, karena setiap varietas mempunyai karakter genetik yang berbeda. Masing-masing varietas pada kondisi lingkungan terbatas, umumnya menunjukkan respon yang berbeda. Dengan diketahuinya keunggulan dan toleransi masing-masing varietas pada kondisi lingkungan terbatas, maka penempatan varietas pada tipologi wilayah tumbuh yang sesuai dapat memberikan konstribusi hasil potensi rendemen yang terbaik. Kegiatan uji adaptasi yang diprakarsai oleh UPTD Balai Benih Tanaman Perkebunan Nusa Tenggara Barat bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) bertujuan untuk mendapatkan varietas yang sesuai dengan kondisi ekologi setempat dengan indikator produktivitas tebu dan rendemen tinggi atau hablur tinggi. Hasil sementara menunjukkan bahwa dari 10 varietas tebu yang dicoba beberapa menunjukkan daya adaptasi yang baik untuk daerah tersebut. Berdasarkan indikator hablur yang dihasilkan dapat ditarik kesimpulan bahwa varietas-varietas PS 862 (masak awal tengah) disusul VMC 86-550 (masak awal) dan PS 864 (masak tengah lambat) mempunyai daya adaptasi yang baik di lokasi uji dan varietas tersebut berpotensi untuk dikembangkan di daerah tersebut.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *