Melejitkan Potensi Komoditas Perkebunan Kabupaten Bangka Barat

Aktifitas Puslitbangbun Artikel Kelapa Berita Perkebunan Highlight

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Tanaman kelapa merupakan salah satu dari sebelas komoditas andalan perkebunan penghasil devisa negara, sumber pendapatan asli daerah (PAD), sumber pendapatan petani dan masyarakat. Dengan demikian komoditas kelapa diharapkan dapat membantu mengentaskan kemiskinan di daerah dan dapat mendorong perkembangan agroindustri serta pengembangan wilayah. Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan komoditas kelapa. Namun demikian upaya pengembangan komoditas kelapa dihadapkan pada berbagai kendala antara lain: (1) Produktifitas yang masih rendah, 1,1 ton kopra/ha/tahun (di bandingkan dengan potensi produksi yang bisa mencapai 3 ton kopra/ha/tahun), karena banyak kelapa berumur di atas 60 tahun, dan budidaya dengan bibit asalan, (2) rendahnya pendanaan khususnya untuk perkebunan, (3) Kebijakan pembangunan yang belum mendukung sektor perkebunan, (4) Industri hilir yang belum berkembang, sehingga sebagian besar produk dijual dalam bentuk produk primer, dan (5) kurangnya kesadaran masyarakat khususnya para petani perkebunan akan prospek pengembangan kelapa dan pengolahannya yang dapat dijadikan sebagai usaha tani yang menjanjikan.

Komoditas perkebunan merupakan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara Indonesia, yang dapat dilihat dari nilai ekspor komoditas perkebunan, pada Tahun 2015 total ekspor perkebunan mencapai US$ 23,933 milyar atau setara dengan Rp. 311,138 triliun (asumsi 1 US$=Rp.13.000). Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional semakin meningkat dan diharapkan dapat memperkokoh pembangunan perkebunan secara menyeluruh. Menyikapi tantangan, permasalahan dan potensi besar komoditas kelapa dimasa mendatang pemerintah daerah harus melakukan sinergisitas dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian dalam rangka penelitian dan pengembangan.

Sebanyak 11 orang, yang terdiri dari 8 Anggota Dewan dari Komisi II DPRD, 2 staf dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten bangka Barat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Kamis, 15/03/2018). Rombongan diterima oleh Kepala Pusat yang diwakili oleh Dr. Rustan Massinai selaku Kabid Program dan Evaluasi sekaligus Plh Kapus, dan Kepala Bidang KSPHP Dr. Jelfina C. Alouw.

Pada pertemuan tersebut Dr. Rustan Massinai memberikan arahan dan informasi terkait Kebijakan Kementerian Pertanian terkait upaya Menteri Pertanian mengalokasikan anggaran khusus untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia melalui penelitian, produksi dan pengembangan komoditas perkebunan. Kementerian Pertanian menargetkan kurang lebih 3 tahun upaya mengembalikan eksistensi/kejayaan rempah Indonesia melalui pengembangan benih sumber dan sebar di seluruh Indonesia termasuk provinsi Bangka Belitung melalui BPTP Babel untuk memproduksi benih terutama lada dan kopi. Melalui APBN P 2017 Lingkup Puslitbang Perkebunan telah menghasilkan benih sebar untuk didistribusikan pada tahun 2018 ke seluruh petani secara gratis, demikian halnya pada tahun 2018 melalui APBN Badan Litbang Pertanian telah menyiapkan benih perkebunan ke seluruh Indonesia yang distribusinya melalui Dinas Perkebunan masing-masing wilayah.

Selanjutnya Ketua Komisi II DPRD Zalfian Zainudin, menyambut baik atas respon Puslitbang Perkebunan dalam kunjungan tersebut. Zalfan menyatakan, bahwa tujuan kunjungan kerja tersebut untuk mengetahui lebih lanjut tentang tanaman kelapa terutama kelapa dalam dan bagaimana langkah-langkah dan strategi pengembanganya. Zalfan mengaskan, bahwa kunjungan ini adalah kunjungan kedua kalinya dan pada kesempatan berikutnya Puslitbang Perkebunan akan mendapatkan undangan dari komisi II DPRD untuk membicarakan langkah selanjutnya terkait pengembangan kelapa melaui kerjasama yang konkrit.

Pada saat yang sama Kepala Dinas Pertanian dan Pangan juga menyampaikan perkembangan komoditas perkebunan di Provinsi Bangka Belitung, antara lain: (1) perkembangan dari tahun ketahun mengalami fluktuasi, (2) luas areal dan potensi lahan perkebunan di Bangka Barat cukup banyak, (3) Bangka Barat memiliki 6 kecamatan dengan potensi komoditas unggul terutama perkebunan (Kelapa sawit, lada, karet dan kelapa), (4) perkembangan kelapa dari tahun 2016 sampai sekarang sudah meningkat dari sisi luas areal, sementara kelapa paling sedikit pengembangannya, (5) berdasarkan hasil Musrembang tahun 2017, petani mengingikan tanaman kelapa genjah, (7) Pemda Bangka barat mengharapkan kerjasama dengan Badan Litbang Pertanian, Puslitbang Perkebunan dan Balai-Balai dalam program pengembangan komoditas perkebunan ke depan dan (8) informasi terkait teh Tayu (varietas lokal) yang tumbuh baik pada dataran rendah namun belum mendapatkan perhatian khusus dan sertifikasi. Teh lokal yang hidup di dataran rendah tersebut memiliki cita rasa (khasiat) tersendiri dan dikonsumsi luas masyarakat setempat, dan diyakini memiliki khasiat baik untuk kesehatan. Terkait dengan hal tersebut, Dr. Jelfina berharap dapat dikoordinasikan dengan Balittri mengenai teh Tayu untuk melakukan penelitian dan melihat potensi pelepasan varietas dengan melakukan pengamatan dalam jangka waktu yang telah ditentukan (misalnya 3 tahun) sesuai peraturan.

Pada kesempatan tersebut Dr. Jelfina C Alouw, memaparkan profil Puslitbang Perkebunan kemudian menjelaskan jenis-jenis kelapa, kelapa genjah, dalam atau hibrida serta rekomendasi pemanfaatannya, untuk menghindari kekeliruan pengembangan. Kabid KSPHP selanjutnya menghimbau untuk tetap mendorong pengembangan lada serta tanaman lain seperti aren dan tanaman perkebunan lainnya. Dr. Jelfina menyambut baik kedatangan dan berharap langkah nyata pengembangan kelapa dan komoditas lainnya di Bangka Barat melalui kerjasama antara pemerintah daerah dan Puslitbang Perkebunan dan dalam waktu dekat akan diagendakan kunjungan ke komisi II DPRD Bangka Barat sebagai tindak lanjut dari kunjungan saat ini.

Beberapa permasalahan terkait kelapa juga disampaikan terutama menyangkut, produksi kelapa rakyat rendah, proporsi tanaman tidak produktif, penggunaan benih alasan, kurang menerapkan teknik budidaya yang baik, hama dan penyakit, ahli fungsi lahan dan harga yang cenderung fluktuatif. Menyikapi rendahnya produktivitas kelapa, Badan Litbang Pertanian melakukan inovasi teknologi melalui: (1) penyiapan bahan tanaman unggulan, adapun varietas yang sudah dilepas (lelapa dalam 20 varietas, kelapa genjah 7 varietas dan kelapa hibrida 5 varietas), (2) model peremajaan, melalui pendekatan (metode peremajaan kelapa tebang bertahap 20% setiap tahunnya, jarak tanam 6 x 16 m sistim pagar (119 pohon/ha), pemanfaatan lahan dengan tanaman sela dan meningkatkan pendapatan petani 3-5 kali), (3) Strategi peremajaan (program peremajaan kelapa massal (gernas kelapa) dengan target 540.000 ha selama 5 tahun, pembangunan kebun induk kelapa, penerapan teknologi budidaya yang ramah lingkungan, pengembangan kelapa genjah untuk produksi gula, regulasi penyediakan benih, manajemen usahatani dan dukungan dana peremajaan (skim kredit, dan APBN/APBD/Swasta).

Semoga rintisan kerjasama antara Kabupaten Bangka Barat dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan akan menjawab permasalahan komoditas perkebunan dimasa mendatang, sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat terutama pengembangan tanaman kelapa, teh dan lada. (sae/15/03/2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *