Lemak Pala sebagai Bahan Kosmetika dan Pangan

Artikel Rempah Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Biji pala mengandung minyak atsiri (nutmeg oil), selain itu juga mengandung lemak (nutmeg butter) yang disebut fixed oil. Biji pala mengandung lemak sebesar 20 – 40% yang tersusun dari asam miristat, trimiristin dan gliserida dari asam laurat, stearat dan palmitat.  Lemak pala terutama terdapat dalam biji pala yang dipetik tua (± 9 bulan) yang biasa digunakan sebagai rempah.

Isolasi lemak pala (Trimiristin) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) cara pengempaan dengan tekanan tinggi dan suhu panas (2) cara ektraksi biji pala dengan menggunakan pelarut dietil eter.

Isolasi trimiristin dengan cara pengempaan panas (hot press),  biji pala digiling  kemudian dimasukkan ke dalam piringan pres pemanas. Piringan pres dipompa sehingga naik ke atas dan bersentuhan dengan lempeng penekan. Pompa pres dinaikkan terus sampai piringan tidak dapat naik lagi dan seluruh cairan lemak keluar. Pemanas dinyalakan selama pengepresan. Lemak ditampung pada alat ukur, kemudian ditimbang. Selanjutnya lemak yang diperoleh diekstrak dengan etanol untuk memisahkan trimiristin. Kadar trimiristin dari lemak yang dihasilkan dianalisis menggunakan metode kromatografi gas.

Hasil penelitian ekstraksi lemak dengan cara pengempaan tergantung pada lamanya pengempaan, tekanan yang digunakan, dan kandungan minyak dalam bahan asal.  Isolasi lemak dengan menggunakan pengempaan hidrolik pada suhu 70-80ºC, pada biji pala tua (umur panen 8 bulan) diperoleh rendemen lemak 22,02%, sedangkan pada biji pala muda (umur panen 4 bulan) diperoleh rendemen lemak 14,95%.

Isolasi lemak dengan menggunakan pelarut,  biji pala direfluks dengan menggunakan pelarut dietil eter kemudian disaring menghasilkan lemak pala kasar selanjutnya diuapkan untuk menghilangkan pelarut dietil eter. Lemak pala masih menghasilkan minyak atsiri dengan kadar 10-12%,  minyak atsiri dihilangkan dengan cara menggunakan destilasi uap dan diperoleh lemak pala murni.

Selain dari lemak pala, trimiristin biasa diisolasi dari minyak kelapa, minyak inti sawit dan minyak babassu, namun kandungan trimiristinnya lebih rendah, berkisar 14-20%, sehingga sulit untuk dimurnikan, sedangkan kandungan trimiristin lemak pala minimal 70%.

Trimiristin dari lemak pala memiliki keunggulan dibandingkan dengan trimiristin yang berasal dari minyak kelapa, minyak inti sawit, dan minyak babassu, yaitu tidak memerlukan proses fraksinasi dalam pemisahannya serta rendemen dan kemurniannya lebih tinggi karena tidak tercampur dengan  asam lemak lainnya, seperti asam laurat dan asam palmitat.

Trimiristin merupakan padatan berwarna putih, termasuk lemak jenuh, bersifat tidak larut dalam air tetapi larut dalam minyak, eter, kloroform dan benzena, mencair pada suhu 45°C – 51ºC, mempunyai bobot jenis 0.990 – 0.995, merupakan lemak jenuh, bersifat stabil, dan tidak rusak oleh reaksi oksidasi (Deman, 1997).  Trimiristin secara fisiologis merupakan suatu trigliserida yang dibangun dari asam lemak dengan rantai karbon C14 (asam miristat). Komposisi trimiristin terdiri dari asam miristat dan gliserol.

Pada industri kosmetika, trimiristin digunakan sebagai bahan pemutih kulit (whitening agent). Trimiristin juga dapat diolah menjadi senyawa turunannya, yaitu asam miristat dan miristil alkohol, yang banyak digunakan dalam pembuatan sabun, detergen, dan bahan kosmetika lainnya, seperti shampo, lipstik, losion dan lain-lain .  Trimiristin, bersama dengan asam miristat, miristisin dan elimisin memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anticonvulsant, analgesik, anti imflamasi, anti diabet, anti bakteri dan anti jamur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *