Kunjungan Kerja Rombongan Komisi IV DPR RI dan Kementan di Sulut

Artikel Kelapa Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Ketua Komisi IV DPR-RI Bapak Edhi Prabowo dan 14 anggota rombongan komisi berkunjung ke Sulawesi Utara dalam rangka masa reses sidang bersama Kepala Badan Karantina Pertanian (BKP) Dr. Ali Jamil dan Direktur Jenderal Perkebunan (DIrjenbun) Dr. Kasdi Subagyono. Rombongan disambut oleh Assisten I dan II Pemprov Sulawesi Utara, Kepala Dinas Perkebunan Sulut serta pejabat struktural lingkup kementerian pertanian di Sulut antara lain kepala Karantina Klas I Manado Ir. Junaidi S dan Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) Dr. Ir. Ismail Maskromo, MSi. dan Engelbert Manaroinsong SP.M.Si bersama staf.

Dalam kunjungannya ke Kota Bitung Kepala Badan Karantina, Kementan Dr. Ali Jamil yang didampingi Tim Balit Palma dan Balai Karantina Klas I Manado mengikut Launching Ekspor COPEX dan PKE (14/02/2018). Didampingi General Manager PT Multi Nabati Sulawesi, Kepala BKP me-launching sebanyak 6.850 MT produk COPEX dan PKE senilai Rp 17 miliar dengan negara tujuan Korea Selatan. Setelah acara launching.

Perjalanan berikutnya adalah menuju desa Wusa Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara untuk bertemu dengan petani kelapa sekaligus secara berturut ketua Komis IV DPR Republik Indonesia, Direktur Jenderal Perkebunan dan Kepala Dinas Perkebunan melakukan penanaman perdana kelapa Dalam.

Dalam sambutannya di hadapan petani Wusa, Ketua Komisi IV DPR RI menyampaikan maksud dari kunjungannya adalah untuk memastikan bantuan yang diberikan sudah terealisasi. Dia memberi semangat kepada para petani agar tidak menyerah terhadap harga kelapa di dunia yang turun. Kata dia, Indonesia adalah pasar utama kelapa. Jadi, harus optimis. “Cara menyiasatinya adalah dengan membuat industri olahan kelapa. Seperti minyak kelapa, desicated coconut atau tepung kelapa, coconut crude oil alias minyak nabati, dan sebagainya. Dengan begitu ada nilai tambah sehingga pendapatan petani meningkat”, ujarnya.

Dirjen Perkebunan Dr. Kasdi Subagyono juga menyampaikan bahwa luas perkebunan kelapa saat ini sekitar 3,6 juta hektar. Hanya saja, produktivitasnya masih rendah dengan rara-rata 1,2 ton per hektar. Sebanyak 15-20 persen dari luar perkebunan perlu peremajaan. Dengan kondisi harga kelapa saat ini, tentu belum bisa meningkatkan pendapatan petani. Apalagi petani hanya menjual kelapa per butir. Karena itu, Kementan telah menyediakan benih kelapa berkualitas. “Harapannya, para petani mulai mengganti tanaman kelapa tua untuk meningkatkan produktivitas,” ucapnya. Untuk menunggu panen, yang membutuhkan waktu sekitar 3-5 tahun, agar petani tetap punya penghasilan sebelum masa panen tiba, pihaknya memberi bibit jagung dan padi gogo yang dapat dikombinasikan diantara kelapa.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Palma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *