Kopra Indonesia Dan Upaya Peningkatan Daya Saing

Artikel Kelapa Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Indonesia merupakan negara agraris yang memerlukan perhatian khusus untuk mengolah sumber dayanya terutama pada sektor pertanian agar bisa kuat dan tangguh dalam menghadapi persaingan global. Sektor yang memegang peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia adalah sektor perekebunan. Perkebunan yang dimaksud ini adalah kelapa, kelapa merupakan salah satu komoditi yang memiliki nilai jual yang penting bagi petani di Indonesia. Data tahun 2019 menunjukkan, Indonesia memiliki luas areal kelapa 3.500.726 (ha) dan menghasilkan produksi sebanyak 2.992.190 (ton).

Berdasarkan data tersebut, Indonesia memiliki potensi besar dibidang industri ekspor kelapa. Salah satu produk turunan kelapa yang memiliki fungsi penting dalam pertumbuhan ekonomi dan menambah devisa negara Indonesia adalah kopra. Menurut Woodroof (1970:43), kopra adalah nama untuk daging buah kelapa yang dikeringkan. Setelah dikeringkan kopra baru bisa diproduksi dan selajutnya diproses menjadi minyak kelapa. Sisa dari pengolahan minyak kelapa disebut bungkil kopra yang digunakan sebagai makanan ternak. Pembuatan kopra memerlukan berbagai langkah mulai dari pemanenan sampai pemasaran produknya.

Penurunan Produksi dan Peremajaan

Produksi kelapa rakyat pada saat ini cenderung menurun yaitu di bawah 6 ton/ha, artinya perlu ditempuh langkah cepat dan tepat untuk meningkatkan kembali hasil produksinnya. Upaya tersebut dapat melalui peremajaan kebun kelapa rakyat dilakukan untuk meningkatkan produksi kelapa yang rendah akibat banyak tanaman berumur tua dan wewenan peremajaan adalah tugas pemerintah.

Luas perkebunan kelapa di Indonesia saat ini mencapai 3,5 hektar, dari jumlah tersebut 97% didominasi oleh perkebunan rakyat dan kelapa yang dimiliki petani tersebut rata-rata sudah berusia tua dan penanganan pasca panen/pengolahanya sangat sederhana. Adapun peremajaan perkebunan kelapa hingga saat ini belum banyak dilakukan karena terkendala anggaran dan ketersediaan varietas unggul baru (VUB?), sehingga dampaknya, terjadi penurunan produksi kelapa. Selain itu, berbeda dengan komoditas lain seperti karet atau kelapa, untuk komoditas kelapa tidak ada jaminan bakal terserap maksimal. Padahal, kelapa merupakan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bernilai tambah.

Faktor lain masing memprihatinkan adalah masih banyak kelapa dalam bentuk bulat yang diekspor, terutama dari Provinsi Riau. Oleh karena itu, diharapkan industri kelapa terpadu dapat segera dibangun. Untuk menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertanian melalui Dirjen Perkebuanan dan Balitbangtan/Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Balit Palma) saat ini sedang melakukan peremajaan, terutama pada kebun kelapa dalam, atau kelapa yang berbuah pada umur tua pada 6-8 tahun. Peremajaan dilakukan di 19 provinsi di Indonesia.

Kementan juga mencatat, luas lahan kelapa yang rusak mencapai 500 ribu hektar, untuk itu peremajaan perlu dilakukan secara bertahap. Selain itu, peremajaan juga dilakukan melalui program Benih Unggul Perkebunan (BUN) 500. Melalui program tersebut, penyediaan bibit unggul kelapa mencapai 132.000 hektar, jumlah pohon yang diremajakan setiap hektar mencapai 120 pohon atau 120 benih. Adapun biaya peremajaan meliputi biaya benih seharga Rp 20 ribu per benih dengan biaya pupuk pestisida mencapai Rp 30 juta per hektar.

Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Kelapa Nasional

Berdasarkan analisis internal maupun eksternal pada industri kopra, Indonesia memiliki empat faktor penting sebagai dasar pemikiran dan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan dan pengembangan kelapa pada saat ini dan dimasa mendatang. Beberapa hal yang harus dicermati adalah aspek kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Kekuatan, (1) memiliki pelabuhan internasional pelabuhan internasional merupakan pintu perdagangan internasional ada beberapa pelabuhan internasional yang berada di Indonesia. Pelabuhan internasional mampu membuat proses pengeriman hasil produksi kopra dapat mengurangi biaya pengiriman yang dikeluarakan produsen. Sehingga posisi ini dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam kegiatan ekspor kopra, dan (2) memiliki banyak tenaga kerja Industri pengolahan kelapa khususnya kopra memerlukan tenaga kerja yang banyak mulai dari panen hingga produksi.Banyaknya tenaga kerja itu menjadi kekuatan industri kopra baik yang ada di Jawa Timur, walaupun upah yang diberikan tergantung hasil penjualan hal ini dapat menjadi keuntungan bahwa tenaga kerja perkebunan dan tenaga kerja produksi tidak terlalu menuntut upah yang besar. Hal tersebut menjadi kekuatan atau keunggulan bersaing antar negara dalam kegiatan ekspor kopra.

Kelemahan, (1) proses produksi, dikarenakan banyaknya kebutuhan konsumsi dari pada kebutuhan industri maka petani banyak yang malas mengolah kelapa menjadi kopra, hal ini yang menjadikan kopra Indonesia mengalami kekurangan untuk diekspor karena kelapa yang seharusnya diproduksi menjadi kopra melainkan dijual dalam bentuk kelapa utuh di pasar maupun diolah menjadi degan pemain kopra rata rata broker, (2) Usia tanaman kelapa, rata-rata tanaman kelapa yang sudah tua dan produktivitas tanaman kelapa yang menurun menjadi kelmahan tersendiri mengingat faktor tersebut akan sangat berpengaruh terhadap proses produksi kopra dan itu berimbas pada ekspor kopra Nasional, dan (3) Jarak tanam, tersedianya banyak kelapa di Indonesia tidak menjadikan keuntungan dikarenakan kepemilikan lahan yang mayoritas dimiliki rakyat jadi penanaman tidak bisa satu tempat atau monokultur. Sehingga masih banyak produsen kopra harus mengambil buah kelapa dari suatu tempat ke tempat yang lainnya untuk diolah menjadi kopra. Hal itu menjadikan salah satu kelamahan industri pengolahan kopra yang ada di Indonesia dalam kegiatan produksi dan ekspor kopra.

Peluang, Permintaan kopra. Masih banyaknya kebutuhan minyak yang berbahan dasar kopra baik di luar negeri dan dalam negeri dapat menjadi peluang dalam industri pembuatan kopra.

Ancaman, (1) Pengembangan kelapa, ancaman dari pengembangan kelapa di Indonesia banyaknya lahan kelapa yang dialih fungsikan menjadi perumahan, perkebunan sawit dan proyek lainnya menjadikan berkurangnya tanaman kelapa dan berkurangnya produktivitas tanaman kelapa. Berkurangnya lahan dan produktivitas membuat kegiatan produksi kopra menjadi terganggu dan kegiatan ekspor koprapun juga ikut terganggu dan hal tersebut dapat mengancam industri kopra, usia tanaman kelapa rata-rata berusia tua dan produktifitasnya rendah, dan (2) Industri kopra. Sudah berkurang minat petani dalam mengolah kelapa menjadi kopra karena harga kopra naik turun dan tidak menentu sehingga membuat petani lebih menjual dalam bentuk kelapa utuh. Tidak bagusnya penataan kelembagaan industri yang bergerak dibidang kopra hal ini dapat mempengaruhi tingkat daya saing ekspor industri kopra Indonesia di pasar internasional.

Upaya Pengembangan dan Peningkatan Daya Saing

Terkait daya saing kopra Indonesia serta kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman kopra yang ada. Penelitian sebelumnya menyatakan, bahwa dalam menghitung RCA menunjukkan bahwa untuk menghitung daya saing ekspor kopra Indonesia, maka hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing walaupun daya saing Indonesia masih di bawah Srilangka, tetapi Indonesia konsisten dengan jumlah kopra yang diekspor tidak banyak tidak juga sedikit berbeda dengan Srilangka. Walaupun di Indonesia industri kopra belum merata dan besar, akan tetapi sebagai tempat transit kopra yang dikirim melalui pelabuhan yang ada, juga ada pengusaha nasional yang memiliki bisnis kopra yang bahan kopranya diambil dari luar pulau untuk dikirim melalui pelabuhan yang ada. Jadi, Indonesia masih memiliki daya saing kopra, dan masih tetap eksis melakukan kegiatan ekspor meski banyak kendalal dan faktor yang mempengaruhil daya saing keduanya.

Selanjutnya bahwa untuk menjaga daya saing ekspor perlu untuk memahami faktor-faktor lingkungan yang ada di dalam dan yang ada di luar. Indonesia memiliki peluang diantaranya masih tingginya minat pasar internasional pada hasil olahan kelapa yaitu kopra yang digunakan untuk bahan minyak goreng dan minyak lainnya. Banyaknya permintaan tidak sebanding dengan produksi yang dihasilkan Indonesia. Keduanya mempunyai ancaman diantaranya ancaman kekurangan bahan baku, banyaknya alih fungsi lahan, serta mulai berkurangnya minat petani untuk mengolah kelapa menjadi kopra.

Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam rangka memperkuat daya saing kopra nasional adalah: (1) Membuat saluran distribusi yang bagus agar hasil panen kelapa rakyat dapat dihubungkan langsung dengan industri khususnya kopra. 2. Meningkatkan kualitas dan mutu kopra, dan (3) Meningkatkan SDM dengan memberikan arahan dan bantuan teknologi pengolahan khususnya dalam industri kopra. (Saefudin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *