Konservasi Dan Potensi Pengembangan Kemukus

Inovasi Teknologi

ABSTRAK

Kemukus (Piper cubeba L.) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang nyaris punah, padahal potensi tanaman tersebut cukup menjanjikan. produksi nasional buah kemukus saat ini hanya sekitar 223 ton/tahun, dengan luasan 517 ha, berarti produktivitasnya hanya 0.43 ton/ha/th. Bila diasumsikan pada populasi/ha rata-rata 2.000 tanam, maka produktivitasnya setara dengan 0.215 kg/ph/th. Tingkat produktivitas sebesar tersebut masih terlalu rendah dan berpeluang besar untuk ditingkatkan.

PENDAHULUAN

Kemukus (Piper cubeba L.) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang nyaris punah, padahal potensi tanaman tersebut cukup menjanjikan. Buah kemukus banyak dibutuhkan dalam industri obat tradisional (IOT). Burkill (1935), mengemukakan bahwa dalam obat tradisional Indonesia buah kemukus digunakan untuk mengobati penyakit kelamin, brochitis, disentri dan penyakit perut. Di negara-negara Eropa pada awalnya bahwa buah kemukus tersebut hanya digunakan untuk rempah, namun belakangan digunakan juga sebagai obat, terutama untuk mengobati penyakit gonorhea, disentri dan penyakit perut lainnya. Di Amerika Serikat selain digunakan untuk mengobati jenis-jenis penyakit seperti tersebut di atas juga digunakan untuk mengobati penyakit catarrhen dan pembuatan sigaret asthma.

Hasil penelitian de Jong (1948) dikemukakan bahwa dalam buah kemukus terkandung 10 – 20% minyak atsiri, namun hasil penelitian Rusli dan Soepandi (1981), buah kering kemukus asal Jawa Tengah hanya mengandung sekitar 6.51% saja. Walaupun kandungan kadar minyak atsiri kemukus asal Jawa jauh lebih rendah, namun sampat saat ini pemasarannya tidak mengalami masalah. Rendahnya kandungan minyak atsiri kemukus lokal disebabkan karena pengaruh cara budidaya yang masih sangat sederhana.

Berdasarkan catatan sejarah, seperti yang dikemukakan oleh Purseglove (1968) dalam bukunya berjudul Tropical Crops Dycotyledonae, bahwa tanaman kemukus merupakan tanaman asli Indonesia. Dahulu tanaman tersebut tumbuh secara liar di bagian Barat Nusantara, terutama di tepi-tepi hutan payau. Dalam bahasa daerah dikenal dengan nama kemukus (Indonesia), kemukus atau timukus (Jawa), rinu (Sunda), kamokos (Madura), kemukuh (Simalur). Dalam bahasa Inggrisnya dinamakan cubeb pepper.

Van Romburgh (1886) menyatakan bahwa tanaman kemukus sudah dibudidayakan petani Indonesia sejak lama dan cara pemeliharaan yang dilakukan petani terhadap tanaman kemukus sama dengan cara-cara pemeliharaan tanaman lada (Peper nigrum L.). Daerah-daerah penghasil utama kemukus diwaktu jaman penjajahan Belanda yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Balikpapan (Kalimantan Tengah).

Saat ini di daerah Jawa Barat, Sumatera Utara dan Balikpapan sudah tidak ditemukan lagi petani yang menanam kemukus. Menurut tim survey Balittro (2003), dalam laporannya tentang studi penyerapan bahan obat alami di Indonesia, menyatakan bahwa pertanaman kemukus di Indonesia hanya dijumpai di Propinsi Jawa Tengah dengan luasan sekitar 517 ha. Hilangnya kemukus disebagian besar daerah pertanaman kemukus di Indonesia tidak diketahui dengan pasti, namun diduga karena adanya serangan penyakit. Dugaan ini didasari informasi dari petani, bahwa setiap musim hujan tiba banyak tanaman kemukus yang mati karena terserang penyakit busuk pangkal batang. Sebaran areal tanaman dan produksi kemukus di Indonesia saat ini tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Sebaran Tanaman Kemukus Indonesia Saat Ini

Sumber: Balittro, 2003

 

 

POTENSI DAN PROSPEK PEMASARAN BUAH KEMUKUS

Indonesia menjadi pengekspor buah kemukus sejak jaman penjajahan Belanda. Periode tahun 1918 – 1925, ekspor buah kering kemukus Indonesia rata-rata mencapai 184.40 ton/tahun. Pada masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlah ekspornya masih stabil, sedangkan pada periode 1934-1939 rata-rata 134 ton/tahun. Beberapa tahun menjelang dan sesudah perang kemerdekaan ekpor buah kemukus terhenti, namun pada tahun 1956 mulai mengekspor kembali dan jumlah ekspor mencapai 432 ton pada periode tahun 1962. Setelah itu produksi buah kemukus Indonesia terus merosot, eskpor terakhir hanya sebanyak 93 ton terjadi pada tahun 1969 (Tabel 2). Tujuan ekspor Indonesia waktu itu adalah ke negara Malaysia, Singapura, Hongkong, Jepang, Jerman Barat, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya. Sejak periode 1963 sampai saat ini Indonesia tidak lagi menjadi negara pengekspor buah kemukus, karena untuk kebutuhan di dalam negeri saja tidak terpenuhi.

Tabel 1, menunjukkan bahwa produksi nasional buah kemukus saat ini hanya sekitar 223 ton/tahun, dengan luasan 517 ha, berarti produktivitasnya hanya 0.43 ton/ha/th. Bila diasumsikan pada populasi/ha rata-rata 2.000 tanam, maka produktivitasnya setara dengan 0.215 kg/ph/th. Tingkat produktivitas sebesar tersebut masih terlalu rendah, mengingat berdasarkan hasil survey dan wawancara penulis (2003) dengan petani kemukus di daerah produksi kemukus di Kabupaten Wonosobo dan Purworejo (Jawa Tengah), tanaman kemukus berumur lebih dari 20 tahun dalam keadaan baik dan sehat dapat menghasilkan buah kemukus kering sekitar 20 – 30 kg/pohon/tahun. Tanaman kemukus bisa tumbuh dan berproduksi sampai mencapai umur 50 tahun.

Berdasarkan hasil kajian team survey Balittro menyatakan bahwa kebutuhan buah kemukus untuk dalam negeri mencapai 325.40 ton/tahun. Dengan demikian, masih devisit sekitar 102.40 ton per tahun. Buah kemukus tersebut digunakan dalam industri obat tradisional (IOT), industri kecil obat tradisional (IKOT) serta oleh kebutuhan obat tradisional dalam rumah tangga.

 

 

Tabel 2. Gambaran ekspor buah kemukus Indonesia pada periode sebelum

dan setelah kemerdekaan

Sumber : *)Heyne (1950)

 

**)Biro Pusat Statistik Indonesia dalam Abisono 1970.

 

Harga jual buah kemukus relatif tinggi dan stabil. Diwaktu musim panen raya harga buah kering ditingkat petani antara Rp 25.000,- sampai Rp 30.000,-/kg. Ketika panen buah kemukus kurang baik, harganya bisa mencapai Rp 80.000,-/kg. Pemasarannya sangat mudah, petani dapat menjualnya kepada tengkulak yang datang ketempat petani pada waktu musim panen atau kepada pengumpul yang selalu ada disetiap dusun. Buah kemukus dapat dijual kepada pengumpul baik dalam keadaan segar maupun kering. Bila produktivitas kemukus nasional bisa ditingkatkan dari 0.215 kg menjadi paling rendah rata-rata 1.0 kg buah kering/ph/th, maka dari seluas 517 ha, produksi nasional meningkat menjadi 1.034.00 ton/th. Dengan demikian maka kebutuhan buah kemukus nasional akan terpenuhi, sekaligus dapat mengekspor kembali buah kemukus sebesar 708.6 ton/th.

 

PERMASALAHAN

Secara ekologi pengembangan budidaya tanaman kemukus di Indonesia tidak ada masalah, karena tanaman kemukus merupakan tanaman asli Indonesia. Sementara ini tanpa pemeliharaan yang baik pun setiap tahunnya petani masih dapat memanen buah kemukus dan pemasarannya cukup baik.

Meskipun prospek pemasaran buah kemukus cukup baik dan kebutuhan dalam negeri akan buah kemukus setiap tahunnya belum terpenuhi, namun sampai saat ini perhatian terhadap peningkatan usaha pengembangan budidaya tanaman kemukus, baik itu dari institusi pemerintah, perusahaan swasta maupun LSM, dirasa masih sangat kurang.

Produktivitas kemukus di Indonesia saat ini sangat rendah, dari 517 ha hanya menghasilkan 223 ton/th atau setara dengan 0.215 kg/ph/th. Faktor utama rendahnya produktivitas kemukus Indonesia saat ini adalah selain karena adanya serangan penyakit, yang paling mendasar adalah rendahnya pengetahuan petani tentang tehnik budidaya tanaman tersebut. Dilain pihak penelitian-penelitian yang berkaitan dengan tehnik budidaya dan aspek lainnya belum banyak dilakukan, sehingga paket teknologi budidaya tanaman tersebut sama sekali belum tersedia.

 

TINDAK LANJUT PERMASALAHAN

Tindakan-tindakan mendesak yang kiranya relevan dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan buah kemukus dalam waktu yang singkat adalah: (1) Segera melakukan penelitian-penelitian untuk menyusun suatu paket teknologi budaya kemukus, (2) Mentransfer teknologi hasil penelitian kepada petani, melalui penyuluhan dan pelatihan, (3) Melakukan rehabilitasi dan intensifikasi tanaman yang sudah ada di kebun petani, dengan menerapkan teknologi hasil penelitian.

 

2 thoughts on “Konservasi Dan Potensi Pengembangan Kemukus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *