Petani Kelapa Kab. Banyuasin Inginkan Sentuhan Teknologi

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Petani Kelapa di Kabupaten Banyuasin selama ini bertani kelapa secara turun temurun. Mereka tidak banyak mengetahui tentang teknologi pengembangan kelapa.  Luas perkebunan kelapa rakyat di Kab. Banyuasin mencapai 50.000 ha, tetapi pengembangan kelapa dalamnya jauh dari teknologi. Begitu juga dengan kelapa kopyor, masyarakat sangat tertarik. Namun bagaimana dengan syarat tumbuhnya, apakah sama dengan kelapa yg biasa.

Hal ini disampaikan rombongan Komisi 2 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kab. Banyuasin saat berkunjung ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) Bogor hari Kamis (5/10/2017) yang lalu.Rombongan yang dipimpin oleh Ketua Komisi 2 DPRD Kab. Banyuasin Irwan Setiawan  berjumlah 8 orang yang terdiri dari Ketua dan anggota DPRD serta Ketua KTNA Kab. Banyuasin. Tujuannya adalah untuk menggali informasi tentang komoditas kelapa, kelapa kopyor dan tanaman perkebunan lainnya.

Dalam sesi diskusi, rombongan Komisi 2 menyampaikan bahwa kelapa dan padi merupakan komoditi strategis di Kab. Banyuasin. Lebih lanjut disampaikan bahwa petani kelapa lebih banyak menjual kelapa butiran ke Malaysia dengan harga relatif lebih mahal dari pada harga yang dibeli oleh industri lokal. Maksud kedatangan mereka adalah untuk menjajaki kerjasama pengembangan industri kelapa terpadu di Kab. Banyuasin.

Kepala Puslitbangbun yang diwakili oleh Kabid KSPHP, Jelfina C. Alouw memaparkan beberapa komoditi perkebunan strategis (Tanaman Rempah & obat, tanaman pemanis dan serat, tanaman industri dan penyegar) yang menjadi mandat Puslitbangbun termasuk potensi tanaman dan kebun produksi kelapa kopyor sebagai sumber benih, bibit, nira untuk produksi gula serta lokasi kunjungan wisata ilmiah.

Pola pengembangan yang ditawarkan Puslitbangbun adalah penanaman kebun kelapa genjah kopyor alami (Kk) dipadukan dengan tanaman kopyor hasil kultur embryo (kk) (3:1). Disamping itu, disampaikan pula peluang penerapan pola budidaya multicropping dengan kopi atau kakao untuk meningkatkan pendapatan petani yang pada dasarnya bergantung pada kelapa sebagai sumber pendapatan, penerapan tehnik budidaya yang baik serta hilirisasi produk-produk perkebunan.

Akhir dari kunjungannya, rombongan mengharapkan agar Informasi hasil-hasil penelitian dan penerapannya di Kab. Banyuasin dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerjasama. Kelapa tidak hanya sebagai komoditi untuk pemenuhan kebutuhan saja, tetapi lebih dari itu sudah menjadi bagian dari nilai keindahan, seperti pada real estate menanam kelapa yang sudah besar. Artinya nilai jualnya lebih tinggi seperti kelapa gading. Sepakat adanya kerjasama dalam bentuk seminar, bimbingan teknis, dsb.

Berita Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *