Klon Kakao Unggul dan Teknik Pengelolaan Pertanaman

Artikel Kakao Inovasi Kakao Inovasi Teknologi Produk Inovasi

INOVASI PERKEBUNAN – Produktivitasnya tanaman kakao di NTT tergolong rendah, hanya 526 kg/ha, bahkan menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2009 hanya 228 kg/ha. Rendahnya produktivitas antara lain disebabkan kualitas bahan tanam yang rendah dan  kondisi lahan yang marjinal.

Curah hujan hanya sekitar 1200 mm dengan 6-8 bulan kering (curah hujan <60 mm per bulan) per tahun. Di lain pihak, dewasa ini telah ditemukan klon baru dengan potensi hasil 2,0 – 3,0 ton biji kering/ha, yaitu ICCRI 03, ICCRI 04 serta klon Sulawesi 01, Sulawesi 02, dan Sca 6 dengan produktivitas sekitar 1,5 ton. Batang bawah yang toleran cekaman lengas juga sudah ditemukan, yakni Sca 6 dan Sca 12.

Puslitbang Perkebunan telah memperoleh teknologi budidaya kakao lindak klon-klon unggul spesifik lahan kering iklim kering di Nusa Tenggara Timur serta klon unggul yang adaptif. Bahan tanam dalam bentuk tanaman hasil sambung pucuk disiapkan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Pertumbuhan bibit sambungan yang dicerminkan dari tinggi tunas, diameter, jumlah daun dan luas daun tunas sambungan, tidak menunjukkan perbedaan antar klon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *