Kerjasama Riset dan Capacity Building antara Balitbangtan dengan ACIAR Semakin Diperkuat

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Dr. Fadjry Djufry menerima kunjungan CEO ACIAR Dr. Andrew Campbel untuk membahas kerjasama yang telah terjalin antara kedua institusi dan peluang kerjasama kedepan, pada Kamis (1/8) di Kantor Pusat Blitbangtan, Jakarta. Hadir dalam pertemuan tersebut, Kepala Puslitbang Tanaman Pangan Dr. Harris Syahbuddin, Kepala Puslitbang Peternakan Dr. Atien Priyanti, Sekretaris Balitbangtan Dr. Prama Yufdy, Kepala Puslitbang Perkebunan diwakilkan oleh Dr. Jelfina C. Alouw dan Kepala BBSDLP diwakilkan oleh Dr. Asmarhamsyah.

Kepala Balitbangtan menyatakan apresiasi kepada ACIAR yang sudah menjalin kerjasama dengan Balitbangtan sejak 35 tahun yang lalu. Ruang lingkup kerja sama pada waktu lalu lebih banyak dilakukan pada sektor peternakan dan hortikultura. Kepala Balitbangtan menegaskan peran ACIAR masih dimungkinkan pada komoditas yang lain seperti halnya tanaman sayuran, seperti kentang atau juga di sektor perkebunan pada komoditas kelapa dan juga kopi atau lada.

Kerjasama sekarang ini akan lebih difokuskan pada penguatan sumber daya manusia, seperti yang sementara ini dilaksanakan di negara-negara Pacific kata Dr. Campbell. Training bergelar untuk Ph.D walau saat ini berkurang tapi tetap ada melalui John Dillon Fellowship, termasuk untuk short course training bagi petani juga bisa dilakukan melalui beberapa mekanisme John Allwright Fellowship ataupun mekanisme fellowship lainnya. Women empowerment program juga menjadi prioritas program ACIAR. Negara-negara Pasifik saat ini sedang berupaya mempertahankan plasma nutfah kelapa yang saat ini sedang mengalami kepunahan akibat hama dan penyakit, disamping masalah tanaman tua yang perlu segera direplanting. Negara-negara seperti Indonesia, Philipina, Fiji, Vanuatu dan Papua New Guenea adalah yang berpotensi atas plasma nutfah kelapa yang beragam.

Dr. Jelfina menambahkan bahwa masalah yang dihadapi oleh Indonesia dalam upaya pengembangan tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, lada, dan kelapa adalah proporsi tanaman tua yang semakin besar, serangan hama dan penyakit serta rendahnya kualitas produk yang dihasilkan. Selanjutnya disampaikan pada saat ini Balitbangtan sedang menggagas penelitian dengan University of Queensland tentang micro-propagasi untuk kelapa melalui kultur jaringan. Hal lain juga ditambahkan oleh Prama Yufdy bahwa Pemda Sulawesi Utara saat ini sudah berkomitmen untuk 200 ha lahannya akan diperuntukkan sebagai bank-gen kelapa, jelasnya.

Kepala Puslitbang Peternakan mengatakan bahwa Crop Cow dan Palm cow masih tetap berjalan sampai dengan tahun 2023 dan kegiatan ini juga dilaksanakan di beberapa propinsi seperti di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimatan Selatan, NTB, NTT, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Dr. Harris menyampaikan bahwa untuk bidang tanaman pangan peran ACIAR terkait dengan penyakit pada tanaman singkong juga diperlukan dan saat ini kerja sama dengan BPTP Sumut dan NTB dilaksanakan terkait topik tersebut. Policy Advisory Councill Meeting direncanakan akan dilaksanakan di Indonesia pada bulan Maret 2020, dan diharapkan Balitbangtan bisa terlibat dalam pertemuan tersebut. CEO ACIAR berharap agar kegiatan para peneliti atau yang terlibat dalam project di kedua Negara ini tidak akan terhambat oleh regulasi imigrasi yang rumit. Semoga Balitbangtan dan institusi lain di lingkup Kementan dan ACIAR dapat terus menjalin kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak demikian kata KaBalitbangtan menutup perbincangan dengan CEO ACIAR. (/JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *