Kerjasama Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (Kopek), dan Puslitbangbun

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Komoditas perkebunan merupakan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara Indonesia, yang dapat dilihat dari nilai ekspor komoditas perkebunan, pada Tahun 2015 total ekspor perkebunan mencapai US$ 23,933 milyar atau setara dengan Rp. 311,138 triliun (asumsi 1 US$=Rp.13.000). Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional semakin meningkat dan diharapkan dapat memperkokoh pembangunan perkebunan secara menyeluruh.

Indonesia merupakan negara yang memiliki lahan tanaman kelapa terbesar di dunia dengan luas areal 3,88 juta hektar (97% merupakan perkebunan rakyat), memproduksi kelapa 3,2 juta ton setara kopra.Selama 34 tahun, luas tanaman kelapa meningkat dari 1,66 juta hektar pada tahun 1969 menjadi 3,8 juta hektar pada tahun 2017. Meskipun luas areal meningkat, namun produktivitas pertanaman denderung semakin menurun (tahun 2013 rata-rata 1,3 ton /Ha, tahun 2017 akibat alih fungsi lahan dan masalah hama dan penyakit rata-rata 0,7 ton/Ha). Produktivitas lahan kelapa Indonesia masih rendah di bandingkan dengan India dan Srilangka.

Disisi lain komoditas kelapa Indonesia memiliki beberapa kekuatan yang patut dibanggakan disamping sisi kelemahan juga dimilki. Kekuatan tersebut adalah: (1) Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, dengan areal tanaman sekitar 3,8 juta ha dan produksi tahun 2005 sekitar 3,2 juta ton setara kopra, (2) kelapa dapat tumbuh hampir diseluruh wilayah Indonesia, karena tidak membutuhkan persyaratan khusus untuk tumbuhnya, (3) banyak produk industri yang dapat dihasilkan dari pengolahan kelapa, antara lain: cocochemical, cocofiber, minyak goreng kelapa, desiccated coconut, nata decoco, arang aktif, dll, dan (4) tersedianya banyak tenaga kerja, baik untuk sektor perkebunan maupun sektor industrinya.

Sementara sisi kelemahan dan menjadi perkerjaan rumah pemerintah adalah: (1) perkebunan kelapa sebagian besar merupakan perkebunan rakyat dengan penguasaan lahan relatif kecil rata-rata 0,5 hektar per keluarga petani, dengan produktivitas sangat rendah, (2) sepertiga tanaman kelapa di Indonesia dalam kondisi tua dan tidak produktif, (3) permintaan terhadap produk-produk berbasis kelapa, baik di pasar domestik maupun dunia masih cukup prospektif, (4) permintaan (demand) terhadap produk-produk kelapa olahan dengan nilai tambah tinggi terus meningkat, dan (5) adanya upaya yang terus menerus untuk melakukan penelitian dalam rangka diversifikasi dan pengembangan produk-produk berbasis kelapa.

Menyikapi hal tersebut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) berupaya semaksimal mungkin berperan aktif dalam pengembangan kelapa Indonesia melalui aktivitas riset dalam upaya menghasilkan varietas unggul baru (VUB), paket teknologi, pengelolaan pasca panen dan merumuskan rekomendasi kebijakan dengan menjalin kerjasama (MoU) dengan seluruh stake holder dengan pemerintah daerah, swasta dan asosiasi komoditas perkebunan. Peran aktif tersebut diwujudkan dalam bentuk penjajakan kerja sama dengan Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK) yang dilakukan di Kantor Puslitbangbun, pada hari Jum’at 23 Februari 2018.

Pada kesempatan penjajakan tersebut Kepala Pusat Dr. Fadjry Djufry yang didampingi oleh Kabid KSPHP Dr. Jelfina C Alouw, Kasubid KSP Dr. Saefudin dan Kabid Program dan Evaluasi Dr. Rustan Massinai menyambut dan mengapresiasi baik upaya dari sahabat kelapa, Mawardi Simpala dan Kadis Pertanian Kab Gorontalo, Rahmat Pomalingo yg mewakili Bupati Gorontalo sebagai ketua Kopek  untuk melakukan kerjasama khususnya dalam pengembangan komoditas kelapa dan rempah lainnya.

Untuk mewujudkan kerjasama tersebut Kapus menawarkan even nasional dan internasional dalam bentuk konferensi atau workshop yang akan digelar di Indonesia Timur yaitu Ternate Maluku Utara pada bulan September 2018 bertepatan dengan hari kelapa sedunia. Selain akan membahas terkait komoditas kelapa pada even tersebut juga akan dibahas komoditas rempah lainnya seperti pala dan cengkeh. Harapan dari kegiatan tersebut akan mampu menjadi daya tarik seluruh pelaku, pemerhati, akademisi, peneliti dan pemangku kebijakan terkait komoditas perkebunan.

Dari kegiatan tersebut selain memiliki menyelesaikan permasalahan yang ada terutama terkaiat tingkat pendapatan petani (kesejahteraan) juga menjadi ajang untuk mempromosikan komoditas perkebunan dan pariwisata pada dunia internasional. Gagasan terhadap kegiatan tesrebut mendapat respon positif dan antusias dari kedua belah pihak dan untuk selanjutnya tinggal pemantapan kesiapan menuju kegiatan tersebut. (Sae.23.02.2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *