Kementan Soft Launching Uji Tes Biodiesel B100 Menggunakan Kendaraan Roda Empat dan Traktor

Artikel BBN Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Peningkatan impor minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri menyebabkan pemerintah Indonesia harus menambah alokasi biaya untuk pengadaan bahan bakar minyak (BBM). Indonesia, sebagai produsen dan pengekspor komoditi kelapa sawit terbesar di dunia mempunyai potensi besar untuk mengurangi ketergantungan penggunaan BBM. Salah satunya dengan memanfaatkan pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel. Saat ini pemerintah Indonesia telah menetapkan mandatory (kewajiban) penggunaan B20 (campuran 20% biodiesel dan 80% solar) untuk mesin diesel.

“Sebenarnya kita sudah mulai dua tiga tahun lalu dengan B15, B20, dan B30. Tapi arahan Presiden (Joko Widodo) kita langsung melompat ke B100,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman saat peresmian uji coba perdana produk biodiesel B100 di kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, tanggal 15 April 2019. Untuk uji coba perdana B100 ini, digunakan sejumlah 50 kendaraan berupa mobil dinas dan alat pertanian di Kementan yang sebelumnya menggunakan bahan bakar solar.

Dari sisi lain, peningkatan utilitas minyak sawit dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sawit. Sebab penggunaan sawit untuk bahan B100 membuat pemerintah bisa mengontrol harga ekspor-impor. Misalnya jika harga sawit dunia tak menarik bagi petani, maka hasil panen mereka bisa diserap dengan harga yang kompetitif untuk dijadikan B100. Namun jika harga ekspor yang lebih menguntungkan, maka itu bisa jadi pilihan petani. Selain itu penggunaan B100 juga salah satu jalan keluar untuk mengantisipasi black campaign Eropa terhadap energi baru terbarukan ini.

Dengan segala potensi besarnya, semoga uji coba perdana B100 ini dapat berjalan sesuai harapan sehingga dapat mewujudkan kedaulatan energi nasional.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *