Kebun Percobaan dan Fungsi Diseminasi

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Tuntutan permintaan pasar dunia terhadap rempah-rempah khususnya komoditas lada tidak bisa dibendung dan diremehkan. Masing-masing negara penghasil lada berkompetisi dalam meraih peluang tersebut dengan cara melakukan peningkatan produksi, produktivitas dan kualitas lada. Indonesia saat ini tertinggal capaian produksi dan produktivitasnya dibandingkan negara-negara lain sehingga berpengaruh terhadap penurunan ekspor dan tingkat pendapatan petani.

Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani, mendapat manfaat dan peluang pasar dunia serta memperbaiki usahatani harus terus dilakukan oleh pemerintah, swasta dan petani dengan melibatkan peran serta seluruh stakeholder. Untuk itu berbagai kendala dan permasalahan dalam mengembalikan kejayaan lada Indonesia harus ditempuh dan dihadapi secara serius, kontiyu dan sistematis melalui program dan kegiatan pengembangan komoditas lada.Regulasi dan strategi pengembangan lada tidak bisa diabaikan mengingat semakin meningkatnya permintaan pasar dunia dan persaingan antar negara penghasil lada.

Secara umum permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perkebunan antara lain: (1) Sebagian besar produsen perkebunan adalah perkebunan rakyat yang dikelola secara swadaya murni, kecuali teh. Oleh karena itu pertumbuhan produktivitas kebun jadi lambat, terutama pada perkebunan rakyat. Adapun hal ini disebabkan oleh teknologi yang diterapkan masih tradisional dan banyak tanaman sudah berumur tua dan rusak. Kualitas teknologi yang diterapkan petani mengalami kemunduran sejak krisis, karena mahalnya harga pupuk dan ketiadaan modal. Ketiadaan modal menyebabkan kegiatan peremajaan tanaman tua semakin sulit, yang menyebabkan produktivitas kebun makin rendah, (2) Kualitas hasil masih rendah karena sebagian besar produk yang dihasilkan adalah produk primer dan bagi petani tidak ada insentif harga untuk perbaikan mutu hasil, (3) Harga di tingkat petani umumnya rendah karena kurang efisiennya sistem pemasaran hasil, rendahnya mutu hasil dan terikatnya petani pada tengkulak pelepas uang (rentenir), (4) Maraknya penyerobotan tanah dan produksi perkebunan milik perkebunan besar (PBN dan PBS) oleh penduduk di sekitar kebun yang mengaku (claim) bahwa kebun itu adalah miliknya yang prosedur pembebasannya tidak adil. Hal ini dapat mengganggu kegiatan usaha perkebunan besar yang sudah ada dan mengambat masuknya investor baru dan (5) Sistem kelembagaan ekonomi petani masih sangat lemah baik dalam kegiatan pengadaan input, usahatani, pengolahan maupu pemasaran hasil.

Mempertimbangkan kondisi tersebut dan dalam rangka mengatasi berbagai permasalahan pengembangan lada, upaya yang dapat dilakukan yaitu: (1) rehabilitasi, (2) perluasan tanaman lada dan (3) pengembangan sistem perbenihan lada melalui penciptaan varietas baru unggul (VUB) yang memiliki tingkat produktivitas tinggi. Upaya ini sangat positif dan pada umumnya akan memberikan dampak yang mampu menggairahkan masyarakat petani.

Hal ini sesuai dengan visi pembangunan perkebunan 2014-2019 yaitu terwujudnya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkebunan. Untuk itu Badan Litbang Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan mulai tahun 2017-2018 melakukan program pengembangan perbenihan tanaman perkebunan mulai dari benih sumber hingga benih sebar. Benih perkebunan yang di produksi meliputi, tebu, kopi, kakao, karet, kelapa, lada, jambu mete, kayu manis, pala, cengkeh dan kurma yang terdistribusi di seluruh Balit Lingkup Puslitbang Perkebunan dan di 32 BPTP seluruh Indonesia. Hal tersebut dalam upaya untuk mengembalikan kejayaan lada nasional sekaligus upaya membangkitkan capain devisa negara. Peluang tersebut sangat besar dan dimiliki oleh Indonesia sebagaimana yang pernah dicapai sebelumnya yaitu lada Indonesia menjadi konsumsi pasar dunia.

Pada kesempatan kunjungan kerja ke Balittri (8/03/2018) Kepala Bidang KSPHP didampingi Sub Bidang KSP dan PHP serta seluruh staf sekaligus melakukan peninjauan unit produksi benih lada APBN-P TA 2017 di Kebun Percobaan Sukamulya yang dikelola oleh Balittro. Pada kunjungan tersebut Kabid KSPHP Dr. Jelfina C. Alouw juga meninjau unit-unit penelitian komoditas lada, baik lada perdu dan ladang panjat serta hamparan tanaman serai wangi. Disisi lain kebun Sukamulya telah mengalami perubahan pada beberapa unit terutama terkait sarana dan prasarana perbenihan support dari APBN-P TA 2017.

Dr. Jelfina C. Alouw berharap KP Sukamulya dapat dimaksimalkan fungsinya baik untuk unit perbenihan, aktivitas riset dan diseminasi. Melihat posisi kebun yang sangat strategis dan luas lebih dari 40 hektar berpotensi menghasilkan PNBP besar dan menjadi kebun percobaan besar di Indonesia khususnya dalam aktivitas riset dan memproduksi komoditas lada. Selain hal tersebut, perbaikan dan pemantapan sarana dan prasara kebun percobaan harus ditingkatkan dalam upaya mewujudkan kebun percobaan dengan konsep Nursery Modern sehingga mampu mendukung program strategis Kementan yaitu tahun perbenihan perkebunan dalam upaya mengembalikan kejayaan rempah nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *