Kebijakan Peluang Swasembada Gula tahun 2014

Artikel Tebu Berita Perkebunan

WARTA PERKEBUNAN – Rekomendasi Kebijakan Peluang Swasembada Gula tahun 2014 merupakan salah satu satu kegiatan sintesa kebijakan pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan pada tahun 2011.

Penerapan inovasi teknologi perkebunan khususnya tebu, dalam peningkatan produktivitas dan rendemen berperan penting dalam  mewujudkan swasembada gula pada tahun 2014.

Target produksi gula tahun 2011 sebesar 2,73 juta ton diperkirakan tidak akan tercapai karena rendemen diperkirakan turun dari rata-rata 7,6 % menjadi rata-rata 7,4 %.

Permasalahan yang dihadapi dari hulu hingga hilir untuk mencapai target swasembada gula sangat sulit diatasi. Namun dengan adanya revisi target, perluasan lahan tidak perlu dilakukan atau dapat dikurangi tapi dibarengi dengan  perbaikan varietas, budidaya tebu dan komitmen dalam proses penggilingan tebu di Pabrik Gula.

Tabel 1 memperlihatkan simulasi produktivitas, rendemen dan produksi gula apabila perluasan lahan tidak dilakukan, tapi tetap dengan luas yang ada pada saat ini yaitu 437.000 ha. Jika alternative ini dijalankan maka varietas yang digunakan harus yang mempunyai produksi tebu 110 ton/ha dengan rendemen 12%. Apabila target diturunkan menjadi 3,6 – 4,3 juta ton, maka produktivitas aktual yang diperlukan 90-100 ton tebu/ha dengan rendemen 9-10%.
Tabel 1. Simulasi Produktivitas, Rendemen dan Prod. Swasembada Tanpa Perluasan
Prod (t/ha)
70
80
90
100
110
110
Rendemen (%)
7
8
9
10
11
12
Luas (000 ha)
437
437
437
437
437
437
Prod gula nasional (000t)
2.141
2.797
3.540
4.370
5.288
5.768
Rata-rata produktivitas tebu pada bulan Juni 2011 hanya 78 juta ton dengan rendemen 6,89%. Untuk meningkatkan produksi sampai 3,7 juta ton pada tahun 2014, Badan Litbang Pertanian menghasilkan   calon-calon varietas unggul dengan  potensi rendemen 9-12%, seperti PS 881, PS 882, PS 862 dan VNC 766.
Apabila benih ini diuji adaptasi tahun 2012 maka tahun 2013 sudah dapat dikembangkan. Calon varietas yang paling menjanjikan adalah PS 89-20961 dan POJ 3016 serta varietas introduksi dari Filipina  dengan rendemen 9,5%, 14% dan 16% dan produktivitas 140, 150, 150 ton/tahun.
Untuk mengatasi senjang potensi hasil dan hasil  aktual, perlu perbaikan budidaya yang meliputi (1) penerapan program berbantuan bongkar ratoon seperti pada tahun 2004, ratoon hanya bisa dipakai sampai 3 tahun, (2) penggunaan  varietas untuk masak awal, masak tengah dan masak akhir, (3) pemupukan berimbang antara organik dan an organik, seperti pupuk kandang sebanyak 5 ton/ha atau BBA (Blotong, Bagas dan Abu) dengan dosis 80 ton/ha atau 40 ton/ha kalau sudah menjadi kompos, (4) aplikasi zat pengatur tumbuh (Ethepon, 400 mg/liter) pada tanaman tebu berumur 5 bulan, (5) penerapan PHT terutama dengan varietas toleran/tahan, (6) pengelolaan air dengan alur atau sprinkler sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan (7) sistem tanam disesuaikan untuk asal bibit kultur jaringan.
Seluruh perlakuan budidaya disusun dalam suatu demfarm (Show window) di 3 lokasi di Lampung, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan yang sekaligus akan menjadi lokasi pelaksanaan uji multilokasi bagi calon varietas POJ 3016, PS 86 – 10029 serta klon introduksi dari Filipina  dan klon unggul harapan lainnya. Dari demfarm ini akan dihasilkan  Standar Operasional Prosedur (SOP) pengembangan tebu berbasis kultur jaringan serta pelepasan varietas unggul.
Peta  pencapaian swasembada gula tahun 2014 yang diusulkan sebagai berikut : (1) pada tahun pertama akan dilaksanakan demfarm di 3 lokasi diharapkan mulai tanam November 2011 dan sosialisasi ke pihak-pihak terkait seperti Dewan Gula Indonesia, Direktorat Jenderal Perkebunan, Pabrik Gula dan PTPN; (2) pada tahun kedua, SOP dari tahun I disosialisasikan dan mulai dikembangkan; dan (3) pada tahun ketiga (2014) diharapkan semua sentra produksi tebu sudah menerapkan SOP dan menggunakan varietas unggul yang berproduksi tinggi.
Pengembangan tebu berbasis kultur jaringan dengan dukungan teknologi budidaya ini tidak akan berhasil tanpa kerjasama dari semua pihak yang terkait. Diasumsikan di luar perlakuan yang diaplikasikan semua berjalan optimal, seperti pengukuran rendemen, efisiensi pengolahan di PGk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *