Jamu Berbasis Tanaman Obat untuk Ternak Ayam

Artikel Obat Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Tanaman obat mengandung senyawa aktif yang dapat bermanfaat sebagai antivirus, antibakteri, anti parasit, antioksidan, dan peningkat daya tahan tubuh. Ayam mudah diserang oleh penyakit sehingga diperlukan pertahanan tubuh untuk melawan penyakit.

Jenis penyakit yang sering menyerang ternak ayam antara lain flu burung, totelo dan koksi. Secara umum penyakit disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit. Untuk mencegah supaya ayam tidak mudah diserang oleh penyakit dapat dilakukan dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh yaitu melalui pemberian vaksin, vitamin dan sulfa.

Senyawa aktif tanaman obat dapat berfungsi sebagai antivirus, antibakteri, antiparasit, dan antioksidan yang bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta mengatasi penyakit flu burung, koksi atau berak darah yang sering menyerang ternak ayam. Tanaman obat dapat diolah menjadi jamuj ternak dalam bentuk cair, ekstrak dan serbuk.

Keunggulan jamu ternak antikoksi ini adalah sebagai alternatif koksidiosis karena efektif menekan populasi ookiste dan juga sebagai imunomodulator. Manfaat yang diperoleh dari penggunaan jamu ini adalah dapat meningkatkan kesehatan ternak/imunitas, meningkatkan produktivitas, menambah nafsu makan, mengurangi lemak daging, warna kuning telur lebih oranye dan dapat mengurangi bau kotoran di sekitar kandang.

Jenis jamu ternak sebagai imunomodulator meningkatkan sistem imun tubuh yang meliputi semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk melindungi dan mempertahankan tubuh dari bahaya yang menyerang tubuh baik dari dalam maupun dari luar.

Tanaman obat seperti temu-temuan, sirih-sirihan, sambiloto, lidah buaya, meniran diketahui memiliki aktivitas antivirus dan bersifat sebagai imunomodulator pada manusia. Jawa, bawang putih, kunyit, temu lawak, lengkuas mampu meningkatkan aktivitas sistem imun pada hewan coba.

Dengan memanfaatkan tanaman obat menjadi jamu ternak, sebagai alternatif obat-obatan pada ternak yang harganya mahal dan jika dikonsumsi terus menerus dapat meninggalkan residu pada daging maupun telur.

Selengkapnya download aktikel terkait : Warta Litbangtri Vol 22 no 2, 2016

Berita terkait :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *