Integrasi Tebu-Ternak di KP. Karang Ploso

Artikel Tebu Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Integrasi usaha tanaman tebu dan ternak sapi merupakan alternatif pemecahan swasembada gula dan daging. Keterbatasan sumber pakan konvensional, dapat diatasi dengan menggunakan bahan pakan berbasis limbah pertanian. Salah satu limbah pertanian yang umum digunakan sebagai pakan ternak ruminansia masyarakat adalah pucuk tebu.

Pucuk tebu merupakan sisa hasil panen banyak digunakan sebagai pakan ternak baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk awetan (silase). Waktu ketersediaan limbah tanaman tebu berupa pucuk dan anakan yang tidak diharapkan adalah pada bulan Juni hingga Desember sebesar 30% dari total produksi tebu per hektar.

Limbah tanaman tebu pada on farm, yaitu daun pucuk dan daun rogesan belum dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam sistem integrasi tebu-ternak. Sisa serasah dari kegiatan klentek dan pucuk batang tebu saat panen dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan sapi.

Pemanfaatan limbah daun tebu untuk pakan ternak dapat diproses dalam bentuk silase dengan memanfaatkan pucuk tebu dan daun rogesan (perbandingan 70% daun pucuk tebu dan 30% daun rogesan tebu) dengan tambahan beberapa tingkat urea (0, 2, 4%) dan molase (2 dan 4%).

Metode pembuatan pakan ternak dari limbah tebu berupa silase dengan bahan daun rogesan dan pucuk tebu perbandingan bobot (30:70) cukup dilakukan dengan pencacahan, pencampuran, fermentasi dalam kondisi vacum (kedap udara) selama 30 hari dan pengeringan. Dengan cara tersebut dapat menghasilkan silase dengan kandungan Gula 0,5100%, Pati 76,8000%, Serat 47,9200%, Nitrogen 1,0016%, Abu 11,3600%, C/N ratio pada perlakuan urea 4% (21,005%) dan tertinggi perlakuan kontrol (61,040%).

Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sangat gencar mengintroduksi inovasi teknologi system integrasi tanaman-ternak. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) yang mempunyai mandat komoditas tebu mempunyai program pertanian terpadu dengan mengintegrasikannya dengan ternak sapi, biogas, bioindustri dengan konsep zero waste green industry.

Saat ini lahan tebu yang dikelola oleh Kebun Percobaan (KP) Karangploso, Balittas di Pati, Jawa Tengah, seluas 4 Ha, sehingga hijauannya cukup dapat dimanfaatkan untuk pakan sebanyak 5 ekor sapi.

Selain lahan tebu yang dikelola Balittas, tersedia lahan tebu di sekitar Balittas sekitar 100 Ha, sehingga seresah dan hasil tebu yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan pakan 20 ekor sapi dan memproduksi gula merah 2 ton per hari. Selain itu dihasilkan biogas dengan membangun instalasi digester, dan pupuk organik yang diproses di rumah pupuk organik.

Adanya potensi pakan ternak yang cukup melimpah dan bermutu ini membuka peluang dikembangkannya ternak sapi di lingkungan perkebunan tebu. Dengan demikian, dapat dikembangkan konsep integrasi tebu-ternak yang dapat memberikan keuntungan sinergis, yaitu yang diperoleh ternak dari pemanfaatan hasil samping tebu untuk pakan dan yang diperoleh tanaman dari limbah ternak berupa pupuk kandang.

Integrasi tebu-ternak diharapkan mempunyai prospek yang sangat baik, karena ternak dapat diusahakan dengan biaya pakan yang sangat murah, tersedianya kotoran ternak untuk pupuk organik untuk menyuburkan lahan, dan tersedianya pakan ternak sepanjang tahun, sehingga swasembada daging akan tercapai disamping dapat meningkatkan daya saing hasil pertanian/perkebunan, serta pemilik ternak menjadi lebih sejahtera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *