HPS ke-39: Teknologi Pembuahan Kakao di Luar Musim

Artikel Kakao Berita Perkebunan Highlight

INFOTEK PERKEBUNAN – Pada kesempatan sambutan dan pembukaan HPS ke-39 di Kendari 2 November 2019, Menteri Pertanian Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, SH., MH., M.Si., menyatakan komitmennya untuk memacu dan meningkatkan produksi serta volume ekspor produk-produk pertanian khususnya tanaman perkebunan yaitu kakao. Indonesia secara geografis sangat diuntungkan karena ditakdirkan sebagai negara agraris, sehingga mampu memproduksi tanaman sepanjang musim namun perlu didukung teknologi inovatif yang mampu mendongkrak produksi sepanjang tahun.

Perkembangan Kakao

Sektor kakao di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan signifikan, yang didukung oleh perkembangan partisipasi petani kecil. Sejak 25 tahun terakhir, biji kakao merupakan komoditas ekspor yang penting bagi Indonesia.
Para petani di Indonesia memiliki kontribusi paling besar dalam produksi kakao Nasional. Saat ini, luas perkebunan kakao di Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Produksi kakao di Indonesia terletak di Sulawesi, Sumatera Utara, Jawa Barat, Papua, Kalimantan Timur, dan Sumatera Barat.

Dari wilayah-wilayah tersebut, 75% produksi kakao Indonesia terletak di Sulawesi. Sejak tahun 2009, pemerintah telah mencanangkan program 5 tahun revitalisasi kakao guna meningkatkan produksinya. Program ini terdiri dari intensifikasi, rehabilitasi, dan rejuvenasi yang mencakup total area 450.000 hektar.

Salah satu faktor yang menghambat perkembangan industri kakao adalah tanaman yang sudah tua (sudah ditanam sejak 1980-an), sarana dan prasarana yang kurang memadai serta perkebunan yang kurang terawat. Untuk itu, agar mencapai target pemerintah dalam meningkatkan produksi kakao, investasi pada sektor kakao harus ditingkatkan.

Posisi Ekspor Kakao Indonesia

Kakao menempati urutan ke-4 ekspor terbesar Indonesia dalam bidang pertanian setelah minyak sawit, karet, dan kelapa. Namun, mayoritas ekspor kakao Indonesia merupakan kakao mentah, bukan yang sudah diproses, yang berarti Indonesia belum bisa memberikan nilai tambah dalam produksi ini. Beberapa negara tujuan ekspor Indonesia untuk biji kakao, antara lain Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat.

The World Cocoa Foundation mengungkapkan bahwa peningkatan permintaan kakao adalah 3% per tahun dalam 100 tahun terakhir ini. Dan, diestimasikan, peningkatan permintaan kakao dunia pada tahun-tahun kedepan akan meningkat pada level yang sama. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan untuk Indonesia sebagai salah satu negara penghasil dan pengekspor kakao terbesar di dunia.

Permasalahan Kakao

Namun demikian, Indonesia menghadapi beberapa kendala dalam meningkatkan peran penting kakao dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Lebih dari 90% kakao di Indonesia diproduksi oleh petani kecil yang memiliki kendala finansial untuk mengoptimalkan kapasitas produksi. Hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi karena pohon kakao yang sudah tua, berpenyakit, terkena bencana alam, dan sebagainya.

Teknologi Pembuahan Kakao di luar Musim

Teknik Sambung Samping

Teknik sambung samping kakao adalah teknik menyambung batang atas dari tanaman induk yang unggul dengan bartang bawah tanaman kakao yang memiliki produksi buah yang rendah. Teknik tersebut bertujuan untuk meningkatkan produksi buah dan meningkatkan ketahanan tanaman kakao terhadap penyakit.

Penyiapan Entres

Penyiapan batang bawah.

Memasukkan entres, mengikat, dan menutup dengan plastik.

Berturut-turut dari kiri ke kanan: sambungan berumur 1,5 bulan, batang utama siap dipotong, buah dari hasil sambungan.

Tanaman hasil sambung samping/pucuk tersebut dipangkas dengan cara seperti dalam pemangkasan bentuk tanaman belum menghasilkan. Pemangkasan yang dilakukan secara rutin juga berfungsi sebagai pangkasan sanitasi untuk menghilangkan sumber infeksi penyakit Vascular Streak Dieback (VSD).

Klon kakao dapat digunakan untuk bahan sambung samping dan memilki ketahanan terhadap penyakit VSD dan produksi tinggi adalah klon Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 3, ICCRI 4 dan Sca6.

 

Aplikasi Pupuk Hayati (Pakuwon Bio Fertilizer)

Pakuwon Bio Fertilizer merupakan biofertilizer yang mengandung mikroba pemfiksasi N, pelarut hara P dan K, dengan kepadatan populasi 105-108 per gram dalam bahan pembawa yang sangat efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas pada tanaman. Sebelum pengaplikasian Pakuwon Bio Fertilizer terlebih dahulu dilakukan aplikasi pupuk majemuk (NPK, 16, 16, 16) yang ditabur di sekeliling tanaman dengan dosis 200 gram/pohon. Pupuk ini mempunyai kemampuan memacu pembungaan dan pematangan buah secara serentak yang diaplikasikan dengan dosis 30 gram/pohon. Selain pemberian Pakuwon Bio Fertilizer juga dilakukan teknologi budidaya penataan air, pembuatan rorak, pupuk daun, pupuk buah, dan jadwal penyiraman. [Info terkait : Pakuwon Biofertilizer, Pemacu Buah Kopi Masak Serentak]

 

Aplikasi Biotris

Biotris merupakan formula pestisida nabati berbahan aktif utama ╬▒ – oleostearic acid yang efektif untuk mengendalikan hama penggerek buah kakao. Biotris aman bagi kulit manusia karena tidak menimbulkan iritasi. Di samping itu, tidak menimbulkan fitotoksitas terhadap tanaman.

Aplikasi Biotris tidak menyebabkan kematian langsung pada hama sasaran, namun berperan penting dalam aktivitas makan (antifeedant) sehingga perkembangan populasi hama penggerek terhambat dan dapat dikendalikan dengan baik. Di samping itu, mampu menghambat peneluran serangga hama (antioviposisi).

Dosis aplikasi Biotris adalah 5 ml/liter (setara dengan 1 tutup botol kemasan) dimana satu tanaman membutuhkan sekitar 250 ml larutan semprot sehingga untuk populasi 1.600 pohon hanya membutuhkan 2 liter Biotris satu kali semprot. Cara aplikasi untuk pengendalian PBK, yaitu dengan menyemprotkan larutan ke seluruh permukaan buah dan cabang-cabang horizontal. Untuk pengendalian hama penggerek batang dengan menggunakan kapas yang dicelup langsung ke larutan murni Biotris kemudian dipasak di lubang gerekan pada batang tanaman. [Info terkait : Formula insektisida nabati BIOTRIS dari kemiri minyak]

 

Biotri-V Pengendali BBK Ramah Lingkungan

Biotri-V merupakan biofungisida berbentuk tepung yang berfungsi sebagai pengendali penyakit busuk buah kakao (BBK) yang mengandung jamur antagonis Trichoderma spp. Trichoderma yang paling banyak diteliti dan telah digunakan secara luas untuk mengendalikan penyakit tanaman adalah T. viride dan T. harzianum. Konsentrasi Biotri-V untuk mengendalikan penyakit busuk buah pada kakao adalah 10 gram/liter. Aplikasinya di lapangan dengan cara disemprotkan pada seluruh permukaan buah, terutama buah muda yang berukuran 5 – 10 cm.

Biotri-V juga dapat diaplikasikan pada benih sebagai pelindung untuk mencegah patogen tular benih, dengan melarutkan 10 gram Biotri-V dalam 20 ml air untuk perlakuan 1 kg benih. Untuk P. palmivora yang menyerang kakao pada pembibitan dan bagian pangkal batang kakao, aplikasi Biotri-V harus dicampur dengan pupuk kandang atau pupuk organik dengan komposisi 1 kg/25 kg pupuk. Selain sebagai pengendali hayati patogen tular tanah, aplikasi Biotri-V berfungsi sebagai pupuk hayati yang akan memicu pertumbuhan tanaman. [Info terkait : Formula Biofungisida Berbahan Aktif Trichoderma viride Pengendali Penyakit Busuk Buah Kakao yang Ramah Lingkungan]

(Tim web Puslitbangbun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *