Genderuwo untuk “Biofuel”

Artikel BBN Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Energi dari fosil semakin lama semakin habis. Hal ini mendorong sejumlah negara mencari sumber energi alternatif. Salah satunya biofuel alias bahan bakar nabati. Keunggulannya, bahan baku dapat diperbarui dan ramah lingkungan.Beberapa tanaman dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar nabati, antara lain jarak pagar, ubi jalar, ubi kayu, tebu, kelapa sawit, kelapa, bunga matahari, kapuk randu, dan buah genderuwo. Buah genderuwo (Sterculia foetida Linn) dinilai paling pas karena tidak digunakan sebagai bahan pangan.

Tanaman genderuwo yang dikenal pula dengan nama pranajiwa, kepuh, kepoh, kalumpang, atau jangkang memiliki beberapa kelebihan. Bijinya mengandung minyak nabati asam lemak sterkulat (C19H34O2). Dari 100 gram biji genderuwo bisa diperoleh minyak 75 mililiter. Adapun jarak pagar hanya menghasilkan rendemen 35-40 persen. Asam sterkulat dapat digunakan sebagai ramuan kosmetik, sabun, sampo, pelembut kain, cat, plastik, serta zat adaptif biodiesel.

”Tingginya rendemen atau kandungan minyak biji buah genderuwo menunjukkan potensinya sebagai minyak pelumas dan biodiesel pengganti solar,” kata dosen pemuliaan tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Endang Yuniastuti, Selasa (9/4/2013).

Endang bersama dosen Agronomi UNS Djati Waluyo dan Titin Handayani dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2008 meneliti buah genderuwo.

Minyak pelumas yang dihasilkan telah mendapat sertifikasi dari Lembaga Minyak dan Gas Bumi. Tim ini membuat prototipe mesin pres biji genderuwo. Ada 10 dinas pertanian di Jawa Tengah yang digandeng untuk budidaya tanaman ini, yakni di Kabupaten Blora, Purworejo, Purwokerto, Grobogan, Klaten, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, dan Boyolali.

Sumber : Kompas.com

Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *