Forum Komunikasi Jambu Mete Nasional II

Artikel Jambu Mete Berita Perkebunan

BOGOR, PERKEBUNAN – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Muhammad Syakir membuka secara resmi Forum Komunikasi Jambu Mete Nasional II di Auditorium Balittro, Cimanggu, Bogor. Forum komunikasi ini bertujuan mendiskusikan bersama terkait strategi kebijakan dan operasional pengembangan agribisnis jambu mete.

Disamping itu,  juga melihat perkembangan terkini dari sisi teknologi pemuliaan, budidaya, proteksi tanaman, pasca panen dan sosio ekonomi. Tujuan lain adalah  mencermati situasi terkini industri dan perdagangan jambu mete nasional serta tingkat daya saingnya menghadapi implementasi perdagangan bebas tingkat global.

Dalam sambutannya Kepala Balitbangtan mengatakan bahwa jambu mete adalah komoditas strategis yang mempunyai sejarah yang panjang. Pernah memberikan kontribusi yang sigfnifikan terhadap perekonomian dan tenaga kerja. Namun perkembangan jambu mete nasional saat ini mengalami penurunan baik sisi luas maupun produktivitas.

Lebih lanjut Ka Badan mengatakan bahwa Balitbangtan sudah memiliki 9 varietas unggul dengan produktivitas  900 – 2.200 kg/ha/tahun. Kalau dilihat rata-rata nasional berkisar 300 kg/ha, maka kita sangat optimis dengan penerapan teknologi ini akan memberikan lompatan pengembangan menggerakkan petani jambu mete. Oleh karena itu perlu duduk bersama Badan Litbang Pertanian dengan pihak terkait, seperti swasta jambu mete.

Pengembangan jambu mete dapat dilakukan melalui bibit juga bisa dengan grafting. Grafting merupakan langkah cepat, sehingga waktu untuk berproduksi lagi lebih pendek. Teknologi grafting keberhasilannya sudah mencapai 70%. Jadi secara ekonomi sudah layak dikembangkan teknologi tersebut.

Selain harus ada perbaikan bahan tanaman, hal yang penting juga harus ada langkah-langkah untuk rehabilitasi jambu mete, karena secara umum produktivitasnya semakin menurun.  Dari sisi alat sudah dihasilkan alat kachip,  sudah ada patennya untuk Balitbangtan. Dalam pemanfaatan buah semunya, memiliki nilai ekonomi karena bisa menjadi suatu minuman, abon, beberpa produk selai, dsb. Jadi yang selama ini dianbggap sebagai limbah (buah semu, kulitnya), Balitbangtan sudah memiliki inovasi teknologi untuk mengolahnya, sehingga tidak menjadi limbah lagi, sudah menjadi ekonomi.

Forum ini sangat strategis, ujar Ka Badan. Balitbangtan mengajak pengusaha,  pemda, secara bersama-sama membuat program pengembangan. Balitbangtan tidak bisa melakukan sendiri, karena Balitbangtan menghasilkan inovasi teknologi dan melakukan pengawalan. Balitbangtan memberikan semacam tantangan. Jika ada yang berminat melakukan pengembangkan jambu mete secara bersama-sama, Balitbangtan siap melakukan pengawalan dan siap untuk memberikan inovasi teknologi.

Ka Badan berharap dalam forum ini membuat sesuatu untuk mengelola jambu mete secara utuh. Semoga forum ini memberikan manfaat untuk pengembangan jambu mete pada lahan sub optimal, NTT, Madura, Gunung Kidul, Sultra, sebagian Sulsel.

Acara forkom Jambu Mete Nasional II yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari ini (12-13 Oktober 2016) dihadiri oleh 150 orang peserta yang berasal dari instansi pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan bisnis mete nasional, kelompok tani, LSM, peneliti, penyuluh, perekayasa, dan teknisi litkayasa.

Pada hari pertama panel diskusi yang membahas bentuk dan tindak lanjut secara konkrit dari strategi kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat serta operasionalnya di lapangan.

Hari kedua berupa ekspose hasil penelitian dan kajian penting dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang akan mempresentasikan 33 judul makalah terpilih. (/Efiana/Balittro)

Foto: Sambutan dan Pembukaan Forum Komunikasi Jambu Mete Nasional II oleh Kabadan Litbang Pertanian Dr. Muhammad Syakir (kiri), dan para peserta forkom jambu mete (kanan).

 

Foto: Varietas Unggul Jambu Mete (kiri), dan produk selai jambu mete (kanan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *