Dukungan Teknologi Inovasi dan Regulasi untuk Keberhasilan Program Peremajaan Sawit di Indonesia

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Sawit sebagai komoditas perkebunan berperan sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Sebagai negara dengan luasan sawit terbesar di dunia, Indonesia menempatkan komoditas ini sebagai salah satu komoditas prioritas. Berbagai kendala dalam pengembangan komoditas ekspor ini antara lain rata-rata produktivitas nasional yang masih rendah sebagai akibat penggunaan benih asalan, tanaman yang sudah tua dan tidak produktif, serta serangan Ganoderma, disamping masalah lain yang dihadapi industri seperti isu lingkungan, sosial, kesehatan dan keamanan pangan, kata Dr. Ir. Antario Dikin, MSc, Sekertaris Ditjenbun, dalam sambutannya pada Forum Group Discussion (FGD) di ruang rapat Ditjenbun, Kementan, pada Jumat 26 Juli 2019.

FGD dihadiri antara lain oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), Ir. Syafaruddin, PhD, sejumlah pejabat esselon 2 di Ditjenbun, Direktur pangan dan pertanian (BAPPENAS), Kepala BBPPTP Surabaya, Kepala BBPPTP Medan, PPKS, BPDPKS, dan Kepala Bidang KSPHP Puslitbangbun, Ir. Jelfina C. Alouw, M.Sc., Ph.D. Diskusi diawali dengan pemaparan oleh sejumlah narasumber antara lain Dr. Kees Breure, seorang pemulia dan agronomist berkebangsaan Belanda yang mewakili PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia; Ir. Zulhermain Sembiring sebagai Kepala Bagian pemuliaan dan produksi benih PT Binasawit Makmur PT Sampoerna Agro Tbk. Breure memaparkan materi Program persilangan genetik sawit untuk pembentukan benih sawit tenera 100%, sedangkan Sembiring menyampaikan materi Breeding and seed production (Process and Quality Assurance). Nara sumber dari PPKS, Dr Suroso Rahutomo mempresentasikan materi “Mekanisme dan Sertifikasi Jaminan Mutu Benih Sawit.

Beberapa klon dan varietas sawit yang unggul dari sisi produktivitas, toleran terhadap cekaman lingkungan seperti kekeringan dan serangan Ganoderma, serta tinggi tanaman (pertambahan tinggi melambat) telah dihasilkan melalui tehnik pemuliaan konvensional dan bantuan marka molekular. Salah satu klon unggul yang telah dihasilkan antara lain DxP Sriwijaya Semi Klonal yang bisa menghasilkan 7,5 – 10,2 ton minyak/ha/tahun pada tanah marginal, dan hanya bertambah tinggi 41-60 cm/tahun, kata Sembiring di sela-sela presentasinya. Selanjutnya Sembiring menyampaikan bahwa melalui sekitar 16 tahapan quality control dan assurance yang ketat, bisa dihasilkan benih dengan kualitas terbaik untuk disebarkan kepada stakeholders, dan hanya persilangan tetua betina Dura dan tetua jantan Pisifera yang bisa menghasilkan 100 % Tenera (hibrida dengan produksi tertinggi dibandingkan dengan masing-masing tetuanya). “Awali usaha yang baik dengan benih yang baik”‘, kata Suroso mengawali paparannya.

Sebagai tanaman perkebunan yang biasanya nanti berbuah beberapa tahun setelah ditanam, maka kepastian asal-usul dan kemurnian benih serta kit untuk mendeteksi dini kontaminasi material genetik (kontaminasi non tenera) menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka menghindari benih yang ditanam tidak berproduksi atau produksinya rendah, kata Syafaruddin dalam kesempatan diskusi dengan narasumber. Regulasi dan penerapannya di lapangan untuk mengontrol benih yang beredar dari berbagai produsen benih perlu diawasi agar petani bisa mendapatkan kepastian bahwa benih yang ditanam adalah tenera dengan kualitas yang unggul sehingga program peremajaan sawit bisa berjalan dengan baik, demikian kata Sekditjenbun yang disambut dengan harapan yang sama oleh Direktur Perbenihan dan Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, mengakhiri kegiatan FGD roadmap sawit. (JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *