Dukungan Teknologi Balitbangtan Sukses Membangunkan Lahan Rawa yang Tidur di Jejangkit, Kalsel

Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Lahan rawa di Indonesia sangat luas, 33 juta ha, dimana 19 juta ha diantaranya dapat dijadikan lahan produktif. Tantangan pengelolaan lahan rawa terletak pada beberapa aspek biofisik lahan, antara lain kemasaman tanah dan kandungan besi yang tinggi, cekaman air seperti kekeringan dan genangan sehingga lahan ini sering tidak dimanfaatkan dengan optimal karena produktivitas sejumlah tanaman yang diusahakan sangat rendah.  Untuk mengatasai masalah ini Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memanfaatkan  lahan rawa melalui program SERASI (Selamatkan rawa, Sejahterakan Petani) dengan memperbaiki tata air, dan penggunaan varietas unggul yang adaptif pada lahan rawa serta pengendalian terpadu hama dan penyakit.  Program SERASI ini meliputi 500 ha di tiga propinsi, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Pada Senin 14 Oktober 2019, bertempat di Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, diadakan temu lapang “Dukungan Litbang dalam program SERASI” yang dihadiri oleh para petani, pejabat daerah, dan pejabat struktural lingkup Balitbangtan.  Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Fadjry Djufry, dalam sambutannya membuka Temu lapang menyampaikan bahwa teknologi Balitbangtan sudah tersedia untuk mendukung program SERASI. Demikian juga pendampingan oleh para peneliti dan penyuluh untuk memastikan program ini berjalan dengan baik. Pemanfaatan teknologi baru autonomous tractor rawa Mendukung Pertanian 4.0 diharapkan dapat  diimplementasikan nanti pada setiap provinsi.  Keberhasilan program ini terletak juga pada kerja bersama semua intitusi pusat dan daerah dalam mengembangkannya. Salah satunya adalah membangun kelembagaan petani dan penguatan aspek hulu sampai hilirisasi.  Kepala Balitbangtan menegaskan bahwa lahan rawa yang dibuka adalah lahan basah tidak termasuk lahan Gambut. Pemda diharapakan turut mendukung program ini dengan melibatkan penyuluh dan aspek lain yang diperlukan.  HPS ke-38 di Jejangkit pada waktu lalu sudah memberikan contoh dan diakui dunia.  Kini tugas kita adalah mendorong Pemda untuk mengadopsi teknologi dan inovasi yang telah disampaikan.

Kepala BBSDLP, dan Kepala Balittra dalam laporannya menyampaikan sejumlah kegiatan yang telah dilakukan dan teknologi yang diterapkan dengan melibatkan sejumlah pusat penelitian dan balai besar. Langkah selanjutnya yakni dengan melibatkan Komoditas perkebunan untuk program jangka menengah dan jangka panjang di lahan rawa tipe B ini.  Dalam kesempatan terpisah Kepala Bidang KSPHP Puslitbangbun menyampaikan Puslitbangbun juga sudah memiliki beberapa komoditas perkebunan yang adaptif terhadap lahan rawa, antara lain varietas kelapa Sri Gemilang dan Kopi Liberika yang berpotensi untuk dikembangkan pada lahan-lahan rawa.  Jayalah Pertanian Indonesia (JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *