Mentan: Dukung Kebijakan Pengembangan Sagu sebagai Pangan dan Energi

Aktifitas Puslitbangbun

Demikian disampaikan oleh Menteri Pertanian, Dr. Suswono dalam pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Sagu, 15 September 2014 di Auditorium Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Jakarta.  FGD sagu dengan tema “Sagu Sebagai Komoditas Potensial, Pilar Kedaulatan Pangan dan Energi” diselenggarakan oleh Balitbangtan bekerjasama dengan Masyarakat Sagu Indonesia  (MASSI). Kegiatan FGD ini dihadiri oleh peneliti, praktisi, pengusaha, pengambil keputusan, pengamat dan pemerhati sagu.

Menurut  Mentan, Sagu merupakan salah satu komoditas yang sangat layak dibahas,  karena: (1) sebagian masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di wilayah Indonesia Timur (Maluku dan Papua), telah mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok secara turun temurun; (2) peningkatan konsumsi beras yang terus berlangsung sejalan dengan peningkatan penduduk memerlukan kontribusi komoditas pangan sumber daya lokal yang lain (seperti sagu, ubi, sukun dll.), sangat  diharapkan dapat memperlambat laju konsumsi beras; (3) sagu juga merupakan komoditas yang dapat menjadi sumber energi baru dan terbarukan, meski sekaligus bersaing sebagai sumber pangan; (4) sebagai negara kepulauan, wilayah pengembangan sagu sangat terbuka luas; (5) sagu dapat dikembangkan di lahan sub optimal/kering, sehingga tidak berkompetisi dengan tanaman pangan lainnya; (6)  pengembangan sagu tidak terlalu memerlukan teknologi canggih, dalam hal ini Balitbangtan sudah menyediakan dan tidak sulit menyiapkan apabila memerlukan pengembangan teknologinya. Lebih dari itu pengembangan sagu memerlukan perencanaan, serta implementasi yang terarah dan konsisten.

Selanjutnya Mentan berharap bahwa pertimbangan-pertimbangan yang logis, realistis dan sistematis dalam pengembangan sagu sangat diperlukan oleh pemerintahan kabinet dan generasi mendatang. Hal ini  untuk menjadikan sagu sebagai komoditas strategis, terutama untuk kemudian memudahkan dalam menetapkan program implementasinya di lapangan.

“Saya berharap pembahasan tentang sagu pada hari ini dapat mencakup aspek yang komprehensif, sejak hulu hingga hilir, atau bahkan kalau memungkinkan termasuk industri, perdagangan dan sosial ekonomi kemasyarakatan” imbuh Mentan.

Mentan juga berharap bahwa melalui bantuan pemikiran para pakar dan pihak berkepentingan di bidang pangan dan energi, pengembangan komoditas sagu ini dapat menjadi salah satu kontributor nyata dalam menghadapi tantangan kedaulatan pangan dan energi di masa sekarang dan masa depan.

Dari FGD ini selanjutnya diperoleh rumusan sementara, di antaranya (a) diperlukan dukungan pemerintah dalam pengembangan sagu sebagai bahan pangan dan energi, (b)  dimasukkan dalam RJPM, (c) pengembangan sagu dari hulu-hilir, (d) pengembangan program edukasi oleh instansi terkait, (e) sagu menjadi salah satu pendukung utama tol laut pemerintahan baru, (f) pengembangan sagu melalui pendekatan khusus sosial budaya, adat, dll., (g) pengembangan SDM dan peningkatan peran pemerintah daerah, (h) status lahan kawasan hutan membutuhkan kepastian, (i) pembangunan infrastruktur, (j) diperlukan insentif ekonomi bagi investor yang mau mengembangkan sagu, (k) menjadikan sagu sebagi isu daya saing seperti kelapa sawit, (l) kebijakan konservasi untuk kekayaan plasma nutfah.

Peserta FGD bersepakat agar hasil pertemuan ini menjadi rumusan pemerintah baru yang menjadikan sagu sebagai pilar ketahanan pangan dan energi nasional 2014-2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *