Dua Kepala Balai Lakukan Penjajagan Awal Keunggulan dari Kopi Sirap di Jateng

Artikel Kopi Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Ir. Syafaruddin, Ph.D dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Dr. Harwanto melakukan penjajagan awal untuk mengevaluasi keunggulan kopi Sirap di Dusun Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Pada kesempatan kunjungan kali ini, diperoleh banyak informasi langsung dari ketua kelompok tani “Rahayu 4”, Ngadiyanto. Mulai dari sejarah perkopian di wilayah ini, keunggulan dan keunikan kopi Sirap sampai kepada kondisi terkini, yaitu menjadi destinasi wisata lokal yang terus mendapat perhatian para penikmat kopi dengan sentuhan alami.

Di Dusun Sirap ini terdapat hamparan kopi Robusta. Ngadiyanto yang merupakan penggiat kopi sekaligus ketua kelompok tani “Rahayu 4” yang berdiri pada tahun 1998 mengatakan: “Hamparan luas kopi Robusta ini adalah milik para anggota kelompok tani yang berjumlah 40 orang dengan luasan total pertanaman sekitar 35 hektar. Kopi di sini berumur antara 15-25 tahun dan merupakan tanaman turun temurun dari leluhur”. Masyarakat di desa ini menggantungkan mata pencahariannya dari bercocok tanam kopi, yang dijual dalam bentuk biji kering ataupun sudah dalam bentuk olahan (serbuk kopi). Pembeli ada yang datang langsung sebagai langganan tetap dan terkadang petani juga menjual ke wilayah ibu kota provinsi. Ngadiyanto menambahkan, “Rata-rata penduduk mempunyai kebun kopi, disamping tanaman-tanaman buah seperti durian, nangka dan alpukat. Sebagian penduduk sudah mempunyai alat pemroses kopi menjadi kopi bubuk. Namun demikian belum terlihat adanya kelembagaan hulu-hilir” lanjutnya.

Perkebunan kopi rakyat di kawasan daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 m dpl ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal yang sudah viral di media sosial. Kawasan wisata ini belum disentuh oleh pemerintah daerah, sehingga masih dikelola oleh organisasi pemuda dan organisasi peduli lingkungan. Kawasan Kopi sirap ini berada dalam deretan kawasan lereng gunung kelir, ke arah barat tepatnya di Desa Sirap, makanya dikenal dengan kopi “Sirap”. Di kampung Sirap ini ada sebuah cafe yang berada di sekitar perkebunan kopi, didukung dengan penataan landscape untuk swafoto. Pengunjung banyak menghabiskan waktu di sini sambil menikmati seduhan kopi lokal yang ditemani penganan ringan seperti singkong dan pisang goreng.

Kedua Kepala Balai bersepakat untuk mengeksplor lebih detail lagi, dan segera menurunkan tim peneliti untuk melakukan evaluasi terhadap keunggulan kopi Sirap. Selanjutnya akan menjadi agenda kegiatan penelitian sampai dilakukan pelepasan varietas unggul kopi robusta Sirap. Semoga upaya ini mendapat dukungan juga dari masyarakat dan pemerintah setempat, sehingga kopi Sirap dapat bertengger pada jajaran kopi-kopi unggul Indonesia.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar  (Balittri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *